GARUDAKU….INDONESIAKU

GARUDAKU….INDONESIAKU

Garudaku…..Indonesiaku
Saat ini ibu pertiwi sedang menangis pilu…
Karena melihatmu tak segagah dulu
Karena melihatmu tak seperkasa dulu….
Karena anak bangsa tak lagi bangga pada garudaku Indonesiaku…..
Garudaku ……Indonesiaku
Akupun jadi jengah apabila tak bisa menjawab tanya
Dari saudara – saudara kita yang ada diluar sana
Ketika mereka kembali ke negeri Indonesia raya
Kenapa garuda indonesia telah berubah warna
Kenapa warnanya berubah menjadi merah menyalah
Kenapa tubuhnya berlumur darah menahan amarah
Kemana warna emas yang melekat ditubuhnya
Garudaku……Indonesiaku
Bagaimana kalau pertanyaan yang sama keluar juga dari anak cucu kita…..
Apakah boleh baju kebesaran garuda berganti warna…
Siapa yang telah mengganti warna emas yang jaya …..
Kenapa harus berganti warna menjadi merah menyala
Ah….inginnya nanti kuberitakan pada mereka semua
Bahwa warna Garuda telah dirubah oleh sang penguasa
Karena sang penguasa ingin kelihatan gagah…..
Karena sang penguasa ingin menjadi juara….
Karena sang penguasa ingin memimpin negeri kita……
Dengan menghalalkan segala cara….
Walau mungkin telah mencederai pahlawan bangsa
Walau mungkin telah keluar dari koridor yang seharusnya
Walau mungkin juga membuat dirimu, diriku dan diri kita semua menajdi terluka…..
Luka anak bangsa yang suatu saat akan menjadi bara
Bara yang nanti suatu saat akan menjadi kekuatan luar biasa
Kekuatan yang luar biasa yang menginginkan ditegakkan kembali demokrasi Pancasila
Garudaku…….Indonesiaku
Sungguh aku kasihan padamu, pada anak bangsa yang tak berani berbuat apa – apa
Untukmu….untuk kebesaran negara tercinta kita
Mereka semua seaakan bungkam ketika melihatmu tersandera oleh kepentingan sang penguasa
Garudaku …..Indonesiaku
Berbesar hatilah….terimalah…..dan makhlumilah…….ulah mereka
Inilah potret para anak bangsa yang telah meneriakan dengan keras …. garuda di dadaku….
Garuda kebanggaanku…….tetapi maksudnya bukan garudaku ..Indonesiaku
Tetapi Garuda merah ….membara….menyala…..
Tetapi….aku percaya, diantara mereka yang telah melupakanmu …..
Masih banyak pemuda – pemuda yang benar – benar punya hati jernih, punya nyali …..akan membelamu
Yang akan membasuh merah darah ditubuhmu…..
Mengembalikanmu dengan warna keemasanmu….
Garudaku…….Indonesiaku…….selalu untukmu…MERDEKA!!!!!!!!

