Ketika Cinta Harus Menunggu

1. Fall In Love ( Episode 1 )
Ratih seorang remaja yang baru masuk perguruan tinggi di UPI bandung, asli Surabaya masih semester 1 bulan ketiga, anaknya sederhana, manis, kulitnya bersih , berperawakan sedang dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek , kata orang pas untuk ukuran orang Indonesia.
Yang terpenting dari itu Ratih adalah cewek SMART dan punya ketulusan hati yang dalam, hampir jarang atau mala tidak pernah punya dendam cocok dengan karakteristik arek Surabaya. yang selalu spontan, jujur dan terbuka.
Ratih masih jomblo, karena dia sangat ingat dengan pesan ibunya bahwa selama menyelesaikan SMA tidak boleh pacaran. Sebetulnya sekarang ketika dia sudah menjadi mahasiswi, peraturan dan nasehat ibu itu sudah tak berlaku lagi harusnya tetapi Ratih masih bingung, mau dibawa kemana hatinya berlabuh , mau ditambatkan kemana cintanya ini , karena terlalu banyak kumbang – kumbang berkualitas yang mengelilinginya
Anton seorang pemuda yang humoris ,penuh kasih sayang, kulitnya bersih, bermata sipit mirip peranakan cina, tetapi kalau ditanya Ratih tentang asal usulnya jawabnya selalu yang peranakan cina itu rumahnya, sebab itu rumah dibeli ayahnya dari orang cina, ha…ha ha….Ratih suka geli kalau sudah dengar cerita Anton. Anton satu angkatan dengan Ratih, walau baru beberapa bulan kenal dengan Ratih, entah kenapa Anton merasa sayang sekali pada cewek satu ini.
Perasaan ini jelas beda dengan ketika dia berpacaran dengan Atik gadis satu desa di Mojokerto yang sudah dipacari hampir 2 tahun. Perasaan itu juga beda dengan yang dirasakan pada adik semata wayangnya Antin. Ah…….entah yang jelas Anton selalu ingin ada saat diperlukan Ratih. Anton ingin selalu melindungi Ratih, tulus tanpah pamrih, baginya Ratih adalah gadis yang special yang pantas untuk diperlakukan secara istimewa.
Danang kakak tingkat Ratih dan Anton satu fakultas juga satu jurusan, sudah masuk semester 3 , perawakannya jangkung, kulitnya bersih, asli Malang, penampilannya agak acak- acakan, suka pakai jeans dipadu T shirt apa adanya, tapi tampan, dia paling bisa mengambil kesempatan, tapi dengan cewek yang dia taksir agak sedikit gugup bila berhadapan,
Danang selalu bisa menikmati perhatian gadis – gadis yang mengagumi ketampanannya. Tapi dengan Ratih yang adik kelasnya, yang pernah dia kerjain waktu ospek, Danang benar – benar tak berkutik. Dan entah mengapa Ratih justru dalam 1 bulan terakhir ini selalu dihantui bayang- bayang cowok playboy ini.walau Ratih kerap mendengar bagaimana ulah cowok tampan ini, Ratih seakan tak peduli.
Ido sahabat Danang , perawakannya jangkung sama dengan Danang, kulitnya coklat, manis dan punya lesung pipit, anaknya pendiam cenderung cool tapi agak sedikit egois. Ido sudah punya pacar di Surabaya, jadi dia bisa menjaga sikap, ditambah Ido adalah tipe cowok yang setia pada pacarnya. Ido sebenarnya agak sedikit sombong dalam berteman suka memilih tetapi pada Ratih beda Ido sangat sayang sebagai adik. Maklum anak tunggal dikeluarganya. Mereka berempat bersahabat :Ratih, Anton, Danang dan Ido karena satu kost dan sama- sama asli dari jawa timur.
Satu lagi Wita anak Jakarta asli, satu angkatan dengan Ratih dan Anton, teman satu kamar Ratih ini anaknya periang, sedikit cerewet, kulitnya agak kecoklatan, perawakannya kecil cenderung kurus. Dan yang membuat Wita kerasan satu kamar dengan Ratih karena sifat sabar dan ngemong Ratih terhadapnya.
Pagi itu Ratih berangkat kuliah sendiri, dengan langkah perlahan dia menyusuri sepanjang jalan menuju kampusnya ,yah fakultas ilmu pendidikan memang tempatnya agak kebelakang. Hm..udara pagi yang segar dia hirup perlahan, sekali-kali dia melambaikan tangan pada mahasiswa yang sudah dia kenal, tiba-tiba ada langkah yang sedikit tergesa menjejerinya. Ratih menoleh .Deg….tiba-tiba jantungnya berdegup kencang ketika tahu siapa pemilik langkah panjang tadi.
“Pagi……kok tumben duluan, tadi tak tunggu lo, kok gak keluar – keluar, untung Wita kasih tau kalo enggak wah……bisa jamuran aku nunggu non cantik ini ”, kata Danang sambil tersenyum.
“Hm…, iya mau ketemu temen dulu, maaf yah mas “, jawab Ratih tak yakin
“Temen apa demen ?, goda Danang. Ratih tak menjawab hanya tersenyum sedikit membuat yang memandang jadi penasaran tak karuan. Busyet kenapa aku jadi seperti orang bego begini sih , runtuk Ratih dalam hati.
Mereka berjalan berdua tanpa berucap kata. Masing-masing asyik dengan pikirannya sendiri, ketika tiba-tiba tangan Danang menangkap tangan Ratih, digandengnya tangan mungil itu.
“Ada apa mas ?”, Tanya Ratih kaget.
Danang tak menjawab dengan serta merta ditariknya tangan Ratih untuk diseberangkan jalan.
“Menyeberangkan kamu, gak boleh”, jawab Danang kemudian dengan tangan yang masih menggandeng. Ratih terharu dengan perhatian kecil Danang.
“ Terimakasih mas “, jawab Ratih sambil menarik kembali tangannya ketika sudah sampai ujung jalan.
Dari jauh Ratih melihat lambaian tangan Yuni, gadis ngayogyakarto teman satu kelompok dalam tugas DKB (Diagnosa Kesulitan Belajar), Ratih membalasnya sambil melambaikan tangan memberi isyarat agar Yuni mendekat.
“Sudah selsai Yun?, tanya Ratih.
“Sudah”, jawab Yuni sambil melihat Danang yang ada disamping Ratih..
“Oh yah kenalin ini mas Danang teman satu kost, dia kakak kelas kita loh, mas Danang ini Yuni asli jogja”,
Danang dan Yuni saling berkenalan. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, sampai di depan perpustakaan Danang memisahkan diri. “Dik aku duluan yah mau ke perpus dulu, da….sampai jumpa nanti siang “, kata Danang berpamitan sambil menatap nakal Ratih. Ratih mendelik melihat Danang yang mengedipkan mata , menggodanya.
