Kesulitan Belajar Pada Anak TK (Learning Difficulties KIndergarten Children)

Pada umumnya “Kesulitan” merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan – hambatan dalam kegiatan mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih keras lagi untuk dapat mengatasinya. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai adanya hambatan – hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan – hambatan itu mungkin disadari dan mungkin juga tidak disadari oleh orang yang mengalaminya dan dapat bersifat psikologis ataupun sosiologis dalam keseluruhan proses belajar, sedangkan pengertian belajar itu sendiri adalah :

1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar

2. Kecerdasan bersifat tetap

3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran

4. Kita semua belajar dengan gaya yang tidak sama

Terlepas dari konsep belajar tersebut menurut saya belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri, karena itulah orang seharusnya bisa belajar dimanapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik atau yang yang berguna untuk dipelajari , jadi untuk mencapai suatu prestasi diperlukan semangat untuk belajar.

Kesulitan belajar menurut Clement dalam Weiner (2003) adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata- rata atau diatas rata – rata namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori serta pemusatan perhatian, penguasaan diri dan fungsi integrasi sensori motorik.

Macam – macam Gejala Kesulitan Belajar

1. Learning disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan.

2. Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar adalah mengacu kepada gejala dimana anak tidak mampu belajar (menghindari belajar)

3. Learning Dysfunction adalah mengacu pada gejala dimana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun sebenarnya anak tidak menunjukkan gangguan alat indera, gangguan – gangguan psikologis lainnya.

4. Underchiever adalah mengacu kepada anak – anak yang memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong diatas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

5. Slo Learner (lambat belajar) adalah anak – anak yang lambat dalam proses belajar sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam belajar.

Kondisi yang dapat Menimbulkan Kesulitan Belajar dan Gangguan Emosi pada Anak :

1. Penempatan anak yang tidak sesuai dengan taraf kemampuan : anak – anak yang lambat dalam perkembangan mentalnya sehingga kemampuan untuk belajar juga terbatas dibanding anak seusianya. Sering terjadi anak ditempatkan dikelas / sekolah yang tidak sesuai dengan taraf kemampuannya (karena anak pada usia TK belum terlalu kelihatan perbedaan kemampuannya). Anak dipaksa untuk belajar seperti anak normal, sehingga ketika anak tidak mampu (gagal) akan dimarahi, diejek, dibandingkan dengan anak lainnya akibatnya anak akan malas, timbul rasa benci baik pada guru, orang tua atau teman. Perasaan emosinya lalu diekspresikan dalam bentuk tingkah laku yang mengganggu, sehingga bagi anak – anak itu bakat – bakat yang lain yang potensial juga menjadi terhambat perkembangannya karena tak dapat disalurkan ataupun  diekspresikan.

2. Gangguan yang terjadi akibat belum tercapainya kesiapan belajar (learning readiness).

Kemampuan untuk belajar calistung berkembang bersama dengan proses pematangan kepribadian dan kecerdasan secara keseluruhan. Kesulitan belajar sering terjadi karena anak tidak/ belum memiliki taraf kematangan yang diperlukan untuk sipa belajar.

Anak yang terlalu kecil (TK) masih belum mampu untuk menerima pelajaran seperti di SD. Mereka tidak dapat duduk tenang terlalu lama (konsentrasi) dan melaksanakan tugas yang diberikan dengan tuntas, baginya tugas yang monoton sangat menjemukan dan tidak menarik. Sebenarnya melalui perkembangan yang wajar anak akan sampai pada batas kemampuan tersebut..Ada anak yang lebih cepat sampai pada taraf siap belajar, ada anak yang lambat (seharusnya guru TK memahami tentang kecerdasan majemuk/ multiple intelegensi) batas usia mereka antara 4 – 6 tahun.

Bila pelajaran disekolah (TK) terlalu dipaksa pada anak yang belum siap, mereka niscahya akan mengalami hal – hal yang kurang menyenangkan berkenaan dengan belajar, untuk mencegah hal ini jangan mengajari anak dengan secara paksa, anak bukan objek melainkan subjek dalam proses belajar mengajar , metode yang diberikan adalah untuk anak, bukan anak untuk pelajaran/ metode, jangan hanya mengejar target prestasi sekolah (dianggap sebagai sekolah unggulan karena semua muridnya sudah bisa membaca, menulis dan berhitung) tetapi pikirkan juga target prestasi yang mampu dicapai anak didik.

3. Akibat pembiasaan yang kurang menyenangkan yang berhubungan dengan proses belajar :

a. dengan memberi  hadiah (reward) yaitu usaha belajar diarahkan untuk memperoleh sesuatu yang menyenangkan bila ia mau belajar.

b. dengan memberi hukuman (punishment) , bila anak tidak mau belajar akan dihukum.

Ternyata : cara (a) cenderung dipertahankan oleh anak karena usaha belajar diartikan dengan hadiah sebaliknya cara (b) cenderung menimbulkan asosiasi yang negative terhadap belajar, karena anak akan melihat orang tua/ guru sebagai figure yang tidak menyenangkan . Kondisi ini akan menimbulkan gangguan emosi dan perilaku yang muncul cemas, depresi, fobia terhadap sekolah dan sebagainya. Hal ini diperlukan intervensi dini dengan dibimbing guru yang berpengalaman dan pandai menciptakan suasana yang menyenangkan untuk mengubah persepsi tentang belajar pada anak.

4.Cara – cara pendidikan yang terlalu memanjakan anak dapat menimbulkan permasalahan pada emosi dan perilakunya.

Anak – anak yang terlalu dilayani dan dimanja (biasanya anak TK yang masih ditunngu orang tua / pengasuhnya saat belajar di sekolah), cenderung tidak ulet dalam usaha mencapai sesuatu. Mereka cepat meninggalkan tugas yang sulit dan lebih banyak menuntut pemuasan segera tanpa usaha yang sumgguh – sungguh. Belajar baginya adalah sesuatu yang sangat membosankan karena harus berfikir , capek dan sebagainya. Mereka cenderung mengandalkan orang lain dan kurang bertanggung jawab.

5. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Gangguan dengan gambaran utama kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktif serta impulsif yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan anak, mereka sangat mudah tertarik pada objek yang ada disekitarnya sehingga tidak bisa lama berkonsentrasi dan proses belajar tidak dapat berjalan dengan baik.

6. Autisme masa kanak – kanak.

Gangguan perkembangan pada anak dengan gambaran utama dengan adanya gangguan komunikasi verbal/ non verbal. gangguan pada interaksi sosial, sulit mengadakan kontak mata, aktivitas motorik sering meningkat tak terkendali.

Jenis Kesulitan Belajar (LEARNING guan membaca ( DisleksiaICULTIES).

a. Gangguan Membaca ( Disleksia)

Ketram[pilan membaca dibawah tingkat usia pendidikan dan intelegensi anak, ciri khas : gangguan dalam mengenali kata, lambat dan tidak teliti bila membaca dan pemahaman buruk

b.Gangguan Matematika (Diskalkulia)

Ketrampilan matematis dibawah tingkat usia pendidikan dan intelegensi anak. Ciri khas : gangguan linguistik, perceptual, matematis dan atensional.

c.Gguan Menulis Ekspresif (Spelling Dyslexia, spelling disorder)

Ketrampilan membaca matematis dibawah usia pendidikan dan intelegensi anak, banyak ditemukan kesalahan dalam menulis (b jadi d) dan lainnya. Penampilan tulisan yang buruk (cakar ayam), biasanya akan terjadi pada usia 5 – 6 tahun.

Kesulitan ini biasanya dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :

a. faktor internal : menyangkut intelegensi afeksi (kurangnya minat, motivasi, belum matang dalam belajar).

b. Faktoe eksternal : semua yang menyangkut KBM seperti : guru,metode, tema, materi dan lainnya yang kurang pro anak

Kegiatan belajar bersifat kompleks baik dalam gejala , latar belakang, mapun akibat – akibat yang ditimbulkan. Gejala yang timbul tidak hanya semata – mata dalam prestasi belajar saja, tetapi juga dalam aspek  – aspek kepribadian dan penyesuaian diri.

DEmikian pula akibat yang ditimbulkan karena kesulitan belajar tidak hanya menimbulkan hambatan – hambatan pedagogis tetapi juga dapat menimbulkan hambatan – hambatan psikologis disebut demikian karena kesulitan belajar berakar pada aspek – aspek psikologis terutama pada gangguan kepribadian dan penyesuaian diri.

Untuk menghindari atau meminimalkan terjadinya kesulitan belajar pada anak, maka para orang tua  perlu memperhatikan sekolah/ TK ketika akan memasukkan anaknya untuk sekolah, pilihlah sekolah /TK yang sistem pengajarannya memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :

1. TK  yang pembelajarannya haruss berorientasi ada perkembangan anak.

2. TK yang pembelajarannya berorientasi pada kebutuhan anak

3. Tk yang mempunyai prinsip bermain sambil belajar, belajar seraya bermain

4. Stimulasi terpadu

5. Mengembangkan kecakapan Hidup (Life Skill)

6. Menggunakan berbagai media/ sumber belajar

7. Lingkungan TK yang kondusif, lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan sehingga anak betah dalam lingkungan sekolah baik didalam/ di luar kelas.

8.Pembelajaran Aktif , Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

Dan kesemuanya tidak hanya slogan atau yeori semata tetapi benar – benar telah diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah.

 

 

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s