Dipublikasi di motivasi | Tinggalkan komentar

Ketika Cinta Harus Menunggu Episode 4

4.Biarkan mimpimu Terbang
Pagi itu tidak seperti biasanya , Danang menuju ke sekolah tempatnya mengajar tidak memakai ninja kesayangannya, tetapi dia naik sepeda gunung . Dengan santai dia mengayuh sepeda gunungnya.
Udara pagi terasa segar menyapu wajahnya, sejenak danang merasa lapang, sesak hati beberapa waktu yang lalu mulai menguap.dengan perlahan dihirupnya udara pagi yang segar kuat – kuat. Hemz……………..segar terasa sampai kerelung hati yang paling dalam.
Sampai sekolah waktu masih menunjukkan angka 6.15. masih pagi, murid – muridnya belum ada yang datang apalagi rekan – rekan gurunya. Terlihat pak ujo pesuruh sekolah sedang menyapu halaman. Pak Ujo mengangguk memberi hormat pada danang.
“Wah janur gunung nak guru Danang, kok sudah datang, masih pagi lo “, seru pak Ujo setengah menggoda
“sengaja pak…..,cari udara pagi sambil olahraga ‘, jawab Danang sambil memarkir sepeda gunungnya.
Danang mendatangi pak Ujo, bersalaman.Pak Ujo menatap Danang lekat – lekat, dia tahu cerita tentang penyebab Danang sakit. Rasa sayang pak Ujo kepada Danang yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri, membuat pak Ujo gak bisa menahan diri untuk tidak merangkul Danang.
Dua orang laki – laki dewasa itu saling berangkulan, pak Ujo sambil mengusap – usap punggung guru muda yang dia sayangi itu berbisik
‘sabar……yo le.., sabar……., eling”.guman pak Ujo
Dan kedua orang dewasa yang beda usia, yang beda kedudukan itupun duduk bersandingan, saling menguatkan, saling mendukung. Dan perasaan Danang sedikit lega karena masih ada orang yang empati pada penderitaan batinnya.Tidak peduli siapa itu orangnya.
Siang itu Danang dapat menyelesaikan harinya dengan lancar. Teman – temannya semua menghibur., semua teman guru menyayangi guru ganteng yang satu ini, apalagi murid – muridnya semua sayang, makhlum Danang merupakan satu –satunya guru yang pintar bermain musik, hampir semua alat musik dia kuasai, sehingga kadang – kadang Danang mengajak anak muridnya bernyanyi dengan diringi petikan gitarnya, sedang Ety tidak masuk untuk beberapa hari, ijin pulang ke Jogjakarta. Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Dan bentuk urusan macam apa tidak ada yang tau, dan Danangpun tak peduli dan tak mau peduli.
Hari – hari selanjutnya Danang bisa lalui dengan enjoy tanpa kendala yang berarti. Bahkan saat Ety sudah masuk kerjapun, Danang tidak terusik .Danang tetap santai. Tak ada senyum manis apalagi kata – kata menghibur, Ucapan sekedar say hello saja tidak keluar dari mulutnya apalagi untuk berbasa basi menyapa Ety.
Danang selalu datang paling pagi dan pulang sekolahpun dengan sesegera mungkin, apabila dia sudah merasa menyiapkan segala penunjang kegiatan belajar mengajar untuk besok langsung dia akan pamit pulang.
Kursi kebesaran di ruang gurupun sekarang jarang dia sentuh. Sebagai guru kelas setiap hari begitu datang Danang langsung masuk kelas, sehingga kesempatan untuk ngobrol atau sekedar share dengan teman sesama guru untuk masalah yang mungkin ditemui di kelas, tidak diagunakan. Tetapi semua temannya bahkan kepala sekolahnya menyadarai keadaan Danang, dan mereka semua bisa menerima.
“Day……..ntar aku ikut yah pulang sekolah “, kata Ety dengan memakai nama panggilan kesayangan ketika berpapasan dikoridor depan ruang guru.
“ikut kemana….?’.jawab Danang santai.
‘ke rumahmu……ni ada oleh 2 dari jogja’, jawab Ety kemayu.
“aku bawa sepeda, kalau kamu ikut mau naik mana ? ban apa stir”, jawab Danang sengak sambil berlalu meninggalkan Ety yang bengong.
Sungguh tidak sopan terdengar ditelinga. Kata orang tua gak punya unggah ungguh.. Ety yang merasa diperlakukan tidak adil itu cemberut, dan tanpa sadar ditendangnya daun pintu ruang guru yang persis ada didepannya, rupanya tendangan Ety cukup kuat, Ety merasa kesakitan, sambil meruntuk dalam hati dielusnya kakinya
“ sialan”. umpatnya lirih, dan Danang yang merasa tidak terjadi apa – apa dengan santainya ngeloyor pergi, meninggalkan Ety sendiri yang uring – uringan.
“tak berperikemanusiaan ‘, sekali lagi Ety mengumpat lirih.
Sedangkan suara jedor yang cukup keras akibat tendangan maut Ety tadi ternyata cukup mampu juga mengagetkan teman – teman guru yang sedang duduk santa istirahat di ruang guru, mereka saling berpandangan dan ada beberapa yang tertawa cekikikan, seakan meledek Ety.
“Ada apa bu Ety, sepertinya ada gempa yah”, goda pak Harun guru olaharaga yang berbadan besar dan berkulit hitam.Ety diam dan dengan tetap pasang muka asam dia langsung ngeloyor pergi keluar. Pura – pura tidak mendengar .
Pak Ujo yang melihat dari jauh hanya tersenyum girang.Danang menuju tempat parkir, diambilnya sepedanya dan dikayuhnya pelan.
“monggo pak Ujo….kulo riyin nggih”.
“monggo..monggo..nak guru, hati – hati “.
Siang itu akhirnya Ety nebeng pak Edy , guru baru pindahan dari kota Batu. Ety minta diantar kerumah Danang. Untuk mengantar oleh – oleh dari jogja titipan mamanya untuk calon besan katanya.
Sudah hampir satu jam Ety menunggu Danang, perasaan gelisah sudah menggelayut manja dihatinya tetapi yang ditunggu gak datang – datang . Ibu Danang merasa prihatin dan hanya mampu basa – basi untuk menenangkannya. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman antara anaknya dan calon mantunya.
Danang pulang ketika waktu sudah menjelang sore. Masuk ke rumah dengan memberi salam lebih dulu, terus mandi, dan langsung ganti baju.
“arep nang endi maneh anakmu bu, baru juga sampai rumah’. Gerutu bapak
‘yo ditanyain dewe to pak, aku ra wani”. Jawab ibunya
“kamu itu lo sama anak kok gak berani, wis kuwalik piye dunia iki, wong tuwo ra wani ngandani anak’, suara bapak makin kesal.
Ibu diam langsung ngeloyor pergi ke dapur, menyiapkan makan malam.
“kamu mau kemana, mbok yo istirahat dulu, opo ra kesel to “, Tanya bapak
Danang diam sejenak lalu menjawab sekenanya “cari hiburan, sumpek di rumah “,
“tadi Ety nunggu kamu lo, hampir 2 jam, coba kamu kesana, ketempat kostnya, cari tau ada apa “. Bapaknya mengingatkan kehadiran Ety.
“Cari tau apa, tadi kan juga ketemu di sekolah, gak ada apa – apa, dia kan ngantar oleh – oleh buat jenengan to, gitu aja kok diributkan”.
Tanpa menunggu lama, langsung Danang keluar, dikeluarkannya motor ninjanya dari garasi, sebentar kemudian sudah melesat di jalan raya.
Bapak , ibu serta adik Danang bukan tidak merasa ada perubahan yang amat besar pada diri Danang. Danang yang dulu ramah selalu santun dan menurut orang tua, sekarang ada pemberontakan – pemberontakan kecil, cuek dan masa bodoh
. Kedua orang tua Danang tak dapat berbuat banyak, Danang mulai melakukan aktivitasnya saja sudah cukup menghibur hati mereka. Untuk lainnya biarlah sambil jalan, lama – lama juga danang akan mengerti , bahwa hidup itu tak semudah dia mengucapkan kata, jadi apa yang dia inginkan tidak dapat dengan mudah terpenuhi semua, tidak hanya urusan pribadi yang jadi patokan, tetapi banyak pertimbangan yang harus dan perlu dipikirkan, ada orang lain disekitar kita, tidak hanya orang tua dan saudara tetapi banyak lagi.
Disisi lain, Ety .lama – lama mulai gak tahan diperlakukan seperti itu sama Danang, tidak dianggap sama sekali keberadaannya. Benar – benar menyakitkan hati. Walaupun sekarang Danang sudah tidak lagi bertelepon ria dengan Ratih, tetapi sikap cuek Danang dirasakan lebih menyakitkan hati Ety.
Tanpa ekspresi, dingin dan rasa penasaran Ety untuk dapat melihat tatapan teduh dan senyum yang menenangkan dari Danang sepertinya tak akan pernah terwujud, bagaikan keinginan untuk melihat tumbuhnya jamur dimusim kemarau. Hal yang mustahil.
Dibatas kesabarannya sengaja siang itu Ety menggoda pak Edy, dia ingin melihat Danang cemburu. Bukankah sampai saat ini dia masih pacar Danang, walau belum tunangan, tetapi Ety percaya 100 persen, mana mungkin Danang tidak cemburu melihat pasangannya bersama orang lain, bukankah itu sudah menyangkut harga diri seorang laki – laki.
“pak Edy……nanti bareng yah, kebetulan rumah kita kan searah”, rengek Ety manja dan sedikit dibuat – buat.
Pak Edy tersenyum pakewuh , sebelum menjawab dia menoleh ke Danang minta persetujuan. Danang memandang heran, tak mengerti,
“kenapa pak Edy?’ Tanya Danang.
“nih bu Ety mau bareng diijinkan gak ?’.
“O….itu, silahkan …silahkan, terimakasih yah pak sebelumnya, sudah bersedia mengantar bu Ety.sekali lagi terimakasih “. Danang menjawab dengan entengnya.
Ety mendelik memandang Danang, semakin membuncah amarahnya.Ingin dia mencakar muka Danang, tapi dia tak berani melakukan. Ety langsung menarik tangan pak Edy, mengajak pergi tanpa menoleh kearah Danang lagi dengan perasaan yang campur aduk, ada marah, geram, mangkel, kecewa dan sakit hati.
Danang hanya mampu tersenyum. Dijentikan jarinya, tanda dia puas. “YES “ soraknya dalam hati, kegirangan.
Hari – hari selanjutnya hubungan Danang dan Ety makin renggang ,tanpa pertengkaran, tapi juga tanpa komunikasi yang harmonis, tanpa basa basi, keduanya saling menjauh. Saling menghindar.Kadang kalau tanpa sengaja berpapasan ,Danang melempar senyum, dan sungguh Ety sangat tidak suka karena senyum Danang benar – benar jauh dari kata manis. Kalau boleh jujur sih lebih tepatnya bukan senyum tapi meringis .Ih……membuat hati Ety makin mangkel dan geram.
Bahkan akhir – akhir ini lebih terlihat keakraban Ety dan pak Edy. Sebetulnya pak edy tidak terlalu jelek, bahkan cukup simpatik, sabar dan agak pendiam. Jadi sangat klop bila harus berkolaborasi dengan Ety yang cerewet, egois , posesif dan agak manja.
Pak Edy bisa ngemong Ety .Dan sangat kelihatan sekali kalau Ety akhirnya merasa lebih nyaman dengan pak Edy. Yang kata orang pak Edy lebih dapat mengharagainya sebagai perempuan yang memang ingin selalu disanjung.
Dan itu sangat bahkan amat sangat menggembirakan Danang, paling tidak dia tidak perlu bersusah payah untuk lari dari ikatan Ety. Tak perlu lagi memberikan alasan atau mungkin pengertian kepada siapapun atas ketidakcocokan antara dia dan Ety.
Dia tidak akan dipersalahkan oleh keluarganya ataupun keluarga Ety. Apabila pertunangan yang sudah digadang – gadang kedua orang tua itu tak terwujud. Dengan alas an tidak ada kecocokan lagi maka semuanya akan berakhir dengan damai, tanpa perselisihan ataupun dendam.
Danang benar – benar menikmati hari – harinya, bahkan kesendiriannya dirasakan amat sangat melegakan. Amat sangat menyenangkan .Danang benar – benar merasa bebas.
Merdeka. Merdeka hati .Merdeka waktu. Merdeka badan. Gak perlu bersusah payah mengatur waktu untuk ini itu, apabila saat ini suka ayo. Apabila gak suka ya sudah.
Danang dengan bebas membawa hati dan ingatannya mengembara kekenangan ketika bersama Ratih. Ketika hujan dan berpayung berdua .Ketika memasak bersama. Ketika menikmati tahun baru dengan menyususri jalan di pusat kota Bandung. Ketika bermain bulutangkis bersama di halaman depan kost.
Minggu pagi , Danang dan Ratih bermain bulutangkis. Tidak imbang sebetulnya .Danang yang jangkung melawan simungil Ratih. Tapi memang cewek ayu satu ini kecil – kecil cabe rawit, selalu dia bisa mengembalikan pukulan danang dengan manis. Danang sangat salut dan kagum dengan kelincahan ratih. Cewek mandiri tidak manja, pintar dan baik hati.
Usai bermain bulutangkis Ratih menyeka keringatnya sambil duduk selonjor dan menyandar di tiang net. Pipinya yang bersih kemerah – merahan menambah nilai ayu pada dirinya, dan ini membuat danang makin geregetan campur gemes, inginnya tangan danang mencubit pipi ranum itu ,danang menghampiri dan duduk tepat didepan ratih, diangsurkannya air mineral kesukaan ratih.
Ratih menerima dengan senyum tulusnya’ Makasih yang mas”.
“sama – sama sayang’. Jawab Danang.
Ratih mendengar Danang memanggilnya dengan sebutan sayang, mendelik protes. Danang menggoda lagi
“ada apa sayang, minta diambilkan apa, mas Danang siap sedia kok. sungguh “, goda Danang lagi.
Ratih gak tahan digoda dengan segera dicubitnya keras – keras pinggang Danang. Aneh cubitan yang didaratkan Ratih cukup keras, tapi Danang sama sekali tidak kesakitan, malah cengengesan. Kesenangan. HERAN!!!
Ah ……..desah panjang Danang sambil mengusap pinggangnya, seakan masih terasa cubitan Ratih yang sudah beberapa tahun yang lalu itu. Inginya dia mengulang kembali memori itu. Inginnya dia memutar waktu kembali kekenangan manis bersama Ratih.
Kegiatan Ratih sehari – hari masih sama, sebagai ibu guru taman kanak – kanak yang sabar, yang disayangi anak didiknya, dan yang disegani teman temannya. Bukan Ratih sudah lupa dengan Danang, tetapi ratih lebih realistis, dia sudah bisa menentukan sikap,menerima aris sebagai calon pendampingnya. Karena ada perasan Ayah dan ibunya, ada perasan kakaknya, dan orang tua Aris yang harus diperhitungkan.
Usai mengajar ratih dipanggil kepala TK, Ratih ditugaskan untuk mengikuti workshop tentang model – model pembelajaran di TK, tempatnya di hotel satelit surabaya, selama tiga hari.
Karena masih dalam kota, sebetulnya Ratih ingin pulang kerumah, jadi tidak usah ikut nginap di hotel seperti peserta lainnya yang datang dari luar kota, tetapi karena aturannya semua peserta harus nginap di hotel yah Ratih harus taat pada peraturan panitia penyelenggara workshop.
Ratih dapat teman tidur satu kamar dari kota malang. Orangnya cantik dan periang .tidak memerlukan waktu yang lama untuk dapat akrab dengan Nita, guru TK yang periang dari malang itu. Dengan seketika Ratih langsung merasa saling cocok.
“Jadi bu Nita mengajar di TK melati, ibu kenal sama bu Wiwik yah ‘ TanyaRatih yang mempunyai teman mengajar di TK Melati, namanya bu Wiwik. Yang kebetulan juga kakak tingkatnya waktu kuliah di UPI dulu, tepatnya sih teman satu angkatan dengan Danang, walau beda jurusan.
“ea beliau kepala TK ku”
“kalau begitu ……titip salam yah nanti bila sudah pulang “.
“beres deh…….walau gratis dijamin tetep nyampek kok ‘, gurau bu Nita.
Dan kedua teman baru itu saling tergelak. Tertawa terbahak – bahak. Siapapun yang melihat mereka ikut tersenyum gembira melihat keceriaan dua guru ayu tersebut.
Tanpa terasa dua hari sudah terlewati , Nita dan Ratih mengikuti materi workshop dengan enjoy dan kebetulan pematerinya juga sangat pandai dan cukup humoris dalam menyampaikan sehingga tidak membosankan.
Hari ketiga acaranya Cuma penutupan, jadi checkout dari hotel masih pagi pukul 10.00. Ratih menawari Nita untuk main kerumahnya, nitapun tidak menolak ajakan ratih, akhirnya dengan jasa taksi mereka pulang. Sengaja Ratih tidak minta jemput mas Aris , karena dia tahu persis bahwa tunangannyaa pasti sibuk .
Sampai rumah Ratih langsung membantu ibu masak didapur, menyiapkan makan siang untuk tamunya , sedangkan Nita asyiik menunggu Ratih di kamar dengan melihat – lihat album foto Ratih, tetapi betapa kagetnya Nita ketika melihat foto Ratih dengan Aris. Foto pertunangan itu cukup membuat Nita tertohok hatinya, tiba – tiba dia merasakan napasnya sesak, lemas seluruh persendian tubuhnya, matanya berkunang – kunang, ada pilu yang amat sangat disudut hatinya.Tanpa terasa ada butiran air mata yang menetes dipelupuk matanya. Ah………………begitu memprihatinkan.
Ratih membawa baki berisi minuman sirup dingin dan satu toples camilan, langsung dibawa kekamarnya, namun betapa terkejutnya kala dia melihat Nita teman barunya, guru TK Melati Malang yang sedang menangis sedih. Dengan perlahan ditaruhhnya baki diatas meja riasnya, dia menghampiri Nita, dan dipeluknya pundaknya.
“Ada apa bu……, ada yang salah dengan foto – foto ini?’, Tanya Ratih hati – hati
Nita untuk sesaat tidak bisa menjawab, ditutupnya pelan album foto berwarna biru dipangkuannya itu, dia menatap Ratih sahabat barunya, yang baru 3 hari yang lalu dikenal, dan baru kali ini Nita berkunjung kerumah Ratih, dan setelah sekian lama tak mendengar kabar Aris baru hari ini juga Nita mengetahui kabar Aris walau lewat foto, dan itu sudah mampu mengguncang persaannya, hatinya terkoyak – koyak, dan Nitapun tak kuasa untuk tidak menumpahkan air mata.
Yah Aris pemuda Blitar yang dia kenal tiga tahun yang lalu, Aris teman kakaknya mas Heru di AKPOL Semarang, dulu Aris sering main kerumahnya , yang awalnya saling berkunjung antar teman, tetapi lama kelamaan sudah beda misinya, yaitu ingin mendekati Nita. Yang akhirnya Nita dan Arispun menjalin sebuah hubungan romantic.
Hampir tidak ada kendala, baik dari keluarga Nita maupun keluarga Aris sendiri. Hari – hari mereka lalui dengan harapan dan kebahagiaan. Sampai akhirnya keluarga Nita minta keseriusan Aris, untuk datang melamar dan menikahi putrinya , tetapi ternyata aris belum siap, Aris masih mau menata kariernya dulu, Aris masih mau mencari pengalaman hidup dulu, sehingga dengan terpaksa tanpa ada pemberitauan dulu Aris yang dapat tugas di Surabaya dengan begitu saja pergi meninggalkan Nita, yang kemudian dijodohkan dengan seorang calon dokter “Tommy”namanya, yang putra dari sahabat orang tua nita dari malang juga yang kuliah di Unibraw.
“He….ada apa, kok sedih, ada yang salah dengan album foto ini, atau mungkin rumah saya” Ratih membuyarkan lamunan Nita, sambil tangannya menjangkau album foto yang ada dipangkuan Nita.
“gak ada….maaf, sentimentil, tiba – tiba aku teringat ibuku, aku iri mlihat keakraban sampean dengan ibunya’, elak Nita halus
Ratih tersenyum lega “ Memangnya sudah kangen sama ibunya nih, padahal kan baru 3 hari, manja amat”, goda Ratih lega
“ibuku sudah meninggal 8 bulan yang lalu’, kata Nita sambil menunduk menahan airmatanya agar tak tumpah.
Ratih terdiam, “sorry yah aku gak tau”. Kata Ratih menyesal
Nita menggeleng pelan, , kemudian dia meraih kembali album foto yang sudah ada ditangan ratih, dibukanya lembar demi lembar.
“ini foto tunanganmu yah”, tunjuk nita mengarah ke foto Aris
Ratih tersenyum mengangguk
“Dia seorang perwira polisi, berdinas dimana ?’, selidik Nita
“Di POLDA, ntar aku kenalin yah”.
Belum sempat nita menolak , tiba – tiba pintu kamar ratih sudah ada yang mengetuk dari luar, Ibu Ratih memberitahukan bahwa ada tamu di luar.
Ternyata Aris yang datang, dia mau memastikan ratih sudah pulang dari workshop dengan selamat apa tidak , ternyata tidak terjadi apa – apa. Aris lega karena Aris merasa tidak dapat menjemput pujaan hatinya .Ratih tersenyum lebar, digandengnya tangan Aris mesra dan manja.Aris merasa bahagia.
“ayo aku kenalin dengan teman workshopku, dia guru TK yang ayu”.
“ayu mana dengan calon istriku ini”, goda Aris sambil memijit hidung Ratih. Ratih tersenyum manja.Dipukulnya lengan Aris manja. Aris kesenangan bukan kepalang karena jarang – jarang Ratih bersikap manja seperti itu.