“He….Ratih pacarmu yah, ganteng skali “, selidik Yuni
“Hush……..ngawur, bukanlah, dia hanya kakak kelas dan teman satu kost kok”.
“Wah..asyi….k, dia udah punya pacar belum, aq mau donk dicomblangin”.jerit Yuni kegirangan
Ratih tak merespon, dia berlalu begitu saja diikuti Yuni dari belakang.
Sore itu Ratih sedang menghadap laptop, mengerjakan makalah tugas dari Pak Chotim mata kuliah Strategi Belajar Mengajar, ketika handphone berbunyi tanda ada sms masuk. Wita yang duduk ditepi tempat tidur dengan mudah menjangkau HP Ratih yang kebetulan tergeletak di atas bantal.
“nih ada sms, tak baca yah “, goda Wita sambil cengengesan, tapi tetap mengangsurkan hp itu ke Ratih.
“baca aja …..tapi bayar “, ganti Ratih menggoda.
Ratih membuka sms. tertulis “Tolong ntar jam 4 temenin cari buku ya, please.
Ratih bingung ketika membaca sms yang ternyata dari Danang, untuk sesaat dia termangu, sampai Wita heran .
“Eh.ada apa kok bengong, kesambet yah, emang sms dari siapa ?, tanya Wita sambil menghampiri Ratih.
“dari teman kok, tanya tugas udah kelar belum “.jawab Ratih sambil menutup laptopnya.
Dihempaskan badannya diatas kasur, pikirannya menerawang , apa yang akan dilakukan. Hm….kenapa ajakan sederhana gini aja kok membingungkan aku, padahal soal sesulit apapun aku dengan mudah dapat mengerjakannya. Ih…………..ngeselin banget nih cowok. Umpat Ratih dalam hati.
“Hey..Wit, gimana nih mas Danang minta ditemani cari buku “.akhirnya Ratih jujur, ketika dia mentok tak tau harus ngapain.
“Alah.ikut aja, paling juga gak cari buku, hanya dipakai alasan aja, udah ikutlah, aq gak akan cerita kesiapapun, janji deh”, terang Wita sambil memberi kode mulut dikunci.
“Janji yah, jangan sampai Anton dan mas Ido tau yah”, Ratih menegaskan.
“Ok”. Jawab Wita sambil mengunci mulutnya dan mengacungkan jempolnya.
Sore itu Ratih berboncengan menuju gramedia, dalam perjalanan mereka berdua diam saja, tiba-tiba tangan Danang meraih tangan Ratih,ditempelkan dipinggangnya.
“pegangan ya dik ,ntar jatuh loh”.
“mas Danang cari bukunya dimana , gramedia ?, Ratih mengelak rikuh.
Danang mengangguk tak pasti. Sampai gramedia mereka beriringan masuk. Danang hanya mondar mandir tak tentu, Ratih memperhatikan dengan heran. Akhirnya dengan alasan gak menemukan buku yang dia cari Danang mengajak Ratih keluar.
Sore menjelang malam itu mereka habiskan dengan hanya makan bakso cinta dan putar-putar kota. Emang benar dugaan Wita, cari buku hanya akal-akalan Danang agar bisa mengajak Ratih keluar. Emang paling bisa kok makhluk ganteng satu ini. Lagi – lagi Ratih hanya mampu mengumpat dalam hati.
Sebenarnya Ratih bukan gak merasa segala perhatian kecil Danang kepadanya, cuma Ratih takut salah menterjemahkan perhatian Danang, karena Ratih sudah terlanjur banyak tahu gadis-gadis yang ada disekeliling Danang. baik yang di kampus atau sekitar kost yang ngefans Danang. Kadang ada yang mencari untuk alasan pinjam buku, atau ada yang sekedar mampir dan ada juga yang sengaja nyamperin atau malah mengirim makanan untuk Danang. Nah parah kan ! kalo cewek saingan Ratih begitu nekatnya.
Sedang Ratih tak pernah sedikitpun berbuat sesuatu untuk Danang. Kadang ada sebersit pertanyaan dalam hatinya, “Mana pacar Danang yang sebenarnya?’, kenapa semua dapat perlakuan yang sama, tidak ada yang special . Malam minggu Danang jarang keluar kost. Hari- hari biasa kuliah, dan Ratih sangat hafal jadwal kuliah Danang, walau tidak satu angkatan karena memang selain Ratih sengaja menghafalkan juga karena mereka satu kampus.
Hanya kadang-kadang memang Danang pergi dua hari gak pulang ke tempat kost, ketika Wita tanya, selalu dijawab menginap di rumah keluarganya yang ada di Cimahi. Itu saja.
Sedang Anton sendiri merasa tak nyaman melihat kedekatan Ratih dengan Danang, bukan cemburu kata Anton, hanya merasa gak rela saja, takut Ratih nanti kecewa .
Begitupula dengan pemuda berlesung pipit , Ido, dia juga jengkel dengan Danang yang belakangan ini sok dekat dengan Ratih. Apa maunya …?, runtuk Ido juga tak rela.
Hingga pada suatu sore ketika mereka, para penghuni panorama III sedang bercengkerama di ruang tamu , tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Anton dengan gesit melompat menuju pintu, dibukanya daun pintu. Kepala seorang gadis yang rumahnya tak jauh dari kost , yang belakangan Ratih tahu namanya IYUT mencari Danang. Iyut datang tidak dengan tangan kosong, dia membawa oleh-oleh, katanya asinan dari bogor. Ratih mempersilahkan Iyut untuk duduk dekat Danang. Ratih memilih untuk bergeser duduk dekat Ido, lalu , beringsut dan sebentar kemudian karena alasan mau mengerjakan tugas minta ijin untuk masuk ke kamar.
“Maaf aku masuk dulu yah “, pamit Ratih sopan.
Yah Sikap inilah yang banyak digandrungi pemuda-pemuda disekitar Ratih. Sopan, selalu senyum, baik dan hatinya selalu tulus kepada siapa saja. Tak heran banyak teman satu angkatan Danang yang naksir, bahkan banyak yang suka cari-cari informasi baik lewat Ido maupun Danang sendiri. Ada juga yang selalu titip salam. Begitu pula dengan teman satu kelas Ratih, tentunya termasuk Anton yang ternyata diam-diam dia juga menaruh hati pada Ratih.
Hari Minggu sudah menjadi kebiasaan Anton dan Ratih selalu joging disekitar tempat kost. Ratih yang kelelahan dari belakang memegangi handuk kecil Anton. Rupanya keakraban inilah yang menjadikan Anton merasa nyaman dekat Ratih. Setelah melewati dua putaran Ratih dan Anton beristirahat dikursi taman. Anton memandangi wajah Ratih yang penuh keringat, pipinya yang merona merah makin membuat Ratih terlihat manis. Seperti buah apel malang, segar dan menyehatkan. Bisik Anton nakal.
