Memberikan positive pushing pada anak

Waktu adalah dimana ada kesempatan, kesempatan adalah dimana tak ada waktuKesembuhan bergantung pada waktu , tetapi juga pada kesempatan (Hipocrates, Epidemic).

Mencoba memahami makna dalam kata mutiara Hipocrates diatas, dapat kita maknai  bahwa dalam hidup ini waktu begitu penting. dimana kurun waktu tertentu kita bisa melakukan segala macam kegiatan yang mungkin akan menjadi satu kesuksesan atau mungkin sebaliknya kegagalan. Yah…..waktu terus berjalan dan kita harus mampu memanfaatkan dengan baik, kita harus dapat mengisinya dengan segala aktivitas yang positif untuk diri kita bahkan untuk anak – anak kita itu idealnya, tetapi kadang tanpa disadari atau mungkin kita  sadari sepenuh hati, karena rasa ego yang tinggi kita sering salah mengartikan bentuk kasih sayang pada anak – anak kita tercinta, dengan memberikan investasi yang tidak sehat pada masa tumbuh kembang anak anak

Anak – anak mengalami waktu yang berbeda dengan cara orang dewasa. Menurut Jean Piaget bahwa bagi anak usia tujuh tahun kebawah waktu berlalu sangat pelan,satu hari dalam kehidupan anak terasa tak pernah berakhir selalu dipenuhi kegiatan.  Sebenarnya Anak – anak banyak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru (sekolah), yang dalam kegiatan pembelajaran sudah disekat- sekat dengan waktu, dimana sering anak belum menyelesaikan suatu kegiatan karena waktu kegiatan yang lain harus segera dikerjakan.

 Padahal Menurut Montessory bahwa apabila ada anak yang sedang asyik melakukan suatu kegiatan mereka harus diijinkan untuk menyelesaikan, berapa lamapun waktu yang dibutuhkan karena “keasyikan” mendalam anak – anak ini  “sebagai karya besar ” , kita harus membiarkan anak yang sedang terlibat secara kreatif dalam melakukan suatu kegiatan.

Tidak jarang banyak anak membawa beban kegagalan (stress)  yang tidak diketahui orang lain. Stress rahasia ini mempunyai banyak sumber. Di rumah ada persaingan antar saudara, penyakit, kritik orang tua, perasaan kesepian, bosan, kekerasan dalam keluarga atau ambisi orang tua. Di sekolah ada tekanan untuk memenuhi tuntutan guru, ditertawakan teman, mendapat nilai jelek, direndahkan guru, ancaman teman dan lainnya.

Beberapa anak mampu menanggung beban tersebut  dengan baik, tetapi juga  tidak sedikit anak- anak yang tidak kuat menanggung beratnya beban emosi mereka, dan akhirnya memperlihatkan tanda – tanda stress, sakit kepala, sakit perut, gelisah, sulit konsentrasi, mudah kesal, agresif, cemas, takut dan depresi.

Untuk membantu anak  dengan kegagalan emosi tersebut  dengan memahami peran emosi mereka.  Anak – anak perlu mendapat kebebasan untuk mengungkapkan suka cita dan kemarahan mereka saat belajar, dengan demikian vitalitas yang terkunci didalam kedua emosi bisa diubah kedalam kegiatan mental yang berkaitan dengan kemajuan prestasi.

Dan apakah kita perlu mendorong anak untuk meraih prestasi ?. Mendorong anak merupakan hak , tanggung jawab serta kewajiban orang tua/ guru yang menginginkan anaknya meraih prestasi. Mendorong positive ditujukan untuk memotivasi anak supaya bertindak,  selalu memperlihatkan rasa cinta dan penghargaan terhadap anak, sehingga anak merasa memegang kendali semua upaya pencapaian.

Ada 3 cara yang bisa kita gunakan untuk mendorong anak yaitu:

1. Mempengaruhi anak melalui peneladanan orang tua

2. Mengajar dan melatih anak, memberikan bimbingan langsung yang berkaitan dengan nilai, keyakinan dan perilaku

3. mengelolah lingkungan dan kegiatan anak, interaksi teman, kegiatan berprestasi, pengalaman budaya atau kegiatan waktu luang.

Yang jelas dorongan positif menuntut kita untuk mendorong anak – anak supaya berupaya melampui apa yang mereka anggap sebagai batas kemampuan. Membangkitkan semangat, memberikan berbagai dukungan, menawarkan bimbingan dan umpan balik, memberi cinta serta perhatian.

Tetapi kita tidak boleh terjebak pada egoisme pribadi sebagai orang tua dengan memberikan dorongan terlalu keras, mengatur bahkan menekan untuk memenuhi ambisi orang tua, atau mungkin malah menyalah artikan tentang perhatian dan kasih sayang, karena dengan dalih tidak ingin melukai perasaan anak , maka akhirnya menganut aliran “Liberalisme” yang tidak pernah memberikan pengarahan apapun kepada anak dalam semua aspek kehidupan. Anak diberi kebebasan tanpa ikatan tanggung jawab atas perbuatannya, mereka diberi kebebasan untuk melakukan apapun tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Menurut Drs.Aubrey fine dan Michael Sachs ada 8 keyakinan yang dapat ditanamkan pada anak untuk mencapai keberhasilan :

1. Aku dicintai (rasa nilai)

2.Aku mampu (rasa kemampuan)

3.Penting untuk mencoba (nilai usaha)

4.Aku bertanggung jawab atas hariku (rasa kepemilikan)

5. Tidak apa- apa melakukan kesalahan (menerima ketidaksempurnaan)

6.Aku bisa menangani situasi yang tidak sesuai harapan (bereaksi terhadap hal buruk)

7.Aku menikmati apa yang kulakukan (nilai hasrat dan kebahagiaan)

8.Aku bisa berubah (menjadi penguasa)

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s