Aris duduk sofa dekat kamar Ratih, menunggu Ratih yang memanggil teman barunya dari kamar.
Ratih bergandengan dengan Nita keluar dari kamar Aris menyambut kedatangan mereka dengan pandangan terkejut begitu tau bahwa teman baru tunangannya adalah Nita , gadis ayu yang dulu pernah dipacarinya selama 1 tahun.Untung ratih tak menangkap kegugupan Aris.
“bu Nita kenalkan ini mas Aris, mas aris kenalkan ini bu Nita teman workshopku dari malang’. Kata Ratih mengenalkan.
Ratih menangkap kecanggungan diantara Nita dan Aris
Aris bersalaman dengan Nita, “ hey…apa kabar “, Aris mencoba bersikap normal
Nita mengangguk sopan, tersenyum tipis “Alhamdulillah ..baik”, jawab Nita pendek.
Sementara Aris dan Nita saling berbasa basi, Ratih meninggalkan mereka berdua , menuju dapur untuk menyiapkan minuman kesukaan Aris, orange juice
“Gimana kabar suamimu, kalian bahagia kan “, kata Aris pelan sambil menatap wajah Nita dengan lekat.
“Suami. Suami yang mana…….”, jawab nita tak kalah pelan.
Aris memandangi Nita dengan tatapan yang tak menentu .Bingung.
“lo kata Heru kamu akan menikah, kata heru calonmu seorang dokter, karena itu aku gak berani mendekatimu lagi, walau hanya sekedar untuk berpamitan, aku merasa kecil bila dibandingkan dengan doktermu itu “, suara Aris pelan agak parau, ada rasa sakit disitu.
Nita menghela nafas “ benar mas,tapi itu hanya tinggal kenangan, karena mas Tomy meninggal setelah kecelakaan maut itu”, lirih Nita menjelaskan
“maksudnya?’, kejar Aris, suaranya mulai terdengar normal.
“Waktu itu mas Tomy bersama keluarganya mau melamar aku, ketika tiba – tiba mobil yang dia kendarai diseruduk truk bermuatan semen, saat itu juga mas Tomy meninggal dunia, tidak tertolong, sedang mama papanya perlu dirawat karena mengalami gegar otak ”.cerita Nita sambil menyeka airmatanya yang tiba – tiba sudah membasahi pipinya.
Aris termangu, ingin dia membantu mengusap airmata itu, tapi tangannya keluh tak mampu, yah dia sudah tak boleh lagi menyentuh pipi halus milik gadis ayu itu, karena dia sudah punya ratih yang tak kalah ayu, yang baik, yang sabar, dan banyak yang..yang.. lagi.
Tanpa sepengetahuan Nita dan aris, rupanya ratih sudah mendengar semua percakapan mereka berdua. Ratih hanya mampu menghela nafas panjang. Ratih tak kuasa untuk tidak hanyut dalam cerita pilu Nita. Yang jadi pertanyaan ratih sekarang adalah ada hubungan apa antara aris dan Nita sebenarnya, kenapa mereka seakan – akan berusaha untuk menutupi sesuatu.
Siang itu selepas makan siang Nita berpamitan pulang ke Malang, ratih berusaha untuk menahannya untuk menginap di rumahnya, tetapi Nita tak bersedia.Ratih menawarkan untuk mengantar, toh besok juga hari minggu, jadi sekolah libur.Ratih minta tolong pada Aris untuk mengantar , Aris tidak bisa menolak , untuk menjaga agar pujaan hatinya tidak curiga, akhirnya Aris menyetujui.
Siang menjelang sore itu xenia hitam Aris membelah kota Surabaya, melaju menuju malang. Ratih duduk disamping aris, Nita duduk dibelakang persis tempat duduk ratih. Sepanjang perjalanan itu yang banyak bercerita ratih. Ratih berusaha menjadi tuan rumah yang baik, dijelaskan pada nita setiap sudut kota Surabaya, Surabaya yang panas, Surabaya yang macet dan Surabaya yang bising dan kotor, karena tumbuh suburnya pabrik – pabrik di sekitar rungkut industry, dan masih banyak lagi. Nita hanya menanggapi sekali – kali. Sedangkan Aris diam, tenang, ada sedikit gelisah disudut hatinya.
Tiba – tiba ketika lewat jalan ahmad yani, didepan POLDA, Nita berceletuk “ Nih kantornya mas Aris yah, kalau mas Heru sekarang ada di……”, Nita tidak jadi melanjutkan ceritanya ketika dia sadar bahwa ada Ratih yang tidak tau apa – apa tentang hubungan mereka
Aris terdiam, diliriknya ratih. Untuk sesaat ratih tidak merespon , yang kemudian
“ea ini kantor mas Aris, terus mas Heru itu siapa yah ?, Tanya ratih sambil menoleh kebelakang, menatap Nita
“o …maaf , maaf…, mas Heru itu kakakku, dia juga seorang polisi, tapi dinasnya di semarang tadi aku asal aja cerita’. Jawab Nita sekenanya.
Aris melihat Nita dari kaca spion, dia tak tega dengan apa yang dirasakan Nita, tapi dia juga tak bisa berbuat apa – apa, Nita adalah cinta pertamanya, Nita adalah gadis yang pernah dia perjuangkan cintanya, tetapi sekarang Aris hanya mampu membantu luka nita dengan pandangan penuh rasa sayang, tidak bisa lebih.
Selanjutnya sepanjang perjalanan itu, masing – masing diam, asyik dengan pikirannya sendiri – sendiri. Tiba – tiba ketika melintasi kebun raya purwodadi ada yang berdesir dihati Nita danAris.
Masing – masing merasakan ada keterikatan , tanpa dikomando mereka saling melempar pandang, menelanjangi kebun raya purwodadi. Aris dan Nita seakan melihat album perjalanan cinta mereka.
Saat itu hari minggu .tangan Aris dengan erat menggenggam tangan Nita, mereka berdua menyususri jalan setapak, dibawah kerindangan pohon – pohon besar itu, mereka saling bercerita, bercengkerama, sedang disudut yang lainnya juga ada banyak pasangan muda mudi yang memadu kasih. Sebentar – bentar Nita dan aris saling cekikikan dan tangan nita tak henti – hentinya mencubit pinggang aris, mereka terlihat sangat bahagia.
Ratih bukan tidak menyadari gerak gerik Aris yang selalu melihat kebelakang melalu kaca spion, tetapi ratih mencoba untuk menerka hubungan macam apa yang sudah terjalin diantara mereka sebelumnya. Ratih adalah gadis yang cerdas dan bijak, dia tidak pernah grusa grusu dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan, bahkan keinginan Ratih untuk mengantar Nita dengan melibatkan Aris inipun bagian dari rencananya untuk mengetahui bentuk hubungan mereka.
Ratih sudah cukup dibuat curiga dengan sikap Nita yang tiba – tiba sedih ketika harus melihat album fotonya, lalu percakapan mereka yang secara tidak sengaja ditangkapnya, dan celetukan Nita ketika melewati POLDA , dan lirikan mata mereka berdua ketika melewati kebun raya Purwodadi. Sebetulnya Ratih sudah cukup mampu untuk menyimpulkan, tetapi Ratih tetaplah Ratih gadis santun yang selalu berhati – hati dalam bersikap
Xenia hitam itupun melaju dengan cukup kencang , Ratih pura – pura tertidur, untuk sesaat dia merasa terharu dengan perhatian Aris, dengan sayang Aris menyelimuti tubuh Ratih dengan jaketnya dan dielusnya rambut halus sebahu milik Ratih. Dengan suara perlahan seakan takut membangunkan Ratih , Aris bertanya pada Nita.
“Masih tinggal di rumah mama kan”,
Nita yang memperhatikan perhatian Aris pada Ratih dengan penuh sayang itu, merasa tersakiti, dia ingin berteriak keras – keras, dia ingin menangis, dia ingin dipeluk Aris seperti yang dulu sering dilakukan Aris ketika dia sedih.
Tetapi pada Ratih, oh..tidak , dia teman baru yang baik, yang menyenangkan, dia tak ingin menyakiti hati Ratih. Toh dalam masalah ini Ratih sama sekali tidak bersalah. Sama Sekali.Karena Ratih hanya kebetulan masuk dalam kehidupan Aris yang sudah usaikan hubungan dengannya.
Ketika Nita tak menjawab pertanyaan Aris, Dia sudah membelokkan mobilnya kearah pabrik tetes lawang , Ketika ban mobil menyentuh rel kereta api ada lonjakan yang cukup keras yang dapat membangunkan Ratih. Ratih pura – pura menguap, untuk sejenak dia mengawasi kedepan. Ratih menoleh kearah Nita
“Sudah sampai mana bu Nita “,. Tanya Ratih
“tuh rumah cat hijau, sudah dekat kok, “, jawab Nita sambil merapikan rambutnya. Menyisir dengan jari – jari tangannya.
Ratih melipat jaket Aris.Lalu dia ikutan merapikan rambutnya dengan jari – jari tangannya yang lentik. Memakai kacamata.Aris tersenyum melihat Ratih.
“Gak usah dipakai ah kacamatanya, sudah cantik kok “, goda Aris.
Ratih tersenyum, dicubitnya pinggang Aris.Aris mengelak sambil dengan sigap tangannya menangkap tangan Ratih.Untuk sesaat Ratih merasa ketulusan Aris.
Sedangkan dibelakang terlihat Nita yang salah tingkah. Dia hanya mampu berdehem untuk menyadarkan dua sejoli itu bahwa ada kehadiran orang lain didalam mobil .
Tiba – tiba mobil sudah berhenti didepan rumah besar bercat hijau.Tepat didepan pabrik tetes. Aris dengan tangkas turun dari mobil , membukakan pintu untuk Nita
“terima kasih mas”, kata Nita setelah keluar dari mobil.
Ratih mau turun tapi dicegah halus Aris. “Kita cukup mengantar sampai disini saja kan sayang ?’,
Ratih mencoba memberi pengertian pada Aris, “ah ya gak bisa gitu dong mas, kita harus antar bu Nita sampai masuk, kita harus pastikan bu Nita baik – baik saja sampai rumah”,
“Ah gak usah bu Ratih, thanks uda mau ngantar sampai rumah, maaf gak bisa ngajak mampir nih”, Nita mencoba membantu Aris yang bingung
Belum terjadi kesepekatan diantara mereka bertiga, ketika pintu gerbang rumah Nita terbuka, Seorang dengan badan gagah menyeruak keluar.
Untuk sesaat pemilik badan tegap tadi tertegun yang akhirnya bersorak girang ‘
“ Hey….Aris.., gimana kabarnya brow , waduh tambah ganteng aja nih, ayo masuk “, teriaknya sambil merangkul Aris.
Aris balas merangkul .Untuk beberapa saat kedua teman lama itu saling mengobrol, tanpa menyadari bahwa ada Nita dan Ratih yang memperhatikan.
“Kok bisa sama – sama Nita , kamu ketemuan dimana ?”, Tanya Heru kemudian.
“Oh yah Her..kenalkan ini tunanganku Ratih”, kata Aris sambil membukakan pintu mobil depan. Dituntunnya Ratih keluar dari mobil.
“Kebetulan Nita dan Ratih berteman”, sambung Aris menjelaskan
Heru tertegun, dia mengagumi keanggunan Ratih, dilain sisi dia juga kcewa dengan keadaan Aris sahabatnya yang ternyata sudah bertunangan, dia juga kasihan dengan Nita adiknya yang harus menyaksikan mantan kekasihnya ternyata sudah bertunangan. RUMIT itu yang dirasakan Heru kakak Nita.
Heru hanya mampu menggapai pundak Nita.Memberi ketenangan dan support pada adik semata wayangnya. Setelah bersalaman dengan Ratih.
“maaf untuk saat ini aku gak bisa mampir, lain kali insya allah aku akan sengaja main, ia kan sayang”, kata Aris minta persetujuan Ratih
Ratih hanya mengangguk, dia sungguh merasa tak nyaman dengan kondisi petang ini .Kondisi yang menyudutkan dia. Ratih merasa seolah – olah perampas kebahagiaan keluarga Nita.
Ratih bisa menangkap kekecewaan yang tergambar jelas diwajah Heru, wajah kesakitan yang terpancar dari mata Nita. Dan wajah kebingungan serta rasa bersalah yang tergambar di raut muka Aris .Itu semua terekam kuat di hati Ratih.
Dalam perjalanan pulang Ratih lebih banyak diam. Diam…..seribu bahasa.Ingin dia mendengar pengakuan Aris tentang hubungannya dengan Nita.Ingin dia bertanya langsung tapi mulutnya seakan terkunci.
Arispun tak kalah sibuk pikirannya, masih tergambar jelas diingatannya, betapa gembiranya Heru bertemu dengannya seperti beberapa tahun yang lalu, betapa sedihnya Nita menapaki hidupnya yang ditinggalkan tunangannya dengan cara yang tragis. Tetapi Aris juga dapat melihat pengharapan yang besar dimata Nita atas keberadaan Aris kembali dalam hari – harinya.
Ketika keheningan itu menyelimuti mereka berdua ,ketika pikiran Aris dan Ratih masing – masing asyik dengan petualangannya, tiba – tiba mereka dikagetkan dengan suara klakson mobil dibelakangnya yang memberitahu bahwa lampu merah sudah berganti dengan hijau.Tanda mobil harus jalan.
Ratih menoleh ,menatap Aris dengan lembut.
“ kamu capek kan mas, sudah istirahat dulu, kita cari makan sekalian sholat ”. Lembut terdengar suara Ratih, cukup menenangkan . Tetapi bagi Aris cukup menampar perasannya. Untuk sesaat dia merasa bersalah pada kekasih hatinya atas kejadian yang tidak disengaja petang ini.
Anton sedang asyik makan di Mc. Donald Surabaya Plaza, ketika dia melihat sesosok bayangan yang tak asing sedang bertepuk tangan, kelihatan sedang memandu acara ulang tahun anak – anak TK.
Anton menatap lekat – lekat sambil mulai berfikir mengingat – ingat siapa sosok yang dirasa sangat familiar itu. Dan ketika dia menemukan jawabnya , hati Anton berbunga – bunga, dia tersenyum gembira, nyaris tertawa sendiri, sehingga mengundang banyak tanya diantara pengunjung Mc. Donald sore itu, mahklum Anton memang makan sendirian.
Anton pindah tempat duduk agak kesudut, menunggu acara ulang tahun di room party selesai.
Waktu menunjukkan angka 5.20 ketika pesta ulang tahun itu usai. Ratih sibuk merapikan bawaannya , dan bersalaman dengan beberapa orang tua wali murid yang mengantar ulang tahun. Berbincang sebentar dengan rekan guru, yang akhirnya saling berpelukan dan berpisah, berpamitan pulang ke rumah masing – masing.
“bisa dibantu non “, sebuah suara mengagetkan keasyikan Ratih yang sedang menata bawaannya.
“tidak, terimakasih “, jawab Ratih ramah sambil menoleh memandang pemilik suara yang baik hati, yang telah menawarkan jasanya.
Tetapi…deg, jantung Ratih seakan mau melompat keluar saking kaget bercampur gembira begitu tahu siapa pemilik suara tadi.
“Hey…Anton..”, seruRatih.
”benar, kamu Anton kan?,Ratih berusaha meyakinkan. Makhlum badan Anton sekarang makin tambun dan kulitnya yang dulu bersih sekarang agak kecoklatan, tapi kelihatan makin macho.
“benar….benar sekali, wah makasih yah masih mengingatku dengan baik”.
Yah Anton sudah banyak berubah, postur tubuhnya agak gemuk, kulitnya agak gelap, dan kelihatannya makhluk paling lucu yang pernah dekat dengan Ratih inipun mulai merokok, terlihat dari bibirnya yang agak kehitaman.
Jauh …..jauh sekali perbedaannya dengan anton yang mahasiswa dulu, yang putih bersih, walaupun cowok kulit anton halus sekali saat itu dan cukup membuat iri teman – teman cewek.
Untuk sesaat dua sahabat itu tak banyak bicara hanya saling berpandangan sambil tetap bersalaman, sampai ketika ada suara berdehem menyadarkan mereka
“sudah selesai sayang acaranya”, tanya Aris menjejeri Ratih. Kedua sahabat itupun dengan serentak melepaskan genggaman tangan mereka.
“eh mas…sudah. Oh yah kenalin ini Anton sahabatku waktu di Bandung, Anton kenalin ini mas Aris tunanganku”, Ratih mengenalkan mereka berdua
Dan dengan segera kedua pria pemuja Ratih itupun saling bersalaman. berbincang – bincang sebentar dan akhirnya mereka saling berpamitan.
“Anton kapan – kapan main kerumah yah”, seru Ratih
“beres”, jawab Anton sambil mengacungkan ibu jarinya.
“wah ..wah bidadariku ini ternyata banyak penggemarnya nih, aku harus ekstra hati – hati jaganya, kalo gak mau diserobot cowok lain yah’, goda Aris
“apaan sih mas, dia itu sahabatku waktu kuliah, emang gak boleh yah aku ketemuan dengan teman lama’, Ratih merajuk
‘enggak gitu sayang, boleh kok, aku tadi hanya becanda, maaf yah, jangan marah dong ‘, Aris takut Ratih marah
Ratih tersenyum, puas bisa menggoda Aris. .Aris hanya mampu tersenyum kecut. Dan sore itu semakin membuncah saja kekaguman Aris dengan pribadi tunangannya ini. Selain bisa menjaga hati pasangannya juga dijamin setia.
Sayup – sayup terdengar suara fatin Sidqiah pemenang x faktor dari kamar adiknya sampai di kamar Danang.
Memilih Setia
Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta
Mungkin engkau adalah salah satunya
Namun engkau datang disaat yang tidak tepat
Cintaku telah dimiliki
Inilah akhirnya harus kuakhiri
Sebelum cintamu semkin dalam
Maafkan diriku, memilih setia
Walaupun kutahu cintamu, lebih besar darinya
Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu
Karena kusadar tulusnya rasa cintamu
Tak mungkin tuk membagi cinta tulusku
Karena ku memilih setia………………………
Seribu kali logikaku untuk menolak
Tapi kutak bisa bohongi hati kecilku
Bila saja diriku ini masih sendiri
Pasti kukan memilih kan memilihmu……………………..
Hemz….terasa sesak dada Danang. Apa benar yang dilantunkan fatin.pikirnya, kenyataan yang ada memang Danang merasa sayang untuk melepaskan perasaan cintanya pada Ratih. Dan salahkah bila Danangpun akhirnya memilih untuk setia dengan perasaannya.
“Danang …….., ada tamu dari sidoarjo “, panggil ibunya sambil mengetuk pelan daun pintu kamar Danang.
“sinten bu ?, tanya Danang sambil membuka pintu sedikit hanya cukup untuk kepala Danang nongol.
“Teman kuliahmu dulu, Anton “, jawab Ibu sambil memberi isyarat agar Danang cepat keluar menemui.
Danang segera keluar menutup pintu kamarnya pelan. Dengan langkah sedikit tergesa dia langsung menuju ke ruang tamu. Anton terlihat berbincang dengan bapaknya, serius.
“ Hey ….yok opo kabare rek “, teriak Danang kemudian. Anton berdiri dan dua sahabat yang dulu pernah sama – sama mencintai satu gadis yang sama itupun saling berpelukan erat, gembira.
sahabat yang saling melepas rindu.
“Baik……, he,,ni teman – teman ngajak reuni , gimana gabung enggak “, kata Anton mengutarakan maksud kedatangannya.
“dimana ?”, tanya Danang
“Cimahi…rumah Ida, Cuma angkatan kita kok, coz Ida kan mau married jadi sekalian ngundang kita, sekalian ngumpul “,. Jelas Anton
“Wah asyiiik ..terus kapan “, kejar Danang
“bulan depan akhir mei , pas liburan semester, bisa kan “.
“ bisa sekali…, eh ratih da diberitau belum “, tiba – tiba Danang menanyakan. Danang merasa sangat penasaran. Dia sangat berharap Ratih akan ikut. Betapa gembiranya oh…. Danang gak bisa membayangkan perasaan hatinya yang akan junkir balik bila Ratih ikutan.
Anton tau betul apa yang ada di pikiran Danang, sepertinya masih sama. Keinginan Anton dan Danang . sama – sama menginginkan Ratih ikut. Dan Anton akan berusaha sekuat tenaga untuk membujuk makhluk manis itu hadir dalam reuni nanti.
Sore itu Danang habiskan waktu bersama Anton dengan bercengkerama. Saling bercerita tentang masa – masa indah kuliah di UPI dulu. Saat masih satu kamar dan satu kost . Benar – benar sore yang indah………………………
Hari mingu. Ratih sedang membenahi kamar ketika ada tamu. Waktu menunjukkan angka 10.15.
“Ratih…..ada tamu”, ketok kakanya dengan keras
“ea…..sebentar…”, jawab Ratih cukup keras. Dirapikannya rambut dan bajunya sebelum menemui tamunya.
Ratih menjerit kecil tertahan begitu tau Anton yang datang. Setengah berlari dihampiri sahabat karibnya itu.
“ Anton…kok tumben, pasti bawa berita bagus ya”.
“semoga bagus bagimu, karena kalau bagus berarti kamu pasti datang”.
“Apaan :,
“Ida menikah akhir mei dan kita diundang, sekalian reuni katanya, acaranya sih lima hari setelah dia married, gimana baguskan berita yang kubawa”.
Ratih saking gembiranya sampai matanya hampir melotot.
“beneran An ?, tanya Ratih tak percaya.
“Bener….sekali, masa aku bohong sih , gimana mau ikut , ntar kita rame – rame aja , sama – sama naik kereta “. Anton berusaha menyemangati dan meyakinkan.
“ ntar aku sms ya An, aku mesti ijin mas Aris dulu , kalau bapak sama ibu sih biasanya terserah aku yang penting hati – hati”.
Anton hanya mengangguk sambil berdoa dalam hati. Ya Tuhan ijinkan makhluk manis ini ikut reuni “. Xi…xi…xi… Anton tertawa kecil.
Dan Ratih tidak perlu waktu lama untuk bisa meyakinkan kedua orang tuanya dan aris tunangannya untuk ikut gabung dengan teman – temannya.