“Hey kamu ngomong apa An ?, hardik Ratih jengah , ditatap Anton mesra.
“Gak, kamunya aja yang salah dengar, ku cuma tanya , gimana capek enggak sayang ”, elak Anton
“Eh ….An..aku mau tanya boleh gak. Ini serius loh ”, ,kata Ratih mengalihkan arah pembicaraan
“silahkan asal jangan yang sulit ntar aku gak bisa jawabnya, biasa mahasiswa malas, belum belajar nih”, gurau Anton. Ratih tak menggubris.
“Mas Danang sudah punya pacar belum yah An?.
Anton kaget mendengar pertanyaan Ratih. Sungguh sangat tidak disangka.tiba-tiba saja. Pertanyaan yang membuat Anton kesal.
“An……………..dengar enggak?.
“Kenapa? , kamu suka !:, balik Anton bertanya sambil menyelidik. Ada nada tidak suka, sangat tidak suka.
“Yah sukalah……, aku suka sama kamu karena kamu sahabatku, aku suka mas Danang dan mas Ido karena mereka seperti kakakku sendiri, aku sayang Wita karena dia juga sayang aku”. Jawab Ratih enteng, tanpa mempertimbangkan perasaan Anton.
“Bukan itu maksudku, tapi………………., yah sudahlah. “, Anton menutup pertanyaan Ratih tanpa memberi jawaban.
“Ayo………lari lagi terus pulang “, kata Anton sambil menarik tangan Ratih. Kelihatannya Ratih masih capek, dia ogah-ogahan untuk berdiri, ketika dari arah belakang terdengar suara yang sangat akrab ditelinga.
“masih capek tuh Ratih, istirahat dulu aja:, Ido ,Wita dan Danang sudah berdiri rapi di belakang tempat duduk Anton dan Ratih.
“Hey.,Wit ikutan jogging juga kamu “,
“ea ,habis dipaksa mas Danang sama mas Ido sih :.
Mas Danang diam saja hanya melirik kearah Ratih, sementara mas Ido sudah terlibat percakapan sendiri dengan Anton. Setelah istirahat cukup lama, akhirnya mereka berlima sepakat untuk pulang, keetika tiba-tiba ada suara dari jauh memanggil nama Danang.
“Kak Danang tunggu…………..”. Iyut berlari menuju kearah mereka. terlihat wajah Ido dan Anton gak senang.
“Hu……………..gangguan datang lagi”, serempak mereka berguman.
Ratih menoleh kearah Danang yang tepat ada disampingnya. Danang tiba-tiba menendang botol air mineral yang tergeletak disampingnya. Seakan ingin melampiaskan kekesalan yang tak tau darimana asalnya.
Ratih dan Wita berpandangan tak mengerti. Akhirnya dengan cepat Anton menarik tangan Ratih dan Wita.
“Kami duluan yah .kak Danang “, godanya sambil melambaikan tangan. Diiringi Ido, Wita dan Ratih.
“kami duluan yah mas”, pamit Ratih, selalu sopan.
“Eh kalian mau kemana , kita sama-sama aja, rame-rame”. Kata Iyut berbasa basi.
“kami mau kemana-mana dan gak suka rame-rame tu…. Da…………”, ledek Anton lagi sambil bergaya bencong. Ido gak kuat menahan tawa, dia tergelak begitu saja.
Danang terlihat sebal melihat teman-temannya meledeknya. Dia menatap Ratih seakan memohon untuk menemaninya, tapi tangan Anton lebih kuat menarik untuk mengikutinya.
“Enggak banget deh lihat Iyut”, runtuk Wita.
“iya.,lihat tuh gayanya antara muka sama dandanan enggak matching. Danang aja yang oon”.runtuk Anton mulai ember.
“kenapa sih kalian, biarlah, gak usah diributin”,Ratih melerai.
“Enggak gitu adik sayang, genitnya Iyut itu loh yang gak tahan, kalau gak cantik sih dimaafkan, ini enggak kemana-mana, menor mana genit lagi, pengin muntah”.Ido lebih parah dalam menilai.
“Iya.kalian gak suka, tapi mas Danang kelihatannya enjoy aja tuh”.Ratih masih membela.
“Ya.iyalah orang Danang ada pamrihnya “,serentak suara Ido dan Anton keras lagi.
Ratih gak suka dengan penilaian sahabatnya, dia lari meninggalkan teman-temannya .
Liburan akhir semester Ratih bermaksud pulang kampung. 1 tahun rasanya begitu lama. Dia kangen dengan Ibu terutama masakannya yang terkenal paling lezat di RTnya, terbukti setiap acara tirakatan malam 17 agustus selalu Ibunya yang kebagian tugas menyiapkan masakan berupa nasi tumpeng dengan temanya, ada urap, ayam goreng ,telur bumbu bali, rempeyek, tahu tempe bumbu kuning. Hmmmmmmmmmmm terbayang sudah didepan mata hidangan spesial itu.
Pagi itu dengan diantar Anton sampai stasiun, antri karcis dengan tujuan stasiun gubeng Surabaya Ratih pulang. Sedangkan Anton , Ido dan Danang tidak pulang karena ada tugas yang belum diselesaikan hingga harus puas dengan nilai D. Setelah dapat karcis, menunggu sebentar kereta apipun datang. Anton mengantar sampai Ratih mendapatkan kursinya yang sesuai dengan nomer tiket.
“ Kalau sudah sampai telepon yah “, kata Anton tak rela melepas Ratih sendiri.
“Beres, kalau aku punya pulsa, kalau gak sms aja yah “, jawab Ratih dengan perasaan gembira karena mau pulang dan bertemu keluarga.
Dalam perjalanan menuju surabaya tidak ada yang istimewa. Penumpang yang duduk didepannya sepasang suami istri dari Jogjakarta, asyik bercerita tentang rencana-rencananya di jogja nanti.
Penumpang disebelahnya seorang pemuda dengan tujuan ciamis. Orangnya cuek walau kadang Ratih merasa dia sering mencuri pandang padanya, tak digubris. Sama sekali oleh Ratih. gak gentlemen sekali, masa curi-curi pandang giliran Ratih menoleh ,eh pura-pura buang pandangan”, runtuk Ratih dalam hati.
Tanpa terasa Ratih tertidur hingga tak sadar kalau pemuda disampingnya sudah turun. Dan ketika sampai Jogjakarta pasangan suami istri didepannya pun turun. dengan sopan mereka pamitan .
“Dik .., kami turun dulu yah, selamat menikmati perjalanan “.
“Eh..terima kasih mbak. Selamat bertemu dengan keluarga yah “.
“Sampai jumpa dik”, kata mereka berdua sambil salaman dengan Ratih.
Ratih gak bermaksud untuk turun. Walau sekedar melepas ketegangan otot-otot kakinya. Malas. Dia melunjurkan kakinya dan memutar badannya kekiri dan kekanan ketika ada suara yang tenang mengagetkannya.
“kosong mbak ?, Tanya penumpang yang baru naik dengan sopan.
“yah, yah silahkan mas “, jawab Ratih mempersilahkan penumpang tersebut untuk duduk dikursi depannya. Tapi pemuda tersebut malah duduk disampingnya. Ratih menggeser duduknya. Tak berapa lama naik lagi seorang nenek dengan cucunya , remaja yang usianya berkisar antara 15- 16 tahun. Ganteng . Ratih dengan mudah dapat menilai.
”Uh….pikiran nakal”. Ratih tersenyum dalam hati.
Tak berapa lama kereta pun berangkat lagi melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Gerbong yang tadi sempat lengang kini sudah penuh terisi penumpang. Para penjual baik penjual liar maupun dari pihak Restorka sendiri mulai menawarkan dagangan dan penyewaan bantal.
Ratih membuka tas, ada yang bergetar di handbagnya, rupanya ada sms 5. Woi…..banyak juga.
Dibukanya sms 1 dari Anton “ Sudah sampai mana sayang.
Sms kedua dari Yuni teman kuliahnya ‘Ratih kalau balik ke Bandung jangan lupa oleh-olehnya yah”.
Sms ketiga dari Danang ,wah agak panjang nih “ Dik maaf yah tadi gak bisa ngantar, pesanku jangan lupa kalau sampai rumah sms aku dan yang paling penting nih ,aku kok sudah kangen kamu yah“. Ratih sedikit tergetar usai membaca sms dari Danang, tapi dengan cepat dia bisa menetralisir suasana hatinya.
Sms keempat dari Wita “Ratih aku kesepian, jadi aku ikutan pulang ke Jakarta nih.”.
sms kelima dari orang rumah, kakaknya ‘Sampai gubeng jam berapa, biar gampang aku jemputnya”.Dengan cepat dibalasnya sms kakaknya “sekitar jam Sembilan kalau gak ada halangan”.
Usai membalas sms kakaknya Ratih bermaksud untuk memejamkan matanya ketika suara disampingnya mengajak komunikasi.
“turun mana mbak ?.
“Surabaya stasiun gubeng , mas sendiri turun mana “.
“sama Surabaya, tapi stasiun wonokromo”. Akhirnya mereka berdua terlibat obrolan. Lumayan untuk mengusir kejenuhan.
Setelah menghabiskan liburan di Surabaya, Ratih kelihatan lebih bersemangat untuk balik ke Bandung. Kali ini Ratih pulang dengan naik bis Kramat Jati . Sampai tempat kost , masih sepi rupanya Wita belum balik dari Jakarta. Sedang asyik beres-beres ada yang mengetuk pintu kamar ternyata. Danang.
“pulang kok gak ngabari, siapa yang jemput dari stasiun ?”, tanya Danang khawatir.
“Aku naik bis kok mas”.
“Boleh masuk ?.
“silahkan”, jawab Ratih sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Dia tidak ingin terjadi kesalah pahaman apabila menutup pintu. Danang masuk duduk di tepi tempat tidur. Ratih duduk di kursi belajarnya. Tiba-tiba ada suara gaduh dari atas. Anton dan Ido berebut turun, langsung menuju kamar Ratih.
“Aduh..kamu bikin senewen aja, kenapa kok gak telepon atau sms sih”, serang Anton gak terima.
“Sorry…….., aku sibuk, tapi aku juga gak mau ganggu kamu”.
“Ganggu ?, ganggu apaan “.
“yah kamu kan lagi nyelesaian tugas, harus konsentrasi donk”.
“Alasan”. Gerutu Anton gak suka.
Di kamar itu Ratih, Anton, Ido dan Danang bergurau, dilanjutkan di ruang tamu. Suara tawa Anton yang tergelak nmenandakan betapa gembiranya mereka. Tiba-tiba suara HP Ratih memanggil, rupanya ada telepon masuk dari nomer tak dikenal.
“Asalamualaikum, ini siapa yah ?, Tanya Ratih sopan
“Walaikum salam, lupa sama saya, yang kemarin satu kereta api waktu ke Surabaya. Totok “.
“Oh mas Totok, gimana kabarnya mas ?.
“Baik..Alhamdulillah. Dik Ratih posisi dimana, masih di Surabaya apa sudah balik ke Bandung?
“Sudah di Bandung, barusan datang”. Ratih terlibat obrolan dengan kenalan barunya waktu naik kereta api. Totok ternyata seorang polisi Brimob yang bertugas di Sukajadi Bandung. Melihat Ratih asyik bertelepon ria dengan orang tak dikenal , tiga sekawan itupun cemberut merasa diabaikan.
Pagi itu mereka berempat berangkat kuliah bersama, bersenda gurau disepanjang jalan menuju kampus. Diperempatan masuk area kampus dekat masjid Alfurqon, Budi teman satu angkatan dengan Ido dan Danang gabung, langsung menjejeri langkah Ratih.
“Ratih manis, kemarin tak sms kok gak dibalas sih, sibuk benar yah”, goda Budi
“Eh mas Budi, iya maaf….. , biasa anak kost lagi bokek pulsa. tapi untuk bukunya terimakasih sekali loh sudah dipinjami”.jawab Ratih ramah
“Alah gak apa-apa .biasa. kalau butuh buku yang lain mas Budi siap kok untuk membantu”.Oceh Budi lebay.
Ratih hanya tersenyum. Terlihat Danang agak marah melihat ulah Budi yang sok akrab dengan Ratih. Ido melihat gelagat itu, lalu dengan sengaja dia ngomporin Danang.
“Oh yah maaf Bud, kamu kan setiap hari kirim salam buat Ratih tu , tapi aku gak pernah sampekan. Lupa……..!!”, kata Ido dengan suara keras.
“Waduh.Do, parah kamu, makanya Ratih kok cuek sama aku. Ratih manis maukah kamu menemani aku ke kantin “.
Danang blingsatan mendengar ajakan Budi khusus untuk Ratih. Sialan traktir orang kok pilih – pilih.
“mas Budi yang baik, sayang nih aku udah makan, lain kali aja yah”, elak Ratih halus.
Plong dada Danang mendengar Ratih sudah menolak ajakan Budi.
“Good, gooooooooood.emang gadis baik”puji Danang dalam hatinya.dasar sirik.
Sore itu pulang kuliah Ratih melihat Danang baru keluar dari pintu bersama Iyut, sepertinya mau keluar. Ratih sedikit kaget walaupun dia sudah tahu bahwa Iyut salah satu dari fans Danang, tapi tak urung hati Ratih pun terasa berdesir ngilu. Sempat rona mukanya memerah, tapi dengan segera dapat dinetralisir.
Ketika berpapasan di halaman Ratih berusaha untuk tegar, dia mengangguk sopan kearah Iyut, tanpa menoleh kearah Danang.
Danang serba salah lalu dengan gesit dia sudah bergerak menghadang Ratih .menghalangi jalan .
“Dik aku keluar ngantar Iyut yah, aku cuma dimintai tolong kok “. Danang berusaha memberi penjelasan.
Ratih diam mematung. Lalu digesernya badannya menghindari Danang, tanpa menoleh dan pamitan Ratih langsung masuk kedalam.
Sampai kamar masih sepi ,rupanya Wita belum pulang. Diraihnya laptop lalu dibuka, untuk sesaat dia bingung mau menulis apa, kemudian seakan terlintas dibenaknya banyak uneg-uneg yang harus dikeluarkan mumpung Wita belum pulang, pikirnya.
ENGKAU.
Engkau…………..bagai matahari
Yang selalu menghangatkanku
Engkau………….bagai kelip bintang di langit
Yang memberiku cahaya dalam gelap
Engkau………….bagai pelangi
Yang membei warna jalan panjangku
Engkau………….bagai rinai hujan
Yang membasahi ladang hatiku yang tandus
Engkau…………bagai semilir angin
Yang menyegarkan segala penatku
Engkau…………bagai melati
Yang menebarkan bau harum dalam nafasku
Engkau…………bagai mimpi indah
Yang selalu memberiku inspirasi
Engkau…………bagai warna merah
Yang membuat semangatku membara
Tetapi
Engkau…………juga bagai warna biru
Yang dapat membuat hatiku pilu
Engkau……………bagai onak duri
Yang menusuk sakit relung hatiku
Ah………………….Engkau
Apapun tentang Engkau
Inginnya selalu kuraih dan kurengkuh
Karena engkau………..senantiasa ada dalam khayal dan nyataku
Karena engkau ada dalam cita dan cintaku
Karena engkau selalu bantu aku usaikan waktu
Seiring alunan lagu nan merdu
Sejuk……………..menyentuh kalbu.
Ratih menyudahi gambaran rintihan hatinya. Dia begitu nelangsa, tak tahu harus bagaimana dengan kisah cintanya, tanpa terasa menitik air matanya. Ratih menangis sendiri dalam hati.
Sejak kejadian sore kemarin, Ratih terlihat mulai menjaga jarak dengan Danang, apalagi setelah dia dapat sms dari Iyut.
“Kamu tahu kan kalau Danang pacarku, makanya jangan dekat- dekat, katanya banyak yang naksir, pacar orang juga diembat dasar gak tahu diri”.
Sengaja Ratih menyimpan sms itu, dia gak mau cerita kepada Anton dan Ido bahkan Witapun tidak diberitahu. Malu hanya karena seorang cowok.
Ratih selalu ingat pesan Ibunya di Surabaya, kuliah yang sungguh- sungguh, ingat orang tua bekerja keras untuk membiayaimu.
Danang sangat merasa kalau akhir-akhir ini Ratih menjauh, dan dia merasa tidak nyaman, apalagi melihat Raden Budi yang akhir-akhir ini rajin nyambangin Ratih, belum lagi kenalan Ratih yang polisi ganteng itu, lengkap sudah gunda gulananya hati Danang.
Sialan. tapi Danang tetap tidak bisa menentukan sikap. Kalau sudah seperti itu dapat dipastikan Danang akan menghilang, nginap di rumah saudaranya yang di cimahi. Alasan klasik, ingin menenangkan diri. Kata Anton PENGECUT
Sudah dua hari Ratih tergolek lemas tak berdaya, dia hanya tiduran di kamar, kemarin sudah diantar Wita ke dokter katanya Ratih kena gejala thypus, jadi harus banyak istirahat.
Dan disaat seperti ini hanya Anton yang setia menemani, dia menunggu di tepi kasur dengan harapan ketika Ratih terbangun yang dilihat pertama adalah dirinya.
Dan benar saat Ratih membuka matanya, terbangun dari tidurnya yang dilihat pertama Anton. Wita dan teman-teman lainnya sedang kuliah.
“Anton………..dari tadi?”,Tanya Ratih malu.
“dari kemarin bahkan, ayo makan dulu setelah itu minum obat”.
Ratih jengah diperlakukan Anton dengan manis.
“Apaan sih, aku gak apa-apa kok, aku sudah sehat “. Anton tidak menggubris, diambilnya mangkok berisi bubur ayam yang tadi dibelinya.
Dengan telaten disuapi Ratih. Setelah selesai diambilkan obat dan air putih hangat.
“Terima kasih yah An, kamu baik sekali”. Kata Ratih pelan.
“Alah….ngomong apa kamu, aku kan sahabatmu. Sudah biasa aja”. Kata Anton dengan termangu.
Sahabat, benarkah itu yang dimaui Anton. Bukankah akhir-akhir ini dia selalu berlebihan dalam bersikap pada Ratih. Selalu protec, over care dan satu lagi sekarang Anton juga punya perbendaharaan perasaan baru yaitu cemburu.
Anton akan uring-uringan tanpa sebab kalau tahu ada cowok lain yang dekat dengan Ratih.
Danang mengetuk pintu, minta ijin untuk diperbolehkan masuk.
“Dik maaf aku baru tahu kalau kamu sakit, sekarang bagaimana , sudah ke dokter?”, Tanya Danang beruntun, ada rasa bersalah jelas di wajahnya, karena baru mengetahui kondisi Ratih.
“Gak apa kok mas, sekarang sudah mendingan. Toh ada Anton yang selalu setia setiap saat”.
“Emang aku rexona apa, setia setiap saat “, canda Anton
“Kamu gak kuliah An, sudah sana kamu pergi kuliah, Ratih biar aku yang jaga”, Danang mencoba mengusir Anton dengan halus.
“Gak, malas ! gak tega aja aku meninggalkan Ratih bersama kamu”. Jawab Anton ketus.
“Maksud mu ?”.
“Pikir aja sendiri “.
Danang diam, terlihat geram dengan ucapan Anton.
Ratih serba salah, bingung mau bersikap. Anton dengan gayanya cengar cengir sendirian merasa diatas angin.Menang Aku.soraknya dalam hati.
Hari ini Danang dan Ido kuliah sampai sore, Ratih kosong, tapi hari ini dia ada acara menyelesaikan tugas bersama Yuni di perpustakaan kampus.
Seperti biasa , setiap bertemu yang ditanyakan Yuni pasti Danang. Mulai dari hal kecil sampai peluang dia untuk mendapatkan hati Danang.
Pukul 12.30 selesai tugas Strategi Belajar Mengajar. Ratih bergegas pulang, tapi di tengah jalan dia mendapat sms dari Iyut , mengajak ketemuan . Belum sempat membalas smsnya, Iyut tiba-tiba sudah ada di pintu gerbang keluar masjid Alfurqon.
Iyut lalu mengajaknya main ke rumahnya. Ratih dengan sedikit heran bersedia untuk ikut.
Sampai rumah Iyut , Ratih langsung disambut ramah oleh keluarganya, mama dan adik-adik Iyut. Ratih bersalaman dan tak lupa mencium tangan mama Iyut. “selamat siang tante”.
“Siang……, silahkan duduk , santai saja dulu yah “. Kata mama Iyut.
Belum sempat Ratih menaruh pantatnya pada jok sofa, Iyut langsung mengajak Ratih naik ke kamarnya. Semakin membuncah rasa heran Ratih dengan perilaku Iyut yang belakangan agak sedikit gondok padanya, teringat Ratih akan bunyi sms Iyut beberapa hari yang lalu. Kalau mau jujur Ratih sebetulnya sangat tersinggung.
“Dik Ratih aku mau minta tolong, .hem………………begini “, Iyut gak bisa melanjutkan , seakan ada yang tersekat dalam tenggorokannya.
Ratih menghampiri Iyut, dipegangnya tangan Iyut dengan tulus. “Ceritalah mbak mungkin aku bisa menolong “. Ratih menguatkan Iyut.
“ Eng…….bagaimana perasaanmu pada mas Danang ?”, tiba tiba Iyut melontarkan pertanyaan yang membuat Ratih bingung.
Ratih terdiam beberapa saat. Harus menjawab apa?, kalau menjawab yang sebenarnya jelas Ratih akan berteriak keras bahwa dia sangat sayang pada Danang, tapi dengan situasi seperti ini, oh…………….tidak bisa. Aku harus memahami perasaan orang lain, toh Danang juga gak pernah menyampaikan perasaannya , hanya signal-signal yang sulit untuk diterjemahkan.
“mbak……..aku gak ada apa-apa dengan mas Danang, hubunganku dengan dia seperti kakak adik, sama seperti aku dan Anton, dan mas Ido juga”.
“Tapi sikap mas Danang ke kamu kok lain, bahkan akhir-akhir ini dia mulai menjauhi aku”.
“Maksudnya apa mbak ?”.
“Begini dik, sebetulnya aku berhubungan dengan mas Danang sudah lama, sudah 1 tahun lebih sebelumnya kami baik-baik saja, sampai akhirnya kamu datang. Mas Danang langsung berubah,dia jadi cuek, dan gak perhatian lagi”. Suara Iyut pelan.
“Sebetulnya aku juga yang salah dik , aku terlalu memaksakan diri, mas Danang hanya mengikuti mauku, tapi…………..”.
“Sebentar mbak maksudnya apa ini ?’.
“Begini dik, sebenarnya mas Danang tidak mencintaiku dari awal kami kenalan, tapi aku yang memaksanya untuk mencoba siapa tahu lama-lama bisa.”. suara Iyut pasrah.
Ratih tidak tega , dipeluknya Iyut untuk menenangkan. “Tenang mbak, sabar yah”.
“Dik kemarin mas Danang bilang ke aku bahwa tak sanggup lagi bersandiwara dengan hatinya, dia tak mau terjebak dalam kepalsuan. Mas Danang cerita bahwa dia sudah menemukan tambatan hatinya, lalu gimana dengan aku, aku sangat mencintai mas Danang,hi………..khik hik……..”. Iyut menangis tertahan. Begitu pilu, mengiris hati, oh…………bagaimana ini.
Ratih membiarkan Iyut menangis, untuk menumpahkan perasaan galaunya. Setelah agak lama Iyut merasa lebih ringan beban hatinya. Dia menatap lekat-lekat mata Ratih.
“Dik apa mas Danang sudah nembak kamu ?”.
“Nembak ?, belum tuh mbak, lagian mungkin yang dimaksud mas Danang bukan aku, kan masih banyak cewek-cewek yang ada disekeliling mas Danang “.elak Ratih.
Iyut mengangguk , pandangan matanya sedih. Iyut sibuk menerka-nerka siapa cewek lainnya yang saat ini dekat dengan Danang. Tapi kenapa Danang selalu yang dibicarakan Ratih, gadis yang sekarang ada di depannya.
Entalah apa yang berkecamuk di pikiran Iyut. Ratih terlalu letih untuk menerka lalu dia pamit pulang, tak lupa pamit juga pada mama Iyut.
Hari ini hari yang memberatkan bagi Ratih. Tiba-tiba kepala Ratih puyeng gak karuan. Dia tiduran sambil membayangkan kejadian tadi siang. Danang………….mas Danang kenapa kamu tega seperti itu. Setiap cewek kamu beri harapan palsu.
Tak terasa Ratih ketiduran, sampai sore menjelang malam. Terdengar suara adzan maghrib, Ratih keluar kamar mau ambil air wudhu. Berpapasan dengan Danang.
“Kok gak kelihatan seharian dik, kemana aja ”. Tanya Danang .
“ ada kok di kamar, nyelesaian tugas “. Jawab Ratih pendek
“Sakit yah ?, kok pucat. Sudah dibilangin suruh istirahat kok masih bandel. Ingat , kita jauh dari orang tua, harus pandai-pandai menjaga kesehatan”. Danang menasehati.
Ratih diam tidak merespon., ambil air wudhu dan kembali ke kamar, sholat maghrib.
Usai sholat. Wita yang nasrani sudah menunggunya untuk cari makan malam di warung sederhana dekat tempat kost. Sambil melipat mukenanya Ratih mengisyaratkan gak ikut
.” Aku gak makan Wit. Perutku rasanya gak enak “.
“dibungkusin yah, minta lauk apa ?”. Ratih menggeleng pelan. Dia mengambil roti isi coklat dari dalam tasnya 2. Diletakkan di atas meja dimakan satu.,tinggal satu dibiarkan tergeletak
“Benar nih gak ikut , tuh suara kaki Anton sudah turun nyamperin kita”.
Ratih menggeleng, dia mengisyaratkan mau tidur sambil menempelkan kedua telapak tangannya di kepala. Wita makhlum dan tahu betul bahwa Ratih sedang tidak mau diganggu.
Pagi itu Anton blingsatan karena kemarin seharian gak bertemu Ratih. Di sms gak dibalas, di telpon gak diangkat, diketuk kamarnya gak dibukain. Sama dengan Danang, dia hanya sempat berpapasan ketika Ratih mau ambil air wudhu, selebihnya dia gak bisa menghubungi Ratih lagi.
Danang benar-benar gak bisa tenang. Takut kalau Ratih sakit lagi. Segera ditulisnya sms “Dik apa kamu sakit.tlng dibls ya”. Setelah menunggu 1 menit, 1 jam , sms itu pun gak dibalas Ratih. Semakin membuncah perasaan khawatir Danang, tapi dia juga gak bisa berbuat apa-apa., hanya menunggu jawaban sms dari Ratih.
Sore itu ada tamu yang gagah dan ganteng mencari Ratih. Polisi Brimob yang dinas di sukajadi . Ratih menerima dengan gembira. Wajahnya ceria, tertawanya lepas, terdengar sampai kamar atas tempat para cowok.
Anton dan Danang yang mendengar suara Ratih jadi gondok. Mereka khawatir setengah mati pada Ratih yang seharian mengunci diri di kamar yang dikhawatirkan malah bisa guyonan seperti itu.
Anton turun pura-pura mau mengambil sesuatu dibawah., padahal dia mau melihat apa yang sedang dilakukan Ratih sebenarnya.
“Eh ada tamu. Saudaranya Ratih yah “. Anton bertanya pura pura gak tahu sambil mengajak kenalan. Mereka berdua berjabat tangan.
“Anton, sahabatnya Ratih “. Kata Anton mantap.
“ Totok teman baru Ratih “. Jawab Totok tak kalah mantapnya. Namanya juga polisi. Akhirnya Anton ikut nimbrung. Mereka bertiga terlibat obrolan yang seru.
Sejak kejadian sore itu, sejak didatangi Totok , Ratih dalam melalui hari-harinya senantiasa gembira. Seakan kesedihan hatinya telah menguap, tidak terbebani perasaanya pada Danang, tidak merasa bersalah pada Iyut, pokoknya perasaannya benar-benar plong. Bebas. Merdeka.
Sebaliknya Danang makin khawatir dengan kedekatan Ratih dan Totok, makin berusaha untuk mencari cara menjauh dari teman-teman gadisnya terutama pada Iyut. Sekedar untuk meyakinkan Ratih bahwa dia tidak ada hubungan yang serius dengan teman –teman ceweknya.
Dan Anton sendiri semakin protect pada Ratih. Ido hanya bingung melihat tingkah kedua temannya.Mereka bersahabat tapi ternyata saling sikut walaupun dengan halus .
Sengaja hari minggu Danang mau ngajak Ratih ke Lembang, jauh dari tempat kost, lagipula udaranya yang sejuk akan sangat mendukung apabila untuk menyelesaikan masalah mereka, yang tanpa mereka sadari telah membuat mereka menjadi bermusuhan tanpa sebab.
Satu sama yang lain saling menghindar, Ratih seakan alergi bila bertemu dengan Danang, tapi aneh bila dia tak mendengar suara Danang, Ratih juga tidak tenang seakan ada yang hilang dari rongga hatinya. Begitupun Danang, dia ingin dapat bercengkerama dengan Ratih, berangkat kuliah bersama, saling memberi perhatian seperti dulu tapi melihat roman muka Ratih selalu ditekuk bila bertemu dengannya, dia jadi minder dan takut Ratih makin menjauh darinya apabila dipaksa.
Untuk sementara yang bisa dilakukan hanya melihat dari jauh, senyum manis Ratih, kesederhanaan Ratih, dan keceriaan Ratih.Syukur – syukur kalau Ratih mau menegur atau hanya sekedar memberi salam.
Tapi untuk hari minggu ini tidak, Danang sudah bertekad, dia harus bisa mengajak Ratih keluar dari persembunyiannya. KAMAR. Dengan menyanggong di depan pintu kamar Ratih, akhirnya berhasil juga Danang mengajak Ratih keluar dengan tujuan Lembang. Dengan mengendarai motor, mereka melaju.
Danang kali ini melarikan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga membuat Ratih mau tidak mau harus berpegangan erat pada pinggang Danang, untuk mengusir rasa takut dan hembusan udara dingin yang serta merta menyergapnya , dan itu memang yang diharapkan Danang.
Dia tersenyum kecil menyaksikan Ratih memeluk pinggangnya erat, sementara kepalanya disandarkan dipunggung Danang. Ingin rasanya Danang tetap melajukan motornya, sayang apabila pelukan Ratih harus berakhir, tapi dia juga harus berhenti mencari tempat yang tenang untuk mulai membicarakan masalah yang selama ini menghantui perasaannya.
Tapi belum sampai tujuan Ratih sudah minta berhenti, dia sudah gak tahan dengan udara dingin yang menyergapnya.
“Mas sudah-sudah berhenti disini saja,please”, suara Ratih gemetar menahan dingin.
“Apa ?, gak denger “,
“Berhenti donk, aku lompat loh , kalau gak mau berhenti”, ancam Ratih gemes dan pura – pura marah
Akhirnya Danang menepihkan motornya,kebetulan tak jauh dari tempat dia berhenti ada warung sederhana yang lumayan nyaman untuk tempat istirahat. Danang memarkir motornya , Ratih mengikuti dari belakang. Mereka berdua beriringan masuk ke warung, memilih tempat duduk yang agak menjorok kebelakang. SEPI.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman Ratih melonjorkan kakinya yang terasa mulai kesemutan. Danang duduk di sampingnya. Mereka memesan teh panas , nasi timbel dan gurami bakar. Sambil menunggu pesanan datang Danang mencoba membuka obrolan dengan Ratih .
“Dik…., maaf yah telah membuatmu merasa gak nyaman”.
“Iya gak apa-apa kok, tapi lain kali jangan kencang-kencang toh, aku takut kalau mengendarai motornya ngebut”.
Waduh…. lain kali, goooood berarti masih ada waktu-waktu lagi untuk dapat membonceng Ratih. Tiba-tiba hati Danang bersorak riang.
“ea deh janji.., dingin yah ?, sini tanganmu “. Tanya Danang sambil meraih tangan Ratih.
“untuk apa, gak ah “. Elak Ratih. Danang tak menggubris, segera ditariknya tangan Ratih dan digosok-gosokan dengan tangannya, lalu ditiup-tiup pelan. Perlahan-lahan perasaan hangat mengaliri nadinya, tapi bukan karena tangannya digosok-gosok Danang, tapi emang perasaan lain yang selama ini dia simpan yang menyebarkan kehangatan itu.
Dada Ratih berdegup kencang. Ratih dengan segera menarik tangannya dari genggaman Danang. Ratih tak ingin Danang tahu apa yang berkecamuk dalam dirinya. Sungguh tak boleh. Biar ini jadi rahasia hatinya saja.
Bersamaan dengan itu datanglah pesanan mereka. Mereka berdua makan tanpa bicara. Ratih mencoba untuk cuek. Sedang Danag sibuk memperhatikan Ratih. Selesai mereka makan, tidak langsung beranjak pergi. Ratih menghabiskan teh panasnya seakan ingin menutupi kegugupan nya.
“Dik…………………, bagaimana perasaanmu padaku “, tiba-tiba Danang bertanya tanpa basa basi. Langsung tepat pada sasaran yang diinginkan.
Yang ditanya bingung. Apaan ?”.
“Maksud mas Danang apa sih “.
“maksudku aku ingin tahu apa perasaan kita sama”.
“Emangnya perasaan mas Danang apa ?.
“Aku sayang sama kamu, aku ingin kamu jadi pacarku dik. Aku sayang kamu sejak kita jumpa pertama kali”. Danang membuat pengakuan yang membuat Ratih kegirangan, tapi tiba-tiba ada bayangan Iyut yang berkelebat didepan mata Ratih.
“Lalu bagaimana dengan mbak Iyut , mas ?”.
“Iyut!, sungguh aku gak ada hubungan apa- apa dengannya dik. Kami hanya teman”.
“Kalau teman lalu kenapa sampai mbak iyut mengartikan lain?.
“yah…………..aku gak tahu, selama ini juga aku gak pernah nembak dia, atau siapa-siapa cewek yang sering nyamperin aku. Mereka semua kuanggap teman kok “.
“Oke , kalau yang lainnya mas anggap teman, tapi mbak Iyut kenapa mamanya juga menaruh harapan padamu “.
“Yah……..aku gak tahu”.
“mas kuakui aku emang sayang sama kamu, tapi kalau aku disuruh merebut pacar orang, maaf. Maaf sekali aku gak bisa “.
“Lalu bagaimana dengan aku, apa aku harus ikut dalam permainan obsesinya Iyut. Gak. Aku gak bisa dik. Aku gak bisa , aku harus menyudahi semua ini.”.
“Sudahilah mas dengar baik-baik tapi tolong jangan libatkan aku. Aku cukup puas bisa mencintai kamu, dan kamu ternyata juga mencintai aku. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.”.
“Kamu gak adil dik, terus apa aku harus menggadaikan perasaanku ?’.
Ratih mendekati Danang. disentuhnya tangan Danang dengan lembut .Dia begitu gak tega melihat Danang terperangkap dalam kisah cinta yang tak diinginkannya.
Danang menunduk sedih. Ratih memegang kedua tangan Danang dengan erat. “Aku percaya mas Danang pasti bisa menyelesaikan dengan baik. “bisik Ratih
. Danang diam membisu. “Dik…..aku selesaikan masalahku dengan Iyut, tapi janji kamu harus menungguku”.
Ratih tak menjawab, ada yang teriris dalam hatinya, ingin rasanya dia menangis di bahu Danang , laki-laki yang dia cintai ini. Tapi tidak!, dia tidak boleh melakukan itu. Dia harus tegar. Dia harus kuat. Dia harus menyudahi perasaannya .
“Ayo kita pulang mas, jangan sampai teman –teman mencari kita.”
Danang berdiri lunglai. Dia ambil motornya, Ratih membonceng di belakang. ANEH. Kalau tadi Danang mengendarai dengan kecepatan tinggi, kali ini justru sebaliknya, Danang menjalankan motornya pelan., hampir merayap, padahal jalanan menurun.
Rasanya Danang tak ingin menyudahi kebersamaannya dengan Ratih. Ingin dia membawa Ratih entah kemana, yang jelas . jauh dari Iyut.atau Anton, Totok atau yng lainnya, yang jadi batu sandungan bagi hubungan mereka.
Ratih tahu betul apa yang berkecamuk dalam hati Danang. Diapun sebenarnya masih tetap ingin berduaan dengan Danang. Tanpa terasa tangannya melingkar dipinggang Danang. Kalau tadi karena Ratih ketakutan tapi kali ini Ratih ingin menenangkan Danang. Danang merasa senang dan damai hatinya ketika melihat tangan Ratih melingkar erat dipinggangnya.
Mereka berdua diam , masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri, yang jelas hari ini mereka menikmati perjalanan dari Lembang ke Setia Budi dengan perasaan yang luar biasa.
Sejak kejadian minggu itu, Ratih sudah bertekad untuk segera menyudahi semuanya, Dia ingin focus pada tujuan semula. KULIAH.
Tanpa bermaksud meninggalkan sahabatnya:Anton, Ido, Wita dan Danang. Dia memutuskan pindah kost di Cilimus. Di Rumah dosennya, kebetulan Pak Hari dosen statistik juga menawarinya untuk menjadi guru les privat putranya, belum lagi Hengki teman KKN yang cina itu juga menawari jadi guru les privat adikknya.
Dengan alasan itu akhirnya semua teman kosnya di panorama bisa menerima kepindahan Ratih.Mereka semua mendukung keputusan ratih untuk pindah kost, walau tak dapat dipungkiri, mereka semua merasa kehilangan sosok yang begitu menyenangkan.Lebih – lebih Danang dan Anton, untuk beberapa hari mereka sempat shock. Mengurung diri di kamr.
Hari-hari Ratih berlalu dengan banyak aktivitas, baik aktivitas kampus mapun pekerjaan barunya sebagai guru les privat.maupun asisten dosen.
Sekarang Ratih sudah semester 8 dia mulai sibuk menyusun skripsi. Sedang Danang dan Anton kelihatan masih banyak harus mengulang beberapa mata kuliah.
Semenjak Ratih pindah kost memang kedua laki-laki itu seperti frustasi, jarang kuliah, jarang mengumpulkan tugas, jarang berkumpul dengan komunitas orang jawa yang mempunyai grup dengan nama keren POKJA(Kelompok Jawa) yang anggotanya semua mahasiswa dari Jatim dan Jateng.
Dan Ratih tidak ada kesempatan lagi untuk mencari tahu keberadaan dua makhluk yang dulu sangat berarti dalam dirinya. Pernah dalam kesempatan syukuran kakak kelas yang sudah lulus , Ratih , Anton, Danang berkesmpatan bersama menghadiri, tetapi entah kenapa suasana yang dulu cair kini seperti membeku bagai es.
Danang hanya mampu melihat Ratih dari jauh tanpa ada keberanian untuk mulai mendekat, sedang Anton memamg duduk di samping Ratih tapi sikapnya tidak seramai dulu, kesannya formal banget. Ratih berusaha untuk tenang, sesekali dia mengajak Anton bergurau. Tiba – tiba hpnya bergetar, tanda ada sms masuk. Dibukanya ada pesan dari nomer tak dikenal :
Mata hati menatap sunyi, ………..
perih bagai teriris belati,
ingin kuraih mimpi, tapi tak mampu bahkan untuk kudekati,
hai mimpi……,kenapa kau tawarkan aku sepenggal luka hati,
kenapa kau tinggal aku sendiri……. berteman sepi
kenapa kau tega mencampakan cinta suci ini
dari seseorang yang selalu menyayangimu : DANANG
Ratih tak kuasa untuk menahan genangan airmata yang mulai mengintip keluar dari kelopak matanya, ditolehnya Danang yang sedang duduk sendiri disudut ruangan, menunduk sambil memainkan hp, mungkin menunggu jