Meningkatkan kreativitas menggambar anak TK

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

  1.  Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri (aktualisasi diri) dan merupakan kebutuhan paling tinggi bagi manusia . Pada dasarnya  setiap orang dilahirkan di dunia dengan memiliki potensi kreatif. Kreativitas dapat diidentifikasi (ditemukenali) dan dipupuk melalui pendidikan yang tepat. 

 

  1. Pengertian  Kreativitas.

Guilfrod 1959 (dalam Munandar  2009:271) menyatakan kreativitas merupakan kemampuan berfikir divergen atau pemikiran menjajaki bermacam – macam alternative jawaban terhadap suatu persoalan yang sama benarnya.  

Sedangkan menurut Chaplin 1989  (dalam  Rachmawati 2005 :15) mengatakan bahwa kreativitas  adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni. Atau dalam persenian atau dalam memecahkan masalah dengan metode – metode baru.

Menurut James J.Dallagher 1985 (dalam Yeni & Euis 2010 :13) mengatakan bahwa “ Creativity is a mental  pricess by  which on individual creates  now ideas  and product  in fashion that is novel  to him or her.” (Kreativitas  merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan atau produk  baru atau mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat  pada dirinya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru, maupun karya nyata yang berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya dan merupakan hasil dari pikiran yang berdaya serta dan memecahkan masalah sesuai dengan tingkat berfikirnya..

 

  1. 2.             Ciri – ciri Kreativitas

         Dunia kognitif anak taman kanak – kanak ialah kreatif, bebas  dan penuh imajinasi. Imajinasi anak taman kanak – kanak  terus bekerja , dan daya serap mental mereka  tentang dunia meningkat (Santrock ,1995:228)

           Manurut Paul Torance (dalam Suratno , 2005:11 – 14 ) menyebutkan bahwa ciri – ciri tindakan  kreatif anak TK adalah :

                   a.Anak TK yang kreatif belajar dengan cara – cara yang kreatif.

                                Guru dalam membelajarkan anak  sesuai dengan kebutuhan dan keinginan, maka anak akan belajar secara mengesannkan. Pada umumnya anak menyenangi  eksperimen, eksplorasi, manipulasi dan permainan).

                   b.Anak TK yang kreatif  memiliki rentang perhatian yang  panjang terhadap  yang membutuhkan usaha kreatif.

                            Pada umumnya anak  mempunyai perhatian dan tertarik  terhadap sesuatu yang baru, hanya akan bertahan selama 15 menit, kemudian anak bosan dan meninggalkan.  Hal tersebut jauh berbeda dengan anak kreatif . Anak kreatif dalam mengeksplorasi, eksperimen, memanipulasi dan memainnkan  bisa lebih lama waktu yang dibutuhkan.

                   c.Anak kreatif mempunyai suatu kemampuan mengorganisasikan yang menakjubkan.

                             Dalam sekelompok anak ketika sedang bermain sering ditemukan ada anak yang sekedar jadi pengikut, tetapi ada yang lebih aktif. Anak yang kreatif pada umumnya pandai dalam mengorganisasikan teman – temannya untuk mengikuti apa yang diinginkan. Anak yang kreatif adalah anak yang berdaya , dengan demikian anak kreatif sering merasa lebih daripada anak yang lain.

                   d.Anak yang kreatif dapat kembali pada sesuatu  yang sudah dikenalnya  dan melihat dari cara yang berbeda.

                            Anak kreatif  merupakan anak yang  suka belajar untuk memperoleh pengalaman. Anak tidak lekas bosan  untuk mendapatkan pengalaman yang sama berkali – kali.

                   e.Anak yang kreatif belajar banyak  melalui fantasi  dan memecahkan masalah dengan menggunakan pengalamannya.

                             Anak kreatif akan selalu haus akan pengalaman baru.  Dengan demikian anak kreatif  tidak bosan – bosannya belajar untuk memperoleh pengalaman baru.

                   f. Anak kreatif menikmati permainan dengan kata – kata  dan tempat sebagai pencerita yang alamiah.