Dipublikasi di sastra | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

MASIH TENTANG PESTA DEMOKRASI

Lebih dari satu minggu dengan sengaja aku tidak lagi aktif ngeblog atau buka internet apalagi buka FB atau Twiter, sama sekali tidak……karena aku hanya ingin mengukur tingkat kenatralanku dalam menyikapi pesta demokrasi 5 tahunan yang luar biasa ini. Mungkin ketika aku memilih salah satu jago dari kandidat presiden yang akan berlaga ditgl 9 juli nanti dikarenakan kerabat dekatku ada yang jadi bupati, atau saudaraku yang duduk di DPR sehingga aku harus memilih beliau….tetapi ternyata tidak, aku benar – benar tulus memilih beliau karena memang beliau pantas untuk dipilih dan diperjuangkan dengan kerelaan yang super aku berusaha untuk memberikan informasi yang positif ketika ada yang bertanya .
Memang aku bukan siapa – siapa apapun yang kukasampaikan juga gak akan berpengaruh terhadap perubahan situasi yang kulihat semakain kacau balau, semua orang tiba – tiba berubah telah menjadi pengamat politik, semua berpendapat dengan tanpa mempunyai landasan yang akurat baik data , ataupun informasi, karena semua yang dilontarkan dalam setiap statusnya hanya berdasarkan baca di media sosial , kalaupun menyaksikan langsung (mungkin dalam debat capres) dalam memberikan koment juga jauh dari penilaian yang tulus, kalau boleh jujur aku bisa melihat dari kalimat yang ditulis disitu pasti kutemukan ada nada sumbang, emosi, kebencian, kepentingan dan masih banyak lagi. Bukankah sebagai bangsa Indonesia kita tahu yang didalam pancasila ada sila sila yang mengatur untuk dapat hidup berbangsa dan bernegara yang apabila kita ikuti akan tercipta suatu kebangsaan yang harmonis.
Kembali pada diriku…. (maaf ini khusus pribadi loh yah, aku tidak bawa para ini itu karena aku takut mencatut orang lain mungkin satu profesi tapi beda pilihan , aku tidak mau seperti kasus Bang Iwan Fals yang gambar kaosnya diganti dengan gambar pasangan presiden tanpa seijin beliaunya, akhirnya membuat Bang Iwan Fals sang Idola, maksudku idolaku jadi marah) yang memang aku paling gak suka melihat orang untuk didiskriminasikan ..mungkin terbawa karena profesi dan pergaulanku yang selalu bersama anak anak TK (taman kanak – kanak ) yang selalu memandang masalah dengan hati yang tulus dan jujur, anak TK tidak suka diintimidasi, diancam, ditakut – takuti, dibentak apalagi melihat orang marah yang banting – banting barang. Anak TK lebih suka pada sikap yang jujur , santun, menyejukkan dan merangkulnya karena semua yang positif itu akan membuat tumbuh kembangnya akan bagus. ……yah kalau aku penulis syair atau seniman andal pasti bisa deh diartikan bahwa anak TK itu rakyat kecil…mungkin arti tulisanku ini akan lebih afdol.
Terus terang …..aku bukan bagian dari mahasiswa angkatan 1998 karena aku sudah lulus tahun 1991 , tapi masih terasa reformasi itu dalam benakku , bagaimana tidak saat itu aku begitu mengidolakan YTH bapak Reformasi yang bergelar profesor….sehingga mulai saat itu aku tergabung dalam partai yang beliau dirikan, aku bangga jadi bagian dari Reformasi walaupun tidak terlibat secara langsung , yang akhirnya ……dengan sedih hati atributku sebagai anggota partai beliau kulepas dengan berat hati, karena beliau yang kujadikan panutan ternyata telah melenceng jauh dari semangat Reformasi yang dulu beliau dengungkan, bahkan terakhir yang membuat aku miris adalah seruannya untuk ikut berperan aktif dalam PERANG BADAR di pesta demokrasi.
Yah Allah…..begitu kuatnya pengaruh kedudukan, pengaruh uang , pengaruh kekuasaan….sehingga negara yang indah dan damai ini harus menerima akibat kepentingan duniawi , kami satu saudara, sebangsa dan setanah air kenapa harus melakukan perang badar…..
Aku tercenung …..ketika membaca tabloid obor rakyat, ketika aku mendengarkan kampanye yang menyerukan bahwa orang indonesia timur karakternya suka makan, suka berkelahi atau potongan kalimat yang mengatakan bahwa semakin banyak orang indonesia ini yang LUGU…LUCU dan GUOBLOK…., ada musisi yang jenius asal surabaya yang dulu juga kukagumi dengan tanpa berfikir panjang mengatakan bahwa calon sebelah kurus kalau diajak berantem pasti kalah atau kalau jadi presiden fotonya tak akan dipasang dirumahnya. Loh ….emangnya masalah yah kalo gak dipasang dirumahnya, yang penting kalo sudah terpilih jadi presiden yah dipasang di kantor, di sekolah , di pelayanan umum dan masih banyak lagi, (he…he… tapi Mas Dhani gak akan pindah kewarga negaraan kan, kalaupun mau pindah kurasa gak apa – apa juga kali, he..he… maaf guyon mas jangan tensi Peace) belum lagi puisi – puisi yang isinya mendiskriditkan seseorang, bukankah mereka orang –orang yang berdasi itu orang yang terhormat yah , tidak bisahkan kalimat kalimatnya yang dilontarkan juga terhormat sehingga akan menyejukkan kami anak TK ups….. maaf rakyat kecil.
Teman – teman ku sebangsa dan setanah air yang tercinta marilah kita yang katanya kaum inteltual ini mencoba memberi contoh berpolitik yang baik pada teman – teman yang mungkin disekitar kita masih lemah dalam pengetahuan dengan benar, kita berikan informasi yang benar, kita berikan data yang benar, setelah itu biarkan mereka menentukan pilihannya sesuai dengan kata hatinya, tak perlu diintimidasi, tak perlu diancam, gak perlu kita ciptakan ketakutan atau perasaan was – was karena negara kita aman kok…..sangat aman karena negara kita cinta damai……
Ketika pilihanku berbeda dengan pasanganku, kukatakan padanya,….Mas biarkan kali ini aku berbeda dengan pilihanmu, tetapi seandainya…kamu belum mantap benar dengan pilihanmu dan bertanya padaku tentang alasanku yang berbeda dengan pilihanmu, aku akan menjelaskannya…. (Karena aku tahu pasanganku memilih GOLPUT,). Ketika kutanya putri cantikku (sisulung) yang baru pertama mengikuti PILPRES dan menjatuhkan pilihannya sama dengan bundanya kutanyakan alasannya KENAPA dan jawabnya bukan ikutin bunda tapi ikut pak DAHLAN ISKAN akupun menghormatinya …Aku teringat apa yang disampaikan oleh bapak Anis Bawasden….kalau kita ingin perubahan yang baik jangan biarkan orang baik berjuang sendirian….. dan akupun ingin membantunya untuk berjuang , kukatakan pada pasangan bahwa pilihan kita menentukan masa depan bangsa ini 5 thun kedepan, janganlah kita pasung demokrasi kita, janganlah kita gadaikan masa depan bangsa kita, marilah kita berpartisipasi dalam pemilihan ini, kita harus bisa berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara…..dan Alhamdulillah akhirnya kamipun sepaham, mungkin suara kami tidak akan berpengaruh tetapi paling tidak bisa mewarnai sedikit pesta demokrasi kali ini.
OK teman – teman kami telah menentukan pilihan……bagaimana dengan anda, Monggo..bebas untuk menentukan pilihan , kami tidak akan menyebar kampanye hitam, kami tidak akan mengatasnamakan PARA ini dan itu , karena kami ingin teman – teman bisa memandang suatu masalah dengan pikiran yang jernih …..dan Selamat Memilih….salam Damai dari……… Catatan Nining

Dipublikasi di motivasi | Tag | Tinggalkan komentar

Pesta Demokrasi

Pesta Demokrasi

Kawan kita adalah pribadi yang berbeda
Maka kita juga punya pilihan yang berbeda
Tetapi dengan perbedaan ini, tak perlulah kita saling bermusuhan
Demi persahabatan dan pertemanan kita yang mulia
Maka tidak sepatutnya kita saling menghujat, mengecam apalagi memfitnah
Pilihan dari teman, sahabat atau mungkin keluarga kita
Karena sejatinya jago – jago dari pilihan kita masih manusia biasa seperti kita
Yang sangat jelas mereka bukan manusia sempurna
Dan dapat dipastikan mereka juga pasti punya kekurangan dan kelebihan
Teman dan sahabat tercinta …….
Marilah kita belajar berpikir posistif baik kepada lawan ataupun kawan
Karena kita insan cerdas yang mampu berlaku bijak
Saya percaya ketika pesta demokrasi sudah selesai Dan akan ada yang terpilih menjadi sang juara
Maka tak mungkin kita bisa menghindarinya. Kita tetap harus mengikuti aturan yang ada.
Tak mungkinkan kita akan demonstrasi apalagi pergi keluar dari indonesia karena merasa kecewa dengan tidak terpilihnya jagoan kita.
Percayalah siapapun jagoan kita, pastilah mereka yang terbaik dan terunggul diantara berjuta warga penduduk indonesia raya …
Sekarang saatnya kita suport mereka yang berlaga di pesta demokrasi indonesia ini
Dengan sikap yang positif dan sportif…..
Demi terciptanya kedamaian..di negara kita Indonesia
Untuk semua teman dan sahabatku tercinta…..marilah kita mulai berjabat tangan
Kita buat perbedaan ini menjadi pembelajaran dan penempaan diri
Kita hormati pilihan mereka niscahya merekapun akan menghormati pilihan kita
Yang perlu kita ingat dan tanamkan dalam diri adalah Walau pilihan berbeda tapi kita tetap inginkan yang terbaik untuk ibu pertiwi tercinta……
So.. ucapkan salam damai dan tanamkan semangat demokrasi yang sehat kepada lawan dan kawan
Hidup demokrasi Indonesia…..Salam….. Merdeka !!!!!!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

DON’T CRY

3.“Don’t Cry
Bukan……., bukan hanya Ratih saja dalam beberapa hari, beberapa minggu dam hampir sampai satu bulan ini yang super galau. Kegalauan itu juga akhir – akhir ini dimiliki oleh Danang dan Aris.
Entah mengapa Aris cowok gagah yang super tenang itu bisa menjadi gelisah, Aris merasa tidak nyaman dengan perubahan yang dilihatnya dalam diri Ratih. Ibu guru TK yang hampir enam bulan ini sudah mampu mencuri hati dan rasanya. Tiba – tiba saja seperti yang menjaga jarak , walau masih tetap ramah dan Aris bukan ABG yang masih banyak perlu belajar tentang sikap atau body language seseorang. Aris dua tahun lagi hampir kepala tiga usianya, jadi perubahan sekecil apapun yang ditampilkan Ratih, dapat dirasakan Aris dengan sempurna.
Yah tepatnya setelah pulang dari workshop di sidoarjo kalau Aris boleh jujur perubahan itu terjadi. Ratih yang hangat tiba – tiba jadi pendiam, Ratih yang mempunyai gaya tertawa renyah menjadi agak tertahan .Aris masih mencari penyebabnya, apakah karena Aris tidak bisa menjemput Ratih , atau mungkin Ratih masih capek, tapi kalau capek sampai satu bulan, benar -benar gak masuk akal. Pikirnya tak mengerti.
Begitupun dengan Ratih bukan dia tidak tahu kalau Aris kelihatan bingung dengan perubahan sikapnya, tetapi ratih sendiri tidak tahu kenapa dia merasa berdosa apabila terlalu memberi harapan pada Aris, karena yang Ratih tahu Aris begitu mencintainya. Tetapi sejak pertemuannya dengan Danang beberpa waktu yang lalu, memang Ratih mulai dilanda kebimbangan,
Ratih merasa sayang apabila harus mengabaikan perasaam cinta yang menderanya pada Danang. Ratih begitu menikmati debar – debar perasaan hatinya bila mendengar suara Danang, walau hanya lewat telepon. Ratih merasa badannya panas dingin bila malam minggu datang, karena sudah tiga minggu ini Danang dengan rutin hadir dirumahnya, bahkan pernah datangnya barengan dengan Aris. Untung mereka orang – orang dewasa yang sudah mampu memanage hati dan perasaan, kalau tidak wah…..bisa – bisa…………perang nih.
Kepada Aris sendiri Ratih sebenarnya pernah merasa suka, sebatas suka sih levelnya, sebelum kedatangan Danang, yang ternyata lebih mampu mengobrak abrik persaannya. Ratih begitu kagum dengan performance Aris yang dewasa, dia juga kagum dengan perasaan cinta Aris yang santun, lembut, begitu menghargai , tidak menggebu – gebu namun terasa hangat. Ini yang membuat Ratih begitu bingung untuk menentukan sikap, sedangkan ibunya, ayah dan saudara – saudaranya bisa ditebak kearah mana berpihaknya, pasti dan tidak diragukan lagi 100 persen dengan serempak seperti suara koor “ Aris……………………s!’, begitu bunyinya. Nah loh.
Lain lagi dengan Danang , pemuda jangkung yang pernah dekat dengan Ratih ketika sama – sama kuliah di UPI Bandung itu bahkan lebih galau dari Ratih dan Aris.
Danang kenyataannya sudah menjalin cinta dengan Ety bahkan hampir bertunangan. Sebelum ketemu dengan pujaan hatinya kemabali, dengan kepasrahan tingkat tinggi dia menerima kehadiran Etty, anak tunggal pengusaha ayam potong dari jogja.
Diujung ketidak pastian akan kehadiran Ratih, tiba – tiba Ety datang. Masih segar diingatan Danang Saat itu tahun ajaran baru tiba – tiba ada pindahan guru baru dari ngayogjokarto. Seorang gadis manis Ety namanya, gadis yang sama sekali tidak mencerminkan gadis jogja yang kalem, malu – malu dan keibuhan. Ety justru sebaliknya dia gadis yang agresif, agak egois dan manja. Mungkin itu dikarenakan dia anak tunggal sehingga tidak pernah belajar berbagi. Atau sekedar menghargai dirinya sendiri sebagai gadis yang berprofesi sebagai guru.
Danang ingat betul bagaimana Ety ketika pertama gabung di sekolahnya. Dia dengan berani langsung minta nomer telepon Danang, terus minta antar pulang ya bilangnya sih “nunut” karena kebetulan gak bawa motor. Besoknya dia bawa makanan untuk teman satu sekolah, besoknya dia traktir teman satu sekolah, besoknya lagi dia sudah berani datang kerumah Danang dengan alasan kebetulan lewat lalu mampir.
Dan entah mengapa setelah berjalan hampir satu tahun sejak kepindahan Ety, Danang gak bisa menolak ketika Ety mengatakan suka padanya. Gila kan, ini anak cewek ngayogjokarto lo yang nermbak duluan. Benar – benar cewek nekat, begitu komentar teman – teman Danang waktu itu. Dan hubungan yang tidak begitu harmonis itupun berjalan begitu saja.
Sebetulnya Ety jauh dari kriteria Danang yang notabene semua ada pada diri Ratih. Smart, tanggung jawab, dapat menjaga harga diri maksud Danang gak murahan, tapi bisa menempatkan diri. Keibuhan dan satu yang gak bias ditawar penyayang dan pemaaf.
Memang Danang selama bersama Ratih paling tidak bisa memancing emosi Ratih, gadis ayu ini paling bisa memanage emosi sehingga apabila marah tidak pernah meledak – ledak seperti bom molotov, dia selalu dapat menyelesaikan masalah dengan tenang, hebat kan.
Sedangkan Ety kalau marah bisa dipastikan setiap barang yang ada didekatnya pasti akan jadi korban, DIBANTING. Nah kebayang gak kalau nanti jadi istri, bisa – bisa barang satu rumah habis dibanting. Apalagi ditambah lagi sifat pencemburunya, waduh……bisa – bisa gak panjang umur nanti aku. Pikir Danang membandingkan pribadi Ety dan Ratih.
Dan sejak pertemuannya dengan Ratih yang tidak disengaja di Sun Hotel Sidoarjo dalam rangka ikut sosialisai BOP, Danang mulai merasa engap dengan Ety yang begitu posesif padanya, dan Danang benar – benar merasa seperti dipenjara, tidak bisa berkutik, benar – benar dalam pengawasan ketat Ety, dan entah darimana asalnya keberanian itu, tiba – tiba Danang punya keberanian untuk melakukan pemberontakan pada sikap posesif Ety, bahkan dengan terang – terangan pernah Danang telepon Ratih pujaan hatinya dengan suara merdu merayu yang lembut didepan Ety, dan hasilnya sengguh luar biasa, Ety meradang , dirampasnya hp Danang dengan paksa, untung Danang lebih sigap sehingga nasib hp dapat diselamatkan, tidak dibanting Ety.
Tetapi Danang juga tidak bisa bersikap frontal dengan memutuskan Ety begitu saja, karena banyak orang – orang dekat Danang yang sudah terlibat dalam hubungan yang rumit itu. Ada Orang tuanya dan saudara – saudaranya , ada orang tua Ety, ada teman – teman guru juga. Wow…….pokoknya komplit seperti jamu pegel linu. Tapi bukan itu yang dibutuhkan Danang, dia lebih butuh jamu pegel ati, supaya hatinya bisa sedikit rileks.
Siang itu Ratih dijemput Aris pulang sekolah, karena Ratih janjian dengan Aris akan langsung ke rumah sakit Darmo untuk menengok Raditya yang sudah empat hari dirawat inap karena kena demam berdarah.
Dalam perjalanan dua sejoli itu banyak diam, entah mengapa Ratih tiba- tiba merasa trenyuh dengan Aris. Dia begitu baik, sabar, dan penyayang , lalu kurang apa dari Aris sampai Ratih harus mengabaikannya. Dengan perasaan serbah salah, Ratih membuka keheningan yang menggelisahkan perasaan mereka berdua.
“mas……….keadaan Adit sudah mendingan kan?.
“Alhamdulillah,berkat doa orang – orang yang menyayanginya. tapi…… sebelumnya aku minta maaf yah, soalnya kemarin adit nanyain bu gurunya terus. jadi deh dengan sedikit memaksa ini aku ngajak kamu”.
“gak apa – apa , aku memang pengin nengok kok mas, selain memang tugasku sebagai guru, juga karena aku sudah kenal baik dengan mama papa adit”, jawab Ratih segera untuk meyakinkan Aris. Dan percakapan kecil itupun sanggup mencairkan suasana yang tadi begitu kaku.
“Jadi hanya karena mama papa Adit nih, kok aku gak ikut andil yah”, goda Aris.
Dengan spontan tangan mungil Ratih memukul lengan Aris yang sedang memegang stir.
Sambil tersenyum Ratih menjawab” Ea deh juga karena Omnya Adit”.
Aris tersenyum bahagia, apalagi melihat Ratih yang sudah seperti dulu. Semoga tidak berubah yah Tuhan. Doa pendek Aris dalam hati.
Disepanjang jalan ciliiwung menuju ke rumah sakit Darmo, didalam mobil xenia hitam itu terasa sejuk, sejuk sekali , karena penumpangnya sedang berbahagia. , sampai rumah sakit mereka beriringan masuk, tak lupa tangan kekar Aris menggandeng tangan mungil Ratih.
Sambil saling melempar senyum ,mereka masuk kamar inap Adit. Didalam kamar lengkap pengunjungnya , ada mama papa Adit, yang notabene kakak Aris, ada juga Alfin kakaknya Aditya. Siang itu mereka bahagia sekali, apalagi Aris , super ……bahagia. sakit yang membawa berkah, guman Aris.
Hari – hari serlanjutnya hubungan Aris dan Ratih berjalan harmonis. Apalagi Danang sudah tidak mengganggu Ratih dengan sms atau telepon. Sebetulnya Ratih cukup gelisah juga, kenapa tiba – tiba Danang tidak telepon, ada apa, atau apa yang terjadi dengan Danang. Tetapi kesabaran Aris sanggup mengalihkan perhatian Ratih untuk tidak terlalu memikirkan Danang.
Pagi itu pas hari minggu, Ratih akan dijemput Aris mau dikenalkan dengan keluarga besarnya, sekalian syukuran atas kesembuhan Aditya. Yah kebetulan orang tua Aris sengaja datang dari Blitar selain untuk menengok cucunya yang baru sembuh dari sakit juga karena ingin mengenal lebih dekat Ratih atas permintaan Aris. Memang untuk hubungan Ratih dan Aris , walaupun Ratih belum mengiyahkan 100 persen, tetapi dengan bekal restu dari ayah dan ibu Ratih cukuplah bagi Aris untuk mempromosikan Ratih pada mama papanya.
Sedangkan mama papa Aris sendiri orang yang demokratis, jadi tidaklah terlalu sulit bagi Aris untuk mohon restu, pastilah asal Aris suka dan calonnya dari keluarga baik – baik dapat dipastikan , mereka pasti langsung mengangguk, apalagi ditambah bumbu penyedap dari kakaknya: mas Agung, papa Adit, klop sudah .
Ratih yang memang santun dan ayu itu langsung dapat nilai plus dari orang tua Aris, apalagi papa Aris begitu senangnya pada Ratih sampai – sampai Ratih diajak cerita terus, yang lain tidak dapat bagian, maklum dikeluarga Aris tidak ada yang perempuan, semua laki – laki, yang sulung mas Agung yang nomer dua Aris dan yang bungsu jadi polisi juga Andri sekarang sedang dinas di Bali. Siang itu di rumah mas Agung suasananya begitu gembira tak henti – henti suara tawa meledak terdengar apabila ada yang lucu, dan itu sangat membuat Ratih merasa nyaman.
Dan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami Danang di Malang. Danang sedang menghadap kedua orang tuanya, umtuk minta pendapat atas rencananya yang ingin pisah dengan Ety.
Danang sedang memperjuangkan nasib cintanya pada kedua orang tuanya. Dengan hati – hati dia mendekati ibunya yang sedang menemani ayahnya di teras depan.
Dengan perlahan dia duduk dekat ibunya sambil tak lupa tangannya memijat pundak ibunya, kebiasaan Danang sejak kecil, kalau menginginkan sesuatu pasti dia akan memijat ibunya, kalau ibunya bertanya baru dia akan merengek minta dipenuhi permintaannya.
“Ada angin apa kok tiba – tiba mijat ibu to ..le (panggilan kesayangan ibu pada Danang)”.
“Ehm………., Buk…dulu waktu masih muda , pacaran atau dijodohkanyah kok bisa menikah sama bapak”.
Ibu kaget dengan pertanyaan tiba – tiba dari Danang, pertanyaan yang tidak biasa. Bapaknya sendiri sempat mengalihkan pandangannya dari deretan kalimat di Koran yang dibacanya, untuk meyakinkan pendengarannya atas pertanyaan Danang yang dirasakan sedikit aneh.
‘yah….pacaran, ibu yo gak mau dijodohkan, lagian mbah kan bukan orang yang mau maksa anak – anaknya, yah paling – paling cuma bilang, sing nyonggo awakmu dewe”.
“terus……kalau ibu sama bapak, kira – kira sama gak dengan mbah yah, bijaksana gitu maksudnya”. Sela Aris setengah menyindir
Bapak yang dari tadi Cuma jadi pendengar , tiba – tiba melihat heran Danang. “ngapain kamu kok tanya – tanya itu, memang bapak dan ibu sudah jodoin kamu:, sergapnya
“Bukan begitu pak…., ini aku mau pendapat bapak dan ibu lo , sepertinya hubunganku dengan Ety gak bisa diteruskan deh. ya aku merasa gak cocok saja”.
Bapak dan ibu danang diam mematung, mendengar penjelasan anaknya.
“eh le… opo kamu lagi mumet to, ngomong sama orang tua kok seperti sama teman saja, dolanan yo sing jelas ngono loh”. Suara Bapak keras.
“aku serius ngomong sebenarnya .gak dolanan”.
“Danang….., kamu itu guru loh, jangan bermain – main dengan perasaan, apalagi yang menyangkut perasaan orang banyak, kamu dituntut untuk dapat berfikir dewasa, ojo saenak e dewe, isuk dele sore tempe, plin plan. Itu namanya ”. Suara bapak menahan marah. Danang diam saja, dia masih memijat ibunya. Ibu diam menepuk – nepuk kaki Danang dengan sayang.
“masalahnya apa to le…, kamu bertengkar dengan Ety, bertengkar itu hal yang biasa, sebentar lagi juga baikan, Ety kan jauh dari orang tuanya, yah kamu yang sabar sedikit menghadapi dia”. Suara ibu lembut menenangkan.
“Bukan bu…., aku sebenarnya enggak cinta sama dia, aku punya calon sendiri, dia dulu adik kelasku waktu di UPI, yang dulu pernah kuceritakan itu loh. Ibu masih ingat kan ”.
“yang pergi begitu saja….., yang membuat kamu seperti orang bodoh, menunggu tanpa kepastian, itu yang kamu maksud”. Suara bapak masih keras.
“tapi kan bukan salah Ratih,yah,,,,,, ,memang saat itu kondisinya kami belum pacaran, waktu itu situasinya masih rumit, tapi memang dia yang selama ini aku cari, tolong mengerti aku bu..pak……”. Danang merengek, persis anak TK yang pengin dibelikan mainan.
“ Orang tua disuruh mengerti kamu terus . lalu kapan kamu akan mulai mengerti ayah ibumu, kapan !”. makin keras suara bapak.
“tapi….pak aku tidak mencintai Ety, apalagi sikap Ety yang gak jelas, selalu ngatur, selalu minta diperhatiin, sedikit – sedikit cemburu marah, uring –uringan suka banting –banting barang, apa itu yang bapak ingin jadikan menantu”. Danang mulai terpancing .
Ibu dan bapak diam , memang benar sifat Ety sungguh mereka tidak suka. Kadang – kadang mereka juga kasihan pada Danang, yang harus selalu mengalah untuk menghadapi sifat ety yang sama sekali tidak mencerminkan sosok wanita yang baik. Tetapi apa kata orang tua Ety kalau sampai Danang dan Ety putus, padahal seminggu lagi akan digelar acara tunangan mereka, ini juga atas permintaan Ety, biarpun waktu itu Danang belum mengiyahkan, tetapi karena Danang diam saja itu yang membuat orang tua Ety dan Danang merasa yakin dan akhirnya membuat kesimpulan yang sama SETUJU.
Danang tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan orang tuanya. Dia pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang diam terpaku. Danang langsung masuk kamar, dikuncinya dan langsung merebahkan diri, menerawang menatap plafon kamarnya, seakan mempunyai kesaktian yang tinggi dia bisa menembus atap kamarnya, menerawang jauh ke memori indahnya.
Pagi itu Danang mau mandi, ada kuliah pagi. Sebelum masuk kamar mandi yang letaknya memang berseberangan dengan dapur, dia melihat Ratih yang sedang masak. Dia mendekati pelan pelan….., dekat sekali, sampai – sampai bau harum rambut Ratih yang baru keramas tercium olehnya. Dengan mengatur posisi yang tepat, dia memanggil Ratih pelan. “dik….masak apa ni ?,
Dengan spontan Ratih menoleh kebelakang, dan pas …………sangat pas sekali pipinya nempel di hidung Danang. Ratih menjerit tertahan, dia jengkel dengan keusilan Danang. Dengan spontan tangan Ratih serta merta memukuli Danang. dan Danang kesenangan luar biasa.
“mas Danang jahat……”. kata Ratih gak terima
“sorry………, maaf.. yah.enggak sengaja kok, suer wer……wer”. Kata Danang sambil menangkap tangan mungil Ratih.
Ratih diam saja. Diusap – usapnya pipinya, seakan ingin menghapus jejak hidung Danang. Sang pemilik hidung hanya tersenyum nakal. Ah kenangan itu begitu manis, ingin selalu Danang mengulang memori itu. Walau hanya sekedar gurauan tetapi memori itu sangat manis, sangat sayang kalau dilupakan.
Tiba – tiba Danang meraih hpnya, dicarinya nama sweety, nama samaran untuk nama Ratih
Ratih sedang melipat mukenah, ketika hpnya berbunyi
“asalamualaikum………”. Suara Ratih dari seberang, merdu terdengarnya ditelinga Danang
“waalaikum salam dik………………., sedang apa nih”. Suara Danang sedikit bergetar, menahan rindu dan entah mengapa dia sangat sedih sekali mendengar suara itu, ada yang mengiris direlung hatinya, pilu……………………
Ratih yang mendengar suara Danang, dengan tiba – tiba hatinya dag dig dug der, dia bingung, dia senang tapi juga marah, kenapa sepuluh hari tidak meneleponnya.
“dik………………masih bernafas kan”, suara Danang menggoda.
“apa kabar mas…………..kok tiba – tiba telepon, ada yang bisa dibantu”, suara Ratih merajuk, dan Danang tahu betul itu,
“Ada…………bisa bantu obati kangenku gak, aku lagi sakit rindu nih, sungguh gak enak banget, kemarin ke rumah sakit. dokternya angkat tangan loh, katanya sih gak ada obatnya di rumah sakit bahkan diapotik sekalipun”. suara Danang menghibur pujaan hatinya dengan sedikit rayuan. Ratih hanya mampu tersenyum sendirian di kamar.
“ada apa mas………………..”, suara Ratih pelan.
“Besok aku mau ke rumahmu, aku harap kamu gak ada acara yah, penting sekali”. Suara Danang penuh harap.
“wah gak bisa mas ,lagipula ini kan hari senin, hari efektif memang mas Danang libur?’.
“Enggak juga, tapi ini lebih penting dari apapun, please, ntar tak jemput ke schoolmu yah”. Danang setengah memaksa.
“jangan mas, aku ada acara, aku gak bisa, lain waktu aja yah.”. Ratih menolak halus, karena memang besok sore dia ada acara menemani Aris datang ke acara pernikahan teman satu kantornya. Dan dia gak bisa dengan begitu saja lari dan membatalkan.
“Tapi dik.ini penting, kamu gak kasihan sama aku, aku bisa mati lo , kalo kamu sudah gak peduli lagi sama aku, please tolong aku dik”. Suara Danang memohon dengan setengah memaksa. Ratih bingung, tapi dia harus memberi keputusan.
“Begini saja mas, semua masalah kan bisa diselesaikan, dan tidak juga harus besok. Ok hari selasa aja kamu kutunggu, gak usah ke school, langsung ke rumah saja yah”.
“tapi aku ingin cuma kita berdua, kita selesaikan masalah kita berdua saja”.
“Masalah kita, maksudnya ?”.
“Yah sudahlah gak usah dibahas disini, besok selasa kamu kujemput di school yah. Miss you. Mua…h”. segera Danang menutup pembicaraannya. Ratih termangu, tak paham
Hari selasa saat Aris mengantarnya, Ratih dengan hati – hati mengatakan gak usah dijemput karena ada acara mendadak dengan teman – temannya.
“Mas nanti aku gak usah dijemput yah”. Aris menoleh menatap Ratih lekat – lekat seakan ingin menanyakan alasannya
“Aku nanti pulang agak siang, ada acara dengan teman –teman, gak enak kan kalau gak ikut nimbrung, kali ini aja , boleh kan”. Ratih merengek manja.
Aris tersenyum, ingin dia membelai tangan Ratih yang duduk disampingnya, tapi dibelakang ada cowok kecil yang sedang mengawasi, Raditya ponakannya yang juga murid Ratih.
Siang itu Ratih sengaja menukar baju seragam sekolah dengan baju bebas, semua temannya menggoda nakal.
“He…..mau kemana non, kok pakai ganti baju segala, mau ikut pertemuan Bhayangkari yah, waduh yang calon bu polisi, sui.i sui.t”. goda bu Puji temannya yang ngajar di klas B.
“Bu Ratih……………jangan lupa bilang pak POL yah, sekali – kali bawa oleh oleh to buat kita – kita “, suara bu Nanik menimpali dari dalam ruang guru.
Ratih hanya mampu tersenyum kecil. Setelah berpamitan dengan kepala TK nya, Ratih langsung berlari keluar ketika melihat motor Ninja Danang.
“ pulang dulu yah friend, asalamualaikum…………..”, pamit Ratih sambil berlari kecil. Diterimanya helm dari tangan Danang lalu melesatlah motor ninja Danang dengan kecepatan sedamg. Setelah membelah kota surabaya sampailah mereka di taman ria kenjeran.
Danang memarkir motornya, lalu dengan beriringan mereka menuju tempat duduk yang agak teduh, agak menjorok, tapi bersih. Siang itu kenjerena sepi, maklum hari efektif kerja dan sekolah, hanya terlihat beberapa gerombol muda mudi yang asyik cerita. Gak jelas.
“Dik………..kamu sayang gak sama aku”, Danang membuka pembicaraan. Dan itu membuat Ratih geli. Sungguh gaya Danang seperti abg, merayu gak bermutu.
“kamu itu ngomong apa to mas, gak jelas tahu .buat aku bingung aja”.
“Sungguh ni, aku tanya perasaanmu padaku, aku anggap ini penting karena jawabanmu akan menentukan sikap dan keputusan yang akan kuambil nantinya’.
“aku sayang kamu mas, karena kamu sahabatku”.
“bukan jawaban itu yang kumau, tapi perasaanmu yang sesungguhnya dik, karena terus terang seperti yang kukatakan 5 tahun yang lalu, 2 bulan yang lalu, dan hari inipun, perasaanku masih sama, aku sangat sayang sama kamu. Teramat sangat bahkan.”.
Ratih diam sejenak, dalam hatinya berkecamuk tidak karuan. Inginnya dia menjerit keras – keras bahwa sebenarnya dia sangat sayang pada Danang, bahkan sampai sekarangpun belum tergantikan. Ratih sangat ingin berteriak keras – keras kata – kata I LOVE YOU FULL, tapi dia tidak mampu.
Danang memegang jemari Ratih yang sedikit basah karena berkeringat. Dengan penuh kasih sayang dilapnya tangan Ratih. Danang tahu betul bagaimana perasaan Ratih. yang tentunya sama dengan dirinya, tapi Danang butuh pengakuan langsung dari bibir mungil itu. Ratih yang tak kuat menahan gejolak hatinya hanya mampu menunduk, tak tahu harus berbuat apa.
“Dik tolong jawab pertanyaanku, kamu cinta gak sama aku”. Tanya Danang sambil tangannya tetap membelai tangan Ratih.
Ratih mengangguk pelan, sangat pelan sampai – sampai tidak kelihatan anggukan Ratih, tapi Danang dapat melihat itu. Dengan gesit dan kegirangan diraihnya pundak Ratih , dirangkulnya Ratih kuat – kuat seakan dian gak rela untuk melepaskan. Akhirnya setelah sekian tahun dia menunggu kesempatan ini, kesampaian juga, pengakuan perasaan cinta dari mulut Ratih.yah Tuhan terimakasih “, doa Danang lirih.
Ratih melepaskan pelukan Danang. Dia merasa risih, takut kalau ada yang melihat, memang profesi Ratih sebagai seorang guru dituntut untuk bersikap santun dalam situasi apapun.
“Dik maukah kamu menikah dengan aku, aku secepatnya akan mengajak orang tuaku ke rumahmu, aku ingin kita berdua selalu bersama “. Begitu antusias Danang menyikapi keputusan Ratih yang mau menerima cintanya.
“Gak bisa seperti itu mas, aku memang mencintai kamu, tapi aku tidak bisa kalau harus menerimamu sebagai pendampingku”.
Danang terbelalak, sama sekali tidak percaya dengan apa yang disampaikan Ratih barusan. Tiba – tiba seperti ada batu besar yang membebani hatinya.
“Kenapa dik ?, kamu jangan guyon, kita bicara serius, tentang masa depan kita”.
Ratih diam, terbayang wajah Aris yang penuh wibawa, wajah mama papa Aris, wajah mas Agung, wajah bapak dan ibuknya, wajah saudara – saudaranya , wajah semua orang yang mendukung hubungannya dengan Aris. Ratih mengeluh sedih.
“Jawab dik, kamu jangan diam saja, ingat ini masa depan kita loh”.
“Maaf mas, maaaaf sekali, kamu terlambat mas”.
“Memangnya kamu sudah tunangan atau menikah kok bilang terlambat”.
“belum tunangan dan belum menikah, tapi orang tua ku dan orang tua mas Aris sudah saling mengunjungi, bahkan bulan juni nanti sudah diputuskan , insya allah kami akan menikah”.
Ratih berkata lirih, tertahan bahkan saking lirihnya hampir tak kedengaran. Danang mendengar kabar itu, bagaikan dilempar keawang – awang lalu jatuh di batu cadas yang menyakitkan.
Danang meringis kesakitan, bukan sakit badan, tapi lebih parah dari itu sakit hati. benar – benar sakit hati. Dengan tangan mengepal ditinjunya tempat duduk yang kosong disebelahnya. Ratih kaget, cepat diraihnya tangan Danang yang lebam itu. Ditiupnya dan dielus – elusnya, Ratih ingin menenangkan Danang yang diliputi emosi.
“sabar…………….mas, sabar yah”.
“tegah kamu dik, setelah sekian tahun aku menunggumu, hanya kepahitan yang kamu berikan padaku, padahal kamu tahu , aku sangat sayang kamu, kamu juga sayang aku kan dik”.
“Yah mas…aku sayang kamu, tapi jalannya sudah seperti ini, dan kita harus menerima dengan ikhlas, siapa tahu dikehidupan cinta kita yang lain,bisa kita temukan kebahagiaan”.
“kebahagiaanku adalah kamu dik, bukan yang lain”.
Ratih terdiam. Dia memberi kesempatan pada Danang untuk bisa mengendalikan emosinya, untuk menata hatinya, untuk menenangkan jiwanya. Mereka terdiam untuk beberapa lama, sambil saling menggenggam, saling menguatkan, saling mendukung.
“Sudah sore mas, kita pulang dulu yah, nanti kamu kemalaman loh sampai Malang”.
Danang tidak menjawab, dia dengan perlahan berdiri ..berjalan menuju tempat parkir, Ratih menjejeri dengan agak tergesa. Mereka berboncengan tanpa bersuara.
.Sepi masing – masing asyik dengan pikirannya sendiri. Pukul lima sore mereka sampai rumah Ratih. Danang tidak mampir langsung pulang menuju malang. Ratih belum sampai memegang handle pintu kamar dari samping terdengar suara bapaknya menegur.
“darimana..ndok, sore begini kok baru datang”.
“pergi sama teman pak”. Jawab Ratih singkat. Lalu masuk kamar, dan tidak keluar lagi. Direbahkannya badannya di kasur, ditatapnya langit – langit kamarnya, ada yang sakit di sudut hatinya, tanpa terasa air mata yang sedari tadi dapat ditahannya sekarang perlahan menetes membasahi pipinya.
Ratih terisak lirih, hatinya sakit, rasanya sakit sekali dan dia tak kuasa lagi untuk tidak menagis. Oh Tuhan kenapa kau pertemukan lagi aku dengan mas Danang kalau akhirnya harus seperti ini. Kenapa ………………………???
Terlalu sakit, terlalu perih. Kasihan mas Danang. Tiba – tiba ada perasaan kuatir yang luar biasa menyergap hatinya, dia kuatir mas Danangnya akan lupa diri ,akan mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi dengan suasana hati yang putus asa dan tersiksa.
Segera dia berdiri, disekanya airmatanya, dia keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Ratih sholat dan berdoa untuk keselamatan Danang. Sungguh Ratih tak ingin terjadi apa – apa pada Danang. Cukup sudah perasaan sakit yang dialami mereka berdua, dan Ratih percaya, bagaimana sedih dan terpukulnya Danang.
Dan diperjalanan pulang itu, dengan diderah perasaan marah , kecewa, sakit hati dan merasa terhempas, Danang benar –benar merasa tak berarti lagi, dengan kecerpatan tinggi dia memacu motornya membelah jalan raya, tak peduli berapa kali dia mendapat umpatan yang tidak sopan dari sesama pengguna jalan raya. Seakan dia ingin melampiaskan amarahnya pada perjalanan pulangnya.
Sampai rumah tanpa mengucap salam, dia langsung masuk kamar. Menutup pintu dengan suara keras JEDOR, dikunci dan dia menangis sendirian di kamar. Orang rumah tidak ada yang berani mendekat apalagi mencoba mengetuk pintu kamar Danang. Dengan bijak bapak Danang yang terknal keras itu memberi isyarat pada adik Danang untuk menjauh.
Sedangkan Danang di kamar menangis. nelangsa, sungguh dia selama ini belum pernah merasakan terpuruk seperti ini. Ditolak gadis pujaan hati, oo…………ini benar – benar sakit, sakit sekali. Diantara keletihan hatinya akhirnya Danang tertidur pulas, walau ditengah – tengah kepulasan tidurnya, Danang beberapa kali mengigau, memanggil – manggil nama Ratih.
Pagi hari dengan perasaan yang masih sedih, Danang terbangun mendengar lengkingan suara Ety yang membangunkan tidurnya, dengan sekali – kali mengetuk pintu kamarnya.
“Danang………..bangun,,,,,,sudah siang”.
Entah mengapa walau terasa sakit. Danang masih bisa membandingkan perilaku dan sikap Ratih dan Ety. Ratih …bagaimanapun situasinya, mau marah, senang atau sekedar merajuk tidak pernah hanya memanggil namanya DANANG, selalu ada penghormatan dinamanya mas Danang. Hm…….tiba – tiba ada perasaan rindu yang tak tertahankan dalam diri Danang. Dan disaat bersamaan , suara hpnya memanggil untuk minta diangkat. Terbaca dimonitor Sweety memanggil , dengan sigap dipijatnya tombol hijau JAWAB
“Asalamualaikum mas…..”. suara halus Ratih dari seberang
“Waalaikun salam, bagaimana kabarmu dik pagi ini”.
“Alhamdulillah baik, semoga mas Danang juga yah, tau gak mas, semalam aku gak bias tidur, aku kuatir sama kamu, aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut kamu ngebut”.
“Apa kamu juga takut aku mati dik”. Suara Danang getas.
“Hush…kamu bilang apa mas, aku sungguhan, kamu memang gak pernah menghargai perasaanku mas “.
“Aku selalu menghargai kamu dik, bahkan aku sangat takut bila aku menyakitimu, aku selalu bersaha menjaga perasaan kamu, tapi……………..”.suara Danang terputus, ada yang tercekat ditenggorokannya. Ratih paham betul bahwa Danang super sedih.
“Mas maafkan aku ya, yang jelas dan penting untuk kamu ketahui, sungguh aku sangat sayang kamu, kamu tau kan. Aku teramat sayang mas, tapi aku juga gak boleh egois, aku punya keluarga yang harus kujaga perasaannya. Biarlah mas semua berjalan seperti semula, aku dengan mas Aris dan kamu dengan Ety, “.
“Tapi dik..aku gak bisa”.
“Kamu pasti bisa mas. Sudahlah kita tutup saja cerita kita. Dan mungkin ini telepon yang terakhir dariku, Semoga kamu bahagia mas. Aku sayang kamu”. Dengan cepat Ratih menutup teleponnya, dan ada perasaan lega luar biasa, ketika dia tahu tidak terjadi apa – apa pada Danang. Dengan bergegas dia merapikan diri, siap –siap untuk berangkat.
Danang duduk termangu, masih dibiarkan suara pintu kamarnya diketuk –ketuk dari luar. Tak berapa lama terdengar suara ibunya menenangkan ETY. Suara ketukan pintupun redah. Danang hari ini tidak masuk kerja, Kepalanya terasa pening, perutnya mual, tanda – tanda masuk angin, karena kemarin seharian dia memang belum makan.
Dibiarkannya kondisi tubuhnya yang terasa sakit. Dia merebahkan badannya lagi, mencoba untuk tidur, dipejamkan matanya dengan harapan dia bisa mengusir semua bayangan kejadian kemrin. Tetapi tiba – tiba kelebat memori indah bersama Ratih terpampang lagi dimatanya.
Saat itu pulang kuliah Ratih dan Danang berjalan beriringan, dari tadi Danang menggoda Ratih yang memakai baju hem kuning dipadu dengan rok warna orange bunga flamboyan, sangat kontras, tapi tidak norak, bahkan Ratih terlihat makin ayu, kulitnya yang bersih makin bersinar.
“Dik …..aku mo minta tolong, mau kan “.
“apaan……?”.
“Nih ada teman KKN dari fakultas Bahasa yang pengin dekatin aku”.
“Trus kenapa ?”.
“Ea aku gak mau aja, nah kita kan lewat nih, kebiasaan dia kan makan di kantin , mumpung lewat, kita pura – pura yo “.
“Pura – pura apa mas ?”.
“pura – pura pacaran, jadi ceritanya aku nolak dia secara halus gitu”.
“Teru…………….s, aku harus bantu apa ?’. Ratih menahan rasa gemesnya.
“yah ku mau gandeng tanganmu, bolehkan, janji ntar kalo da lewati FPBS aku lepas deh gandengannya, suer “. Danang memohon sambil mengacungkan dua jarinya bikin janji.
Ratih diam saja, dan dibiarkannya Danang menggandeng tangannya. Sambil senyum – senyum Danang sekali – kali melirik kearah Ratih, Kesenangan seperti anak kecil yang baru dapat permen. Sedang asyiknya berjalan , tiba – tiba dari belakang seseorang menerobos , pegangan tangan Danang terlepas. Rupanya Anton yang sudah mengganggunya.
Ratih kaget dengan spontan dia menjerit kesakitan. “Anton………”.
“ea….. kenapa? Kamu gak suka, tahu gak Ratihku sayang kamu itu dikerjain Danang, itu akal –akalan Danang saja”.
Ratih mendelik dan kelihatan lucu. Dengan perasaan mangkel dikejarnya Danang yang sudah berlari duluan. Dipukulnya pinggang Danang berulang – ulang. Ratih sendiri sempat heran dengan dirinya, kenapa selalu berulang dapat dikerjain cowok ganteng satu ini. Dan entah mengapa Ratih tidak pernah marah atas keisengan Danang. Akhirnya mereka bertigapun berjalan bersama menyususri jalan menuju tempat kost bersama : PANORAMA.
Ah………Danang melenguh sendiri, sepertinya memang dia harus mengubur semua memori manisnya bersama Ratih. Indah tetapi bila dihadapkan dengan kenyataan sangat pahit. Sangat sakit , luar biasa sakitnya .
Ingin dia mengubur dalam – dalam memori itu, ingin dia lari dari kenangan itu, ingin dia lepas dari bayangan Ratih, ingin dia memulai lembaran baru dengan kenangan baru tentunya, bersama Ety mungkin atau gadis – gadis cantik lainnya yang ada disekitarnya, tetapi sungguh Danang tak mampu. Danang tak bisa. Danang merasa sayang untuk mengubur kenangan – kenangan itu, karena kenangan itu sumber energi bagi Danang.
Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Danang belum masuk kerja. Danang sakit, demam tinggi,dan Ety ingin menunjukkan betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki, dengan setia sebelum dan sepulang dari sekolah, dia selalu dampingi Danang, dia merawat Danang dengan sepenuh hati.,dengan harapan Danang mengerti dan memahami keseriusannya.
Sedangkan Danang masih berusaha menghubungi Ratih, dia ingin memberi kabar bahwa sekarang sedang sakit dengan harapan Ratih akan menjenguknya, atau paling tidak mengkhawatirkannya .tetapi nomernya Ratih apabila dihubungi selalu dijawab operator dengan kalimat yang sama “Telepon yang anda tuju sedang diluar jangkauan”..
Ratih memang sudah ganti nomer, Ratih benar – benar ingin menghapus jejak Danang. Ratih bertekad untuk membuka lembaran baru. Dia ingin memulai langkah baru bersama Aris, walau Aris mungkin tidak seganteng Danang tapi cukup simpatik, cool, dan baik. Keluarganyapun sudah mendukung seratus persen.
Dengan mengucap Bismillah , Ratih ingin memulai semuanya dari nol, dia menganggap semua kenangan manis bersama Danang adalah kenangan masa remaja, semua orang pernah mengalaminya, sekarang saat usianya sudah menunjuk keangka dua puluh lima tahun, adalah angka yang harus sudah memikirkan masa depan, dan masa depan itu namanya ARIS.
Pertunangan Danang dan Ety diundur dengan waktu yang belum dapat dipastikan kapan akan diumumkan, dan itu semua dikarenakan kondisi Danang yang masih sakit.
Danang memang sakit, tidak dibuat , atau pura – pura, hanya saja penyebabnya itu yang sulit diketahui, karena dari hasil laboratorium semua negatif, tidak ada masalah. Tetapi badan Danang demam tinggi, lemas tak berdaya.
Kondisi ini membuat orang tua Danang dan teman – teman guru cukup prihatin. Mungkin sebagaian orang yang ada disekeliling Danang ada yang tahu, yah ibunya tahu betul bahwa anaknya sakit bukan karena virus atau bakteri ataupun epidemic penyakit tertentu melainkan karena hatinya yang sakit,
Danang seakan ingin menghukum dirinya sendiri, kemauan untuk bangkit dari keterpurukan sama sekali tidak punya.
Sedangkan Ratih bersama Aris semakin berani memantapkan diri untuk menuju ke pelaminan. Kebersamaan mereka seakan sudah bisa jadi jawaban akan keseriusannya membina hubungan yang berkomitmen.
Pekerjaan Aris sekarang tambah lagi selain sebagai perwira polisi juga jadi sopir pribadi , dengan rutin antar jemput Ratih, bahkan Gatot kakak Ratih sering meledek Aris sebagai sopir bonafide. Tapi itulah yang membuat mereka semakin dekat dan Aris merasa benar – benar bersyukur karena gadis ayu yang dicintainya itu ternyata benar – benar bisa mendampinginya.
Yang kemarin perasaan Aris sempat kebat – kebit melihat kedekatan Ratih dan Danang ternyata berkat kegigihannya Ratih bisa ditaklukan hatinya.
Sekarang Ratih dan Aris mulai sibuk menghitung hari, dan persiapan – persiapan kecilpun mulai dilakukan, walau Ratih sudah berpesan untuk tidak dirayakan secara meriah, tetapi tetap namanya hajatan , apalagi hajatan pengantin yah ada saja yang dipersiapkan. Mulai dari baju, pengantin, foto prewedding, cetak undangan, sebar undangan.
Sedangkan Orang tua Ratih sendiri juga cukup sibuk, karena hajatan nanti dilaksanakan di rumah, maka Bapaknya Ratih sudah mulai panggil tukang untuk mengecat ulang dinding rumah, pagar rumah, memotong dan merapikan tanaman, lain lagi dengan ibunya, selain belanja juga sudah mendatangi tetangganya mbok Supi tukang adang dikampungnya (Tukang memasak nasi), , dan beberapa anak muda yang nantinya jadi pager ayu dan ibu – ibu muda dan bapak – bapak muda untuk menjadi penerima tamu. Hemz….kesibukan itu benat – benar sudah terlihat.
Senja itu Ratih sedang termenung di kamarnya, dia memandang keluar entah pikirannya seakan jauh masuk menembus awan tebal yang menyelimuti langit. .entah mengapa tiba – tiba dia teringat mas Danangnya. Sedang apakah dia ? tapi sebelum pikirannya mengembara tak karuan dia segera menepis bayangan Danang
. Hemz………………sepertinya akan turun hujan, guman Ratih. Sejenak dia terpaku saat mau menutup jendela, tanpa diduga dia melihat kelip bintang yang menyembul diantara awan gelap , dia termenung……………tak habis pikir, kenapa ada bintang disaat akan turun hujan.
Bintang, awan tebal, dan hujan sepertinya kok menggambarkan keadaan dirinya saat ini, Danang..Aris dan ..Aku. pikir Ratih. Danang sang Bintang itu yang tak kuasa menyinari hati Ratih karena terhalang Aris siawan tebal, dan Ratih hanya mampu meneteskan airmatanya… tak bisa berbuat apa – apa..
Hu……………………Ratih menarik nafas panjang seakan ingin melepaskan beban berat yang menindihnya, ditutupnya jendelanya bersamaan dengan suara ibunya yang memanggil namanya.
“Ratih…………….ada tamu :, suara ibu sambil mengetuk pintu kamarnya pelan
“ya bu……sebentar”. Ratih menjawab sambil menyeret langkahnya menuju pintu kamar
Tamunya ternyata perias pengantin yang ingin share tentang baju yang akan dipakai pada saat ijab kabul nanti. Ratih sempat ragu – ragu untuk melangkahkan kepastian pernikahannya dengan Aris, bayangan Danang masih setia menggelayut di relung hatinya, tak bisa diusir walau Ratih sudah berusaha dengan sekuat tenaga.
Memang harus diakui perasaan cintanya pada Danang sangat kuat, bahkan sudah mengakar sehingga hampir seluruh jaringan tubuh Ratih sudah dipenuhi dengan segala macam yang berhubungan dengan DANANG. Tapi Ratih harus tetap melangkah……..dia harus bisa menentukan sikap. Yah Aris adalah masa depannya. Dia tidak boleh lemah, harus kuat, harus dapat memegang janji ,janji untuk jadi pendamping Aris.

Dipublikasi di sastra | Tinggalkan komentar

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)
Mau naik pangkat ?, itu yang pertama ditanyakan oleh Prof. Dr. Ir.H.Suhardjono,Dipl H.E.MPd,sebelum menyampaikan materinya, beliau adalah salah satu anggota Tim tehknis penilai angka kredit guru pusat, didalam bidang karya tulis ilmiah (KTI) guru.
Apabila jawaban kita “YA” maka yang harus kita kerjakan adalah : (1) mengumpulkan angka kredit dan (2) mengusulkan kenaikan pangkat kita. Pertanyaan selanjutnya lalu darimana angka kredit didapat. AK (angka kredit didapat ) dari :
a. Pendidikan
b. Pelaksanaan pembelajaran
c. Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)
d. penunjang
PKB adalah kegiatan pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan berkelanjutan untuk meningkat profesionalnya (Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 pada Bab I pasal 1 butir 5).
Ada 3 (tiga) kegiatan , pada PKB yaitu :
A Pengembangan Diri 1.mengikuti diklat fungsional
2.melaksanakan kegiatan kolektif guru
B Publikasi Ilmiah 1.membuat publikasi ilmiah
2.membuat publikasi buku
C Karya INOVATIF 1.menemukan tehknologi tepat guna
2.menemukan/menciptakan karya seni
3.membuat/memodifikasi alat pelajaran
4.mengikuti pengembangan penyususn standar,pedoman, soal dan sejenisnya

Macam publikasi ilmiah dan berapa angka kreditnya, berdasar Permennegpan dan RB Nomor 16 tahun 2009, terdapat 10 macam publikasi ilmiah, yang masing – masing mempunyai besaran angka kredit yang berbeda
No Macam Publikasi ilmiah kode keterangan Angka kredit
1 Makalah yang dipresentasikan di forum ilmiah 1a Pemrasaran/ nara sumber pada seminar atau lokakarya 0.2
1b Pemrasaran/ nara sumber pada kolokium atau diskusi ilmiah 0,2
3 Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian /gagasan ilmiah dibidang pendidikan formal 2a Berupa buku yang diterbitkan ber ISBN diedarkan secara nasional atau ada pengakuan dari BSNP 4
2b Berupa tulisan (artikel ilmiah) dimuat di jurnal ilmiah tingkat nasional yang terakreditasi 3
2c Berupa tulisan (artikel ilmiah) dimuat dijurnal ilmiah tingkat propinsi 2

2d Berupa tulisan (artikel ilmiah) dimuat dijurnal ilmiah tingkat kabupaten/kota 1
2e Berupa makalah hasil penelitian dan telah diseminarkan di sekolah penulis 4
3 Makalah berupa tinjauan ilmiah 3a Tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan 2
4 Tulisa Ilmiah Populer 4a Artikel ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di media massa tingkat nasional 2
4b Artikel ilmiah populer dibidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di media massa tingkat propinsi 1,5
5 Artikel ilmiah dibidang pendidikan 5a Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di Jurnal tingkat nasional terakreditasi 2
5b Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di Jurnal tingkat nasional tidak terakreditasi/propinsi 1,5
5c Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di Jurnal tingkat lokal/ kabupaten/sekolah/madrasah. 1
6 Buku Pelajaran 6a Buku pelajaran yang lolos penilaian oleh BNSP 6
6b Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit dan berISBN 3
6c Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit tetapi belum ber ISBN 1
7 Modul / Diktat Pembelajaran per semester 7a Modul/diktat yang digunakan tingkat propinsi 1,5
7b Modul/diktat yang digunakan tingkat kabupaten/ kota 1
7c Modul/diktat yang digunakan tingkat sekolah/madrasah 0,5
8 Buku Dalam Bidang Pendidikan 8a Buku dalam bidang pendidikan yang dicetak oleh penerbit dan ber ISBN 3
8b Buku dalam bidang pendidikan yang dicetak oleh penerbit tetapi belum ber ISBN 1,5
9 Karya Terjemahan 9a Karya hasil terjemahan 1
10 Buku Pedoman Guru 10a Buku Pedoman Guru 1,5

Macam Jenis Publikasi untuk setiap jenjang penilaian sebagai berikut :
Dari pangkat/ golongan Ke pangkat/ golongan Angka kredit publikasi ilmiah dan/karya inovatif Macam publikasi ilmiah yang wajib ada
Penata Pertama golongan IIIa Guru Pertama golongan IIIb – -
Guru Pertama golongan IIIb Guru Muda golongan IIIc 4 (empat) Bebas pada jenis karya publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif
Guru Muda golongan IIIc Guru Muda golongan IIId 6 (enam) Bebas pada jenis karya publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif
Guru Muda golongan IIId Guru Madya golongan IVa 8 (delapan) Minimal terdapat 1 (satu) laporan hasil penelitian (kode 2e)
Guru Madya golongan IVa Guru Madya golongan IVb 12 (dua belas) Minimal terdapat 1 (satu) laporan hasil penelitian (kode2e) dan satu (1)

Artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN (2b,2c,atau 2d)
Guru Madya golongan IVb Guru Madya golongan IVc 12 (dua belas Minimal terdapat 1 (satu) laporan hasil penelitian (kode2e) dan satu (1)

Artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN (2b,2c,atau 2d
Guru Madya golongan IVc Guru Utama golongan IVd 14 (empat belas) Minimal terdapat 1 (satu) laporan hasil penelitian (kode2e) dan 1 (satu)

Artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN (2b,2c,atau 2d dan 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISSN (6a, atau 6b)
Guru Utama golongan IVd Guru Utama golongan IVe 20 (dua puluh) Minimal terdapat 1 (satu) laporan hasil penelitian (kode2e) dan 1 (satu)

Artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN (2b,2c,atau 2d dan 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISSN (6a, atau 6b)

Bagaimana mempuplikasikan laporan PTK ?
Berdasarkan pada Pernennaegpan dan RB Nomer 16 tahun 2009, PTK dapat dipublikasikan dalam 3 bentuk yaitu:
1. Buku : publikasi bentuk buku adalah berupa buku yang berisi laporan hasil penelitian yang diterbitkan/ dipublikasikan dalam bentuk buku ber ISBN dan telah mendapat pengakuan BNSP. Nilai angka kreditnya 4.
2. Artikel Ilmiah pada majalah ilmiah/jurnal ilmiah : laporan hasil penelitian yang disusun menjadi artikel ilmiah diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah ilmiah/jurnal ilmiah yang diedarkan secara nasional dan terakreditasi (angka kredit 3), atau jurnal ilmiah tingkat propinsi (angka kredit 2) atau jurnal ilmiah tingkat kabupaten/kota (angka kredit 1).
3. Makalah laporan hasil penelitian : berupa makalah yang telah diseminarkan di sekolah/madrasahnya dan disimpan di perpustakaan (angka kredit 4).
Bagaimana Kerangka Isi Publikasi Ilmiah PTK
1. Bagian Awal terdiri dari (a) hlaman judul, (b) lembar peersetujuan dan pernyataan dari Kepala Sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari penulis, (c) Pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan di perpustakaan sekolah/madrasah , (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangani oleh penulis, (e) kata pengantar, (f) daftar isi (bila ada daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran), (g) abstraksi/ ringkasan
2. Bagian Isi pada umumnya terdiri dari beberapa bab :
A. Bab I : pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat.
B. Bab II : Kajian/ Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori/ pustaka yang berkesesuaian dengan permasalahan yang dikaji. Juga kajian teori yang berkaitan dengan macam tindakan yang akan dilakukan, proses tindakan, ketepatan dan kesesuaian tindakan dengan tujuan yang diharapkan terjadi dengan adanya tindakan tersebut.
C. Bab III Metode penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian (terutama prosedur diagnosis masalah, penjelasan rinci tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi ,prosedur refleksi, serta hasil penelitian).
D. Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan, dimulai dari setting atau pengaturas siswa, penjelasan umum jalannya pembelajaran diikuti penjelasan siklus demi siklus . Akhir dari bab ini adalah pembahasan, yaitu pendapat peneliti tentang bagaimana keunggulan pembahasan , yaitu pendapat peneliti tentang bagaimana keunggulan dan kelemahan dari tindakan serta kemungkinannya untuk diterapkan lagi untuk memperoleh gambaran model tindakan ini sebagai metode mengajar yang dipandang kreatif dan inovatif.
E. Bab V Simpulan dan saran
3. Bagian Penunjang : umumnya terdiri dari daftar pustaka dan lampiran. Lampiran utama yang harus disertakan :
A. Semua instrumen yang digunakan untuk mengukur proses pembelajaran yang berupa (a) isian lembar observasi, (b) isian pengamatan tentang aktivitas kelas (c) isian atau check list tentang aktivitas siswa.
B. Semua instrumen yang Telah diisi dan divalidasi yang dipergunakan untuk pengukuran hasil belajar, seperti test , angket, wawancara dll.
C. Semua dokumen yang memberikan bukti bahwa PTK tersebut telah dilakukan sesuai dengan rencana, antara lain : ijin kepala sekolah, daftar hadir siswa, catatan harian kegiatan, rancangan pembelajaran, bahan – bahan ajar, foto – foto kegiatan yang menginformasikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dll.
D. Semua dokumen yang membuktikan bahwa PTK telah diseminarkan di sekolahnya . Lampiran ini harus ada (a) berita acara seminar, (b) daftar hadir peserta , (c) keterangan dari kepala sekolah, (d) foto – foto, (e) makalah ringkasan/ power point.
Penyebab PTK ditolak :
1. Tidak jelas apa , bagaimana, dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus – siklus berikutnya.
2. Berupa laporan pembelajaran yang biasa . tahapan dalam siklus sama dengan tahapan biasa. PTK bukan pembelajaran biasa tetapi merupakan proses mencoba dan menganalisis penggunaan metode baru yang diutamakan bukan hanya hasil tapi prosesnya.
3. Metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada siswa atau lampiran – lampiran belum lengkap.
4. Tidak terdapat uraian tentang pelaksanaan tindakan dan perubahan yang terjadi pada setiap siklus.
5. Belum melampirkan secara lengkap berbagai macam dokumen yang mampu meyakinkan bahwa penelitian tersebut telah dilakukan sesuai dengan apa yang dilaporkan.
6. Tidak sesuai pedoman penulisan
7. KTI bukan buatan sendiri.

Daftar Pustaka :
Suhardjono, Suparno, Supriadi, Abdul Azis Husein (2013), Publikasi Ilmiah dalam
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, Malang, Cakrawala Indonesia
Suhardjono, 24 Tanya Jawab PTK sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Guru,makalah,
Peningkatan kompetensi dan Profesional Guru, Maret 2014

Dipublikasi di motivasi | Tinggalkan komentar

TIPS UNTUK SEKOLAH (TK) YANG KURANG FINANSIAL AGAR TETAP EKSIS

TIPS UNTUK SEKOLAH (TK) YANG KURANG FINANSIAL AGAR TETAP EKSIS.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar