PENGEMBANGAN KREATIVITAS SENI MEWARNAI MELALUI TERAPI MENGGAMBAR  PADA ANAK TK

( Intisari   PTK)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perkembangan kreativitas siswa kelompok A dalam kegiatan seni mewarnai melalui terapi menggambar. TK Negeri Pembina Kawedanan dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan bahwa berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dengan guru kelas, tidak semua siswa kelompok A memiliki kreativitas dalam seni mewarnai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan melalui tiga siklus pelaksanaan. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan hasil sebesar 61,25% kreativitas, 58,75% untuk gradasi. Pada siklus II diperoleh hasil sebesar 81,25% kreativitas, 75% gradasi. Sedangkan pada siklus III diperoleh hasil sebesar 93,75% untuk kreativitas, 88,75% untuk gradasi (perpaduan warna). Melalui hasil tersebut dapat dilihat bahwa ada peningkatan kreativitas seni mewarnai melalui terapi menggambar pada setiap siklus. Berdasarkan hasil penelitian yang disampaikan peneliti memberi saran sebagai upaya untuk mengembangkan kreativitas seni mewarnai, guru diharapkan mampu mengaplikasikan berbagai ketrampilan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan materi pembelajaran yang akan disampaikan.

Kata Kunci :    Kreativitas, Seni Mewarnai, Terapi Menggambar

Pendahuluan

Kreativitas merupakan istilah yang banyak digunakan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Pada hakekatnya kreatif berhubungan dengan penemuan sesuatu mengenai hal yang menghasilkan sesuatu yang baru dengan menggunakan sesuatu yang telah ada. Sesuatu yang baru itu mungkin berupa perbuatan atau tingkah laku hasil-hasil kesusastraan dan lain-lain.

Peran guru dalam pembelajaran adalah mengembangkan kreativitas anak salah satunya mengembangkan kreativitas mewarna, karena dengan seni mewarna anak dapat menyampaikan ekspresinya sehingga otak kiri maupun otak kanan dapat berkembang secara optimal dan seimbang.

Dalam kenyataan kreativitas anak dalam seni mewarna masih memerlukan banyak bimbingan dan stimulasi dalam pembelajaran. Masih banyak siswa taman kanak-kanak yang hanya mengenal 2 atau 3 dari sekian jumlah warna, sehingga hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu upaya untuk merangsang kreativitas anak agar mampu mengembangkan kreativitasnya dalam seni mewarna adalah melalui terapi menggambar, karena dengan menggambar dan mewarna anak lebih mudah mengembangkan imajinasinya. Dengan menggambar dan mewarnai anak lebih mudah mengembangkan imajinasinya. Anak lebih kreatif, mampu berinisiatif, mengekspresikan diri, menemukan kegembiraan dan untuk menumbuhkan perasaan menghargai diri sendiri berkembang. Karena anak yang enggan atau malas luka atau kejam dapat menemukan kegembiraan dan kebebasan melalui menggambar. Bahkan dapat digunakan untuk perkembangan dan membebaskan mereka dari rasa malu serta menghalangi anak yang suka mengasingkan diri.

Pemilihan terapi menggambar sebagai upaya mengembangkan kreativitas anak dalam seni mewarna disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak yang dimulai dari bermain sambil belajar. Untuk mengembangkan kreativitas dalam seni mewarna siswa dituntut harus kreatif, selain itu faktor guru sangat dominan dalam membimbing siswa. Agar kemampuan tersebut dapat dicapai guru menggunakan teknik atau metode pembelajaran.

James J. Gallagher, 1985 (dalam Yeni & Euis, 2010 : 13) mengatakan bahwa “Creativity is a mental process by which an individual creates new ideas or products, or recombines existing ideas and product, in fashion that is novel to him or her.” (kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru atau mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya).

Chaplin, 1989 (dalam Yeni & Euis, 2010 : 14) mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni atau dalam permesinan, atau dalam memecahkan permasalahan dengan metode-metode baru.

Guilford, 1959 (dalam Munandar, 2009 : 271) menyatakan ciri-ciri utama kreativitas meliputi kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan orisinilitas dalam berpikir.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli yang dimaksud kreativitas adalah : (1) Suatu kemampuan menemukan gagasan baru yang efektif dan memecahkan masalah dengan metode yang baru. (2) Suatu proses mental yang dilakukan individu untuk menghasilkan produk baru. (3) Memiliki ciri-ciri kognitif fleksibel, orisinil dan kelancaran.

Kreativitas dimiliki oleh orang yang cerdas dan memiliki kondisi psikologis yang sehat.

Supriadi, 1994 (dalam Yeni, 2010:15) mengatakan bahwa proses perilaku kreatif dikelompokkan dalam dua kategori kognitif dan non kognitif. Perilaku ini diantaranya : (1) Orisinilitas (keaslian); (2)Fleksibelitas (keluwesan); (3) Fluency (kelancaran); (4) Elaborasi (keterperincian). Sedangkan ciri non kognitif diantaranya : (1) Motivasi sikap; (2) Kepribadian kreatif.

Sund (1975) (dalam Slameto, 2010 : 147) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut : (1) Hasrat keingintahuan yang besar; (2) Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru; (3) Panjang akal; (4) Keinginan untuk menemukan dan meneliti; (5) Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit; (6) Cenderung mencari jawaban yang luas dan menyenangkan; (7) Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas; (8) Berfikir fleksibel; (9) Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak; (10) Kemampuan membuat analisis dan sitesis; (11) Memiliki semangat bertanya serta meneliti; (12) Memiliki data abstraksi yang cukup baik; (13) Memiliki latar belakang membaca yang luas.

Supriadi 1994 (dalam Yeni dan Evis, 2010:15), menyatakan ciri-ciri kepribadian yang kreatif yang ditemukan dalam berbagai studi antara lain sebagai berikut :  1) Terbuka terhadap pengalaman baru; 2) Fleksibel dalam berpikir dan merespons; 3) Bebas menyatakan pendapat dan perasaan; 4) Menghargai fantasi; 5) Kaya inisiatif; 6) Percaya diri dan mandiri; 7) Memiliki gagasan yang orisinal; 8) Tekun, tidak mudah bosan; 9) Tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah; 10) Menggunakan waktu luang untuk kegiatan bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri; 11) Kritis terhadap pendapat orang lain; 12) Memiliki kesadaran etika moral dan estetika yang tinggi.

Ayan 2002 (dalam Yeni dan Euis, 2010:17) ciri-ciri kepribadian orang kreatif antara lain : (1) Sinis; (2) Sulit ditebak; (3) Kadang pemberontak; (4) Penuh daya cipta; (5) Selalu sibuk; (6) Keras kepala; (7) Memiliki naluri petualang; (8) Sensitif; (9) Pengamat; (10) Mandiri; (11) Idealis; (12) Penuh pengertian.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang ciri-ciri karakteristik dapat dikatakan bahwa kepribadian orang kreatif beragam, ada yang memiliki kepribadian positif dan ada juga yang negatif, guru sebagai pembimbing diharapkan mampu membantu anak mengembangkan perkembangan kepribadian anak, sehingga anak kreatif dapat berkembang optimal baik inteligensi, sosial dan emosi.

Azas-azas dalam pengembangan kreatifitas terdiri dari : (a) Melakukan pendekatan “inquiry” (pencaritahuan). (b) Menggunakan teknik-teknik sumbang saran (brain storming). (c) Memberikan penghargaan bagi prestasi kreatif. (d) Meningkatkan pemikiran kreatif melalui banyak media.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengembangan Kreativitas yaitu :  (1) Memberikan rangsangan mental baik pada aspek kognitif maupun kepribadiannya serta suasana psikologis (psychological atmosphere). (2) Menciptakan lingkungan kondusif yang akan memudahkan anak untuk mengakses apapun yang dilihatnya, di pegang, di dengar, dan dimainkan untuk pengembangan kreativitasnya. (3) Peran serta guru dalam mengembangkan kreativitas. (4) Peran orang tua dalam mengembangkan kreativitas anak.

Perkembangan kreativitas dapat meningkat karena ada beberapa faktor pendukung antara siswa, guru dan orang tua yang saling berkaitan antar satu dengan yang lainnya. Di sekolah diharapkan kreativitas yang dimiliki siswa dapat berkembang menjadi prestasi yang membanggakan bagi siswa, guru maupun orang tua.

Rantinah Sastra (2007:1) menyatakan bahwa warna sering disebut rupa, warna membuat penampilan benda lebih menarik. Mewarnai adalah suatu kegiatan menggoreskan warna pada bidang media sehingga menjadi bentuk yang lebih indah dan menarik.

Tujuan mewarna antara lain : (1) Anak mengenal berbagai macam warna. (2) Anak mengenal sifat warna. (3) Anak mampu mencampur warna (gradasi). (4) Anak mampu menguasai tehnik mewarna dengan cara diputar-putar. (5) Anak mampu mewarnai suatu media sehingga menghasilkan karya seni yang indah.

Beberapa manfaat mewarnai bagi perkembangan kepribadian (dalam Rantinah Sastra, 2007: 23)  anak dapat dijelaskan sebagai berikut : (1) Mewarnai merupakan media berekspresi; (2) Mewarna membantu anak mengenal perbedaan warna; (3) Warna merupakan media terapi; (4) Mewarna melatih anak menggenggam pensil; 5) Mewarnai melatih kemampuan koordinasi; (6) Mewarnai mengembangkan kemampuan otot; (7) Mewarna meningkatkan konsentrasi; 8) Mewarna melatih anak mengenal garis batas bidang; (9) Mewarnai melatih anak membuat target.

Melalui kegiatan mewarnai gambar anak dapat mengembangkan kreativitasnya berimajinasi, mampu mengenal berbagai macam warna dan memadukan warna-warna sehingga membentuk keindahan dan nilai seni yang tinggi.

Terapi menggambar artinya suatu pengobatan. Namun kedudukan terapi dalam topik ini sebagai konselor yang membantu anak kesulitan atau ketakutan. Sedangkan menggambar menurut Wuryani Djiwandono (2005:364) menggambar adalah kegiatan yang dapat dilakukan dengan rileks dan menyenangkan bagi anak-anak dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, kreativitas dan keunikan mereka. Terapi menggambar dapat digunakan untuk perkembangan, pencegahan dalam konteks penyembuhan (remidial) bagi anak.

Frans Koppelaar (1993) menyatakan bahwa menggambar adalah kegiatan dalam membentuk imajinasi dengan menggunakan banyak pilihan teknik dan alat. Bisa pula berarti mmbuat tanda-tanda tertentu diatas pemikiran dengan mengolah goresan dari alat gambar.

Agus Suljanto (1986:36) menyatakan bahwa menggambar adalah suatu cara untuk mengekspresikan isi jiwa seseorang dalam bentuk garis-garis.

Terapi menggambar dapat digunakan untuk perkembangan, pencegahan dalam konteks penyembuhan (remidial) bagi anak.

Kellog (1967; Lowenfeld dan Brittain, 1987; Rubin, 1984) setuju bahwa anak-anak, melalui berbagai tahap dalam perkembangan menggambar mereka. Ada lima tahap untuk menggambar, tahap-tahap ini 1) tahap mencorat-coret, 2) tahap menggambar, 3) tahap figur manusia, 4) tahap gambar yang realistis, 5) tahap naturalis.

Landfarten, 1981 (dalam Wuryani Djiwandono, 2005:53) mengemukakan bahwa tujuan utama terapi anak adalah : 1)       Membantu anak mengembangkan kekuatan yang berpusat dan mengaktualisasi diri mereka sehingga mereka dapat menghadapi dengan lebih sukses dengan diri mereka dan lingkungan; 2) Memudahkan perubahan tingkah laku, lingkungan harus diatur sehingga menghasilkan aktualisasi diri; 3) Mereka belajar tumbuh secara emosional dan mendapatkan kepercayaan untuk diri mereka sendiri dan bertanggung jawab sebagai individu.

Nilai menggambar sebagai proses terapeutis. Menggambar untuk terapi membantu anak mengerti lebih baik tentang diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berfungsi sebagai bagian dalam keluarga (Landgarten, 1981). Melalui menggambar anak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka tentang kejadian-kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Terapi menggambar adalah suatu kebebasan, anak dapat mengapresiasikan perasaan yang positif dan negatif tentang kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Dengan gambar anak dapat berinisiatif dan mengungkapkan perasaan yang sungguh-sungguh nyata.

Menurut Edith Kramer (1958, 1971, 1979) ada lima kegiatan menggambar sebelum memulai menggambar. (a) Eksperimen sebelum memulai menggambar (precursory activities). b) Menggambar semrawut (chaotic discharge). (c) Seni untuk mempertahankan diri (art in the service of the defence). (d) Gambar sebagai lambang (pictographs). (e) Ekspresi (formed expression).

Dari pendapat beberapa para ahli dapat dikatakan bahwa melalui terapi menggambar seorang anak dapat mengungkapkan ekspresinya. Dapat menemukan kebebasan dan kegembiraan juga memecahkan konflik secara aman. Mereka dapat mengembangkan kreativitasnya karena mempunyai imajinasi yang tinggi dan dapat menyampaikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, dengan harapan dapat dimengerti orang lain.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini yang dinilai adalah indikator kreativitas yang meliputi keindahan, kemandirian, kerapian, ketepatan dan gradasi yang meliputi keserasian, ketepatan, kecermatan dan antusias siswa.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan kreativitas anak kelompok A dalam seni mewarnai melalui terapi menggambar. Untuk mengetahui perkembangan anak maka perlu dilakukan analisis data dengan menghitung prosentase perubahan yang terjadi pada anak sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 3 siklus pelaksanaan. Tujuan dari penelitian tindakan kelas antara lain : (a) Perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas; (b) Perbaikan dan peningkatan pelayanan profesional guru kepada peserta didik di kelas; (c) Pengembangan kemampuan dan ketrampilan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A TK Negeri Pembina Kawedanan yang jumlahnya 20 anak, yang terdiri dari 9 anak perempuan dan 11 anak laki-laki.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan demonstrasi. Observasi yaitu kolaborator secara langsung dapat mengamati terhadap permasalahan yang muncul pada saat kegiatan pembelajaran dan demontrasi digunakan untuk memberikan gambaran dalam mengembangkan kreativitas siswa.

Pada penelitian ini data yang diperoleh dari pelaksanaan siklus yang dilakukan selama 3 kali, menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

Data yang diperoleh pada masing-masing siklus pelaksanaan antara lain : pada siklus I hasil pencapaian indikator belum ada perkembangan yang nampak, maka harus dilakukan perbaikan dan menerapkan kembali langkah-langkah yang sama seperti siklus pertama. Sedangkan pada siklus kedua dan ketiga sudah ada perkembangan yang muncul pada setiap indikatornya. Sehingga digunakan sebagai acuan untuk menerapkan bahwa terapi menggambar dapat mengembangkan kreativitas seni mewarnai, anak kelompok A.

Hasil Penelitian

Setelah dilakukan pengamatan dalam penelitian tindakan maka perkembangan siswa dalam pembelajaran seni mewarnai melalui terapi menggambar pada siklus pertama masih rendah hal ini disebabkan masih ada hambatan-hambatan kecil, misalnya anak belum berkonsentrasim semangat belajar siswa masih kurang, suasana belajar kurang kondusif, dan siswa belum menguasai materi dengan baik.

Pada siklus berikutnya setelah dilakukan pengamatan oleh guru dan teman sejawat. Sudah ada perkembangan yang muncul meskipun hambatan masih tetap ada. Tugas guru adalah membimbing dan memotivasi anak supaya hasil yang dicapai diharapkan lebih maksimal.

Pembahasan

Hasil perbandingan perkembangan kreativitas anak sebelum ada tindakan dan setelah adanya tindakan menunjukkan ada perbedaan yang signifikan.

Kreativitas anak akan berkembang bila mendapat stimulasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri anak maupun dari peran serta pendidik.

Perkembangan kreativitas anak paling rendah yaitu pada observasi awal menunjukkan 60%, sedangkan perkembangan kreativitas pada observasi akhir sudah menunjukkan 91,25%. Hal ini menunjukkan bahwa ada perkembangan kreativitas anak dalam seni mewarnai melalui terapi menggambar. Faktor pendukung pengembangan kreativitas hendaknya selalu mendapat stimulasi untuk mengembangkan berbagai macam potensi pribadi kreatif misalnya percaya diri, keberanian dan ketahanan diri.

Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa melalui terapi menggambar dapat mengembangkan kreativitas dalam seni mewarnai anak kelompok A.

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti memberikan saran yaitu sebagai upaya untuk mengembangkan kreativitas anak dalam seni mewarnai guru diharapkan mampu mengaplikasikan berbagai ketrampilan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan materi pembelajaran yang akan disampaikan.

Daftar Pustaka

Agus Sujanto. 1986. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Aksara Baru.

Aqib, Zainal. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Irama Widya.

Muntoha. 2009. Menggambar Langkah Demi Langkah. Klaten : Intan Pariwara.

Rantinah Sastra. 2007. Mengenal Warna. Klaten : Intan Pariwara.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.

Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2005. Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Utami Munandar. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta.

Yeni Rachmawati, Evus Kurniawati. 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s