                            Ada beberapa pertimbangan dasar mengapa kreativitas perlu dipupuk sejak dini.Selain karena usia prasekolah merupakan usia yang subur untuk mengembangkan kreativitas anak. Juga anak taman kanak –kanak memiliki banyak ciri  kepribadian kreatif. Kreatif anak taman  kanak – kanak  nampak dari kecenderungan  untuk mengenal dunianya, menjajaki lingkungannya, menemukan sesuatu  yang baru (baru bagi dirinya), membentuk dengan  cara – cara yang unik dan kreatif.

Guilfrod 1959 ( dalam Munandar 2009:271)) mengemukakan cirri – ciri kreativitas    sebagai berikut :

    1. Kelancaran berfikir (Fluency of thinking) yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran berfikir , yang ditekankan adalah kuantitas dan bukan kualitas.
  1. Keluwesan berfikir (Flexibility) yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide,  jawaban – jawaban atau pertanyaan – pertanyaan  yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda – beda, mencari cara atau alternative yang berbeda – beda, serta mampu menggunakan bermacam – macam pendekatan atau cara pemikiran. Orang yang kreativ adalah orang yang luwes dalam berfikir. Mereka dengan mudah dapat meninggalkan cara berfikir lama dan menggantikannya                                             
    1. Elaborati (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan menambahkan atau memperinci detail – detail suatu objek , gagasan atau situasi sehingga menjadi menarik.
    2. Originalitas (originality),  yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.

Ciri – ciri pribadi kreatif anak taman kanak –kanak  dapat didapatkan  apabila anak dibimbing  dengan benar oleh guru/pembimbingnya. Anak yang kreatif tidak  tidak harus memiliki  semua pribadi tersebut diatas, tetapi apabila  dua atau tiga dari ciri tersebut diatas sudah dimiliki anak , maka anak tersebut sudah termasuk kreatif.

 

  1. 3.             Bentuk  Kreativitas Anak Taman Kanak – kanak

       Kreativitas  anak didorong kefitrahannya sebagai manusia yang berfikir. Anak menjadi kreatif juga  karena mereka membutuhkan  pemuasan dorongan emosi. Kreativitas anak  dikoridori  oleh keunikan gagasan dan tumbuhnya imajinasi  serta fantasi. Anak – anak yang kreatif  sensitif terhadap stimulasi. Mereka juga tidak dibatasi oleh frame – frame  apapun. Artinya , mereka memiliki  kebebasan dan keleluasaan beraktivitas. Sedangkan bentuk kreativitas pada anak taman kanak – kanak dapat digambarkan seperti berikut :

 

Tabel 2.1 : Bentuk Kreatifitas Anaka Taman – Kanak

No

Bidang

Bentuk Kreativitas

1

Bahasa

Humor (kejutan, release, ketidaksinkronan)

Coinage, bermain peran

Teka – Teki , permainan bahasa

Menebak lirik, membelokkan lirik

2

Musik

Mencipta lagu, bersenandung

Mengisi kata – kata dalam lagu

Menebak nada, membelokkan nada

Memukul benda, menikmati bunyinya

4

Visual

Menggambar sesuai imajinasi

Memberi warna sesuai keinginan

Menggambar sesuai persepsi

Bermain bayangan

5

Kinestetic  Sosial

Berjoged dan membuat gerakan/ tarian sendiri

Gerak dan lagu

Menirukan gerakan orang (senam fantasi)

(dikutip dari :

:staf.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KREATIVITASANAKUSIADINI.pdf)

 

    

 

  1. 4.             Faktor – faktor yang yang mempengaruhi perkembangan kreatifitas

              Davis 1873 (dalam Slameto 2010 :154) menyatakan adanya  tida faktor yang perlu diperhatikan dalam  pengembangan kreativitas yaitu :

a.Sikap individu

   Mencakup  tujuan untuk menemukan gagasan baru serta produk  dan pemecahan baru.

b.Kemampuan dasar yang diperlukan

    Mencakup berbagai  kemampuan berfikir konvergen dan divergen . Konvergen artinya  pertumbuhan dan perkembangan  yang dialami anak, adalah pengaruh dari lingkungan dan pembawaan. Diverden adalah  aktivitas mental anak  yang asli murni  dan baru yang berbeda  dari pola pikir sehari – hari  dan menghasilkan lebih dari satu pemecahan persoalan/masalah.

c.Tehnik – tehnik yang diperlukan dalam mengembangkan kreativitas :

                      1). Melakukan pendekatan “inquiry”  (pencaritahuan). Pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan semua proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip ilmiah.

                       2). Menggunakan tehnik – tehnik sumbang saran ( brainstroming). Didalam pendekatan ini suatu masalah dikemukakan  dan siswa diminta untuk mengemukakan gagasan – gagasannya.

                       3).  Memberikan penghargaan bagi prestasi kreativ.  Penghargaan yang diterima anak akan mempengaruhi konsep diri secara positif yang meningkatkan  keyajinan diri siswa.

                    4).  Meningkatkan pemikiran kreatif  melalui banyak media. Sasaran pendidikan dan kurikulum perlu dianalisa untuk mengetahui fungsi – fungsi mental apa yang akan dituju dalam pendidikan.

Sedangkan Hurlock (1978 :11)) mengemukakan beberapa kondisi yang mempengaruhi kreativitas yaitu :

a.  Waktu artinya untuk menjadi kreatif, kegiatan anak tidak diatur/ dibatasi  karena anak akan sulit bermain – main dengan gagasan  dan konsep serta mencoba dalam bentuk baru.

b.  Kesempatan menyendiri artinya anak akan menjadi kreatif bila tidak mendapat tekanan dari kelompok social.

c.  Dorongan artinya orang tua / guru sebaiknya dapat member motivasi pada anak, bukan mengejek kelemahan anak.

d. Sarana belajar dan bermain untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksplorasi yang merupakan unsure penting dan kreatif.

e. Lingkungan yang merangsang artinya lingkungan rumah atau sekolah harus mampu memberikan bimbingan dan dorongan untuk memotivasi anak.

f.   Cara mendidik anak, artinya cara mendidik yang demokratis dan permisif akan dapat meningkatkan kreativitas anak, sebaliknya yang otoriter dapat memadamkan kreativitas anak.

h. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan artinya semakin banyak pengetahuan akan semakin baik dasar anak untuk mengembangkan kreativitas anak.

                 Dari paparan tersebut di atas penulis dapat  menyimpulkan bahwa ada banyak kondisi yang dapat diciptakan untuk meningkatkan kreativitas anak yang diantaranya dengan menyediakan waktu , memberi kesempatan untuk menyendiri,  dorongan atau motivasi dan juga sarana, dan  cara mendidik anak. Cara mendidik anak yang dimaksud dalam penelitian ini adalan pemberian konseling kelompok dengan pendekatan behavioristik.

 

  1. Menggambar
  1. Pengertian Menggambar

Menggambar sebagai salah satu bentuk seni yang diberikan pada anak usia dini (Taman Kanak – Kanak ) Aktivitas menggambar dimaknai untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian anak agar kemampuan logika dan emosinya tumbuh berkembang dengan seimbang. Seperti yang  diungkapkan oleh  Indrati (2005 :4)  bahwa dengan menggambar  anak bisa mengeluarkan ekspresi  dan imajinasinya tanpa batas. Pada proses inilah anak dapat mengembangkan  gagasan, menyalurkan emosinya,  menumbuhkan minat seni dan kreativitasnya.

Visualisasi tindakan kreativ mampu terungkap dalam karya seni atau hasil dari imajinasi yang dimiliki anak..Pengalaman atau peristiwa yang dialami anak tersebut , dirasa dan diolah dalam bentuk imajinasi sebagai langkah awal tindak  kreatif  (belum direalisasikan ) . Sesuai dengan pendapat  Rohidi (2000:120) bahwa dunia seni adalah dunia imajinasi , maka sudah pada tempatnyalah apabila anak menceritakan imajinasinya itu kedalam bentuk suatu karya seni yaitu dengan menggambar..

Menggambar bagi anak adalah bentuk dari hasil pengalaman ekspresi dan imajinasinya yang kreatif. Dalam menggambar bentuk ekspresi emosional adalah ungkapan kebebasan dan demokrasi berfikir, berkreasi, dan bertindak positif. Lebih mengutamakan kepentingan ungkapan fungsi jiwa yang menekankan pada proses kegiatan untuk mengembangkan  kepribadian.  Menggambar adalah kegiatan – kegiatn membentuk imajinasi dengan menggunakan banyak pilihan tehnik dan alat.bisa pula menggambar mempunyai arti membuat tanda – tanda tertentu  diatas permukaan dengan mengolah goresan dari alat gambar (Wikipedia Indonesia :2009)

Melalui menggambar anak dapat merefleksikan kebutuhan jiwa dan fisiknya (gerakan tangan ) sehingga begitu banyak manfaat dari menggambar. Secara leluasa  anak dapat memilih media yang akan dipakai ,sehingga melalui menggambar mereka mempunyai kesempatan bereksplorasi terhadap media tersebut.

Secara visual anak dapat mengkomunikasikan permainan dan cerita yang dibangun melalui ekspresi, imajinasi dan kreasinya sehingga bentuk  – bentuk  gambar mereka sebenarnya adalah symbol yang dimaknai sebagi bentuk gagasan yang imajinatif dan kreatif.  Yang secara kognitif membutuhkan binaan.  Melalui menggambar anak dapat merefleksikan kebutuhan  jiwa dan fisiknya , karena untuk anak TK, gambar adalah bentuk komunikasi yang divisualkan.

 

  1. 2.         Pengajaran Menggambar di TK

                  Pengajaran menggambar (bagian dari aspek seni ) bertujuan supaya anak mempunyai kemampuan dasar untuk mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai media (Depdiknas 2004:25). Berarti bahwa dalam pengajaran menggambar digunakan pendekatan yang berbasis anak (student centered ) dengan tipe demokratis

                Menurut Sudjana(1989:158) Dengan melalui tahapan – tahapan dalam pembelajaran menggambar di taman kanak – kanak sesuai dengan  kurikulum 2004 yang dilakukan dengan pendekatan tema dapat disampaikan pada anak disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau lingkungan setempat. Sajian tema sebagai materi pembelajaran menggambar tidak lepas dari tujuan membina fungsi – fungsi jiwa anak yaitu kreasi, imajinasi dan ekspresi dengan tidak terlepas dari fungsi ketrampilannya. (dalam hal ini spontanitas dalam menggores).

Dalam proses penciptaan seni rupa (menggambar)  di taman kanak – kanak dapat dikategorikan sebagai berikut:

a).  Mengamati (seeing) , yang memberi kesempatan / peluang untuk mengembangkan kepekaan persepsi ( perceptual awareness) melalui kegiatan  mengembangkan penglihatan kritis.

b). Mersakan (Feeling), yang memberi peluang untuk  mengembangkan “respon estetis”  (Aesthetic  awareness) melalui kegiatan apresiasi  dan pengembangan kepekaan penilaian  estetis.

c). Berpikir (Thinking) , yang memberi peluang  untuk mengembangkan  kemampuan mengevaluasi  dan mengapresiasi melalui evaluasi objektif  dan diskriminasi /perbedaan personal.

d). Melakukan (Doing) , yang  memberikan peluang untuk mengembangkan ketrampilan  (Skills), memanipulasi alat dan media dalam menghadirkan visual  – form (bentuk – bentuk visual) yang merupakan ungkapan  emosi, gagasan dan perasaan.

 (dikutip dati :bangrahman.blogspot.com/2009/eskul.html.)

Dapat disimpulkan disini dalam proses belajar menggambar yang mencakup berbagai tema sesuai dengan kurikulum TK bertujuan untuk memenuhi kepentingan perkembangan potensi anak. tersirat didalamnya yaitu pembentukan fungsi jiwa anak dalam bentuk karya gambarnya.

 

 

  1. Konseling Kelompok dengan pendekatan behavioristik

                       Pandangan  behavioristik menekankan  bahwa pola – pola perilaku dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan (reinforcement) dengan mengkondisikan stimulus (conditioning) dalam lingkungan (enviornmentalistik) , dengan demikian  perubahan perilaku (behavior change) dapat terjadi. dalam konteks pandangan  behaviorisme , dapat dinyatakan bahwa praktek pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha  conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan pula menghasilkan pola- pola perilaku (seperangkat response) tertentu. Prestasi belajar (achievement) dalam term –term pengetahuan (penalaran), sikap (penghayatan), dan ketrampilan (pengamalan), merupakan indicator – indicator atau manifestasi dari perubahan dan perkembangan perilaku yang dimaksud. (dikutip dari :arsury.blog.spot.com/2011/04/pendekatan-behavioristik-dalam.html)

 

  1. Pengertian Pendekatan behavioristik

Pendekatan behavioristik adalah merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu.  Pendekatan Behavioristik menitik beratkan kepada perubahan tingkah lakusetiap anak didik ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar itulah yang disebut dengan pendekatan behavioristik. (dikutip dari :yudagumelar.blogspot.com/2011/07/pendekatan-behavioristik-html)

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seorang anak  dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan  perubahan perilakunya

Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum – hukum mekalistik.  Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar , baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak , berupa reaksi fisik terhadap stimulans.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Menurut  ( Vitalis : 2010 : 38) perubahan perilaku dalam behavioristik itu harus diusahakan melalui suatu proses belajar (learning) atau belajar kembali (relearning) yang berlangsung selama proses konseling. Oleh karena itu proses konseling dipandang sebagai suatu proses pendidikan (an educational proceses) yang terpusat pada usaha membantu dan kesediaan dibantu untuk belajar perilaku baru dan dengan demikian mengatasi berbagai macam permasalahan. Penekanan pendekatan behavioristik ini adalah perubahan tingkah laku setelah proses belajar.

  1. 2.      Teori Belajar Behavioristik

Teori Belajar behavioristk adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu menjadi berkembang menjadi aliran psikhologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristk. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar .(Wikipedia Indonesia :2012)  Tokoh – tokoh aliran behavioristik :

  1. Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme.

Menurut Thorndike ,belajar merupakan proses interaksi antara  stimulus (S)  dengan Respon (R). Stimulus adalah  apa yang merangsang  terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,  perasaan atau hal – hal lain yang dapat ditangkap  melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar yang dapat berupa pikiran, perasaan atau tindakan/ gerakan.

  1. Burrhus Frederic Skinner.

Skinner  mengatakan  bahwa  sumber  terpenting  dalam     belajar  adalah   penguatan.  Maksudnya  adalah   pengetahuan  yang  terbentuk    melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi  penguatan   ini menjadi  2 : penguatan positif  (reward)  dan penguatan negative (punishment).

  1. Robert Gadgne (Modern  Neobehaviouris)

Gadgne mendorong guru untuk merencanakan instruksional   pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.     Ketrampilan      paling rendah menjadi dasar pembentukan kemampuan yang paling tinggi dalam hirarki ketrampilan intelektual.  Belajar  dimulai dari  hal   yang     paling sederhana dilanjutkan pada yang lebih kompleks.

 

3 .  Prinsip Kerja Tehnik Behavioristik.

a. .Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan . Agar anak terdorong     untuk merubah tingkah lakunya , penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistimatis dan nyata – nyata ditampilkan melalui tingkah laku anak.

b. . Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.

c. Memberikan penguatan terhadap respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.

d. .Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model .

e. .Merencanakan prosesdur pemberian penguatan tingkah laku yang diinginkan dengan system kontrak/perjanjian .(dikutip dari:http://djejakpro-blog.spot.com/2011/03/pendekatan-behaviorisme-dalam-konseling.html)

          4.Implikasi Dalam Pembelajaran Kegiatan Menggambar

Aplikasi teori belajar behavioristik terhadap kegiatan menggambar di taman kanak – kanak adalah bahwa guru harus memperhatikan beberapa hal :

a. .Mementingkan pengaruh lngkungan.

b. .Mementingkan bagian- bagian.

c. .Mementingkan peranan reaksi.

d. .Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur Stmulus – Respon ( S – R).

e. .Mementingkan peranan kemampuan yang sudah  terbentuk sebelumnya.

f. .Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.

g. .Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Sebagai konsekuensi teori behavioristik guru akan menyusun program (bahan pembelajaran) dalam bentuk yang sudah siap. Guru tidak banyak mem,beri ceramah tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh – contoh , sedangkan  materi pelajaran disusun dari yang paling sederhana menuju yang kompleks. Pembelajaran berorientasi pada hasil belajar  yang dapat diukur dan diamati(dikutip dari : www.my way blogspot,com/2011/12/belajar –dengan-pendekatan-beahavioristik.html)

.  Dalam kegiatan menggambar   yang diukur adalah hasil karya anak. Tujuan pembelajaran ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu,  dalam penelitian ini  tujuan yang ingin dicapai adalah kreativitas anak dalam menggambar. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan (kreativitas ) anak akhirnya dapat menjadi kebiasaan. Hasil belajar yang diinginkan dalam pendekatan behavioristik adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan yaitu kreativitas menggambar. Perilaku yang sesuai dengan indicator kreativitas akan mendapatkan penguatan positif berupa bintang (*).

 

        5. Tujuan dan Langkah – langkah  Konseling Behavioristik

Tujuan dari konseling behavioral adalah menghapus atau menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan tingkah laku adaptif sesuai keinginan klien (anak). 

Adapun langkah – langkah konseling behavioral adalah sebagai berikut (dikutip dari : http://djejak-pro.blogspot.com/2011/03 /pendekatan -behaviorisme-dalam -konseling.html)

           1.Assesment  yaitu mengeksplorasi dinamika perkembangan anak. Pembimbing menolong   anak untuk mengemukakan keadaan yang sebenarnya pada saat itu, meliputi : kesuksesan dan kegagalan, kekuatan dan kelemahan, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya.

      2   Goal setting : langkah untuk merumuskan tujuan konseling.

           3 Tencnique implementation yaitu menentukan dan melaksanakan   tehnik  konseling yang    akan digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan  yang menjadi tujuan konseling.

      4 Evaluation termination : melakukan kegiatan penilaian apakah  kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai tujuan konseling.

           5 Feedback : memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

 

6.Keunggulan  Pendekatan Behavioristik.

Proses belajar mengajar  baru akan berhasil apabila guru /pembimbing  mampu mengetahui karakteristik  siswa saat mengikuti proses belajar mengajar. Teori behavioristik sangat menekankan pada  hasil belajar yaitu perubahan tingkah laku  yang dapat dilihat . Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan  atau respon yang muncul terhadap stimulus yang diberikan pembimbing/guru.

Menurut Pavlo dalam umar (1995:195) bahwa yang menjadi keunggulan dalam pendekatan behavioristik , yaitu pandangan yang menekankan peranan stimulus  (rangsangan) terhadap  perilaku seperti dalam classical conditioning  atau respondent learning, peranan dari dampak atau balikan dari sesuatu perilaku. menekankan peranan pengamatan dan imitasi. Dalam pendekatan behavioristik  mengutamakan unsure – unsure atau bagian kecil, yang bersifat mekanistis , menekankan pada peranan linkungan, mementingkan pembentukan  reaksi atau respon, serta menekankan pentingnyalatihan.(dikutipdari:http://yudagmelaar.blogspot.com..2011/07.pendekatan behavioristik.html).

 

 

 

 

 

  1.  Kerangka Pemikiran

             Kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak dan dapat dilahirkan dari orang yang cerdas yang memiliki kondisi psikhologis yang sehat. Kreativitas  menggambar anak taman kanak – kanak yang indikatornya  adalah antara lain ;keaslian (originality),  keluwesan (flexibilitas), kelancaran (fluency) dan penguraian/ keterperincian (elaboraty) perlu dtingkatkan , karena kreativitas tidak hanya kemampuan otak saja, namun perkembangan emosi dan kesehatan mental sangat berpengaruh untuk melalui karya kreatif.

                Peneliti punya pendapat bahwa melalui konseling kelompok dengan pendekatan beavioristik  dapat meningkatkan kreativitas menggambar anak . konseling kelompok dengan pendekatan behavioristik juga  dapat digunakan untuk perkembangan ketika imajinasi kreativ dibuat anak, maka perasaan menghargai  diri sendiri akan berkembang , anak – anak menemukan kebebasan dalam berekspresi dan bereksplorasi.

Dibawah ini pneliti gambarkan dalam bagan :

 

 

 

 

 

 

 

Tabel : 2.2  bagan kerangka  pemikiran

 

Konseling Kelompok Dengan Pendekatan Behavioristik

Indikator Kreativitas menggambar :

  1. Originality (keaslian).
  2. Flexibilitas (keluwesan)
  3. Fluency (Kelancaran).
  4. Elaborati (keterperincian)

 

Kreativitas Seni (Menggambar ) Anak TK

 

  1.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E Hipotesis Tindakan

                 Berdasarkan kajian teori  dan kerangka pemikiran yamg telah diuraikan diatas , maka peneliti mempunyai  hipotesis  tindakan sebagai berikut  ada peningkatan kreativitas menggambar melalui konseling kelompok dengan pendekatan behavioristik pada anak TK Negeri Pembina Kawedanan pada tahun ajaran 2011 – 2012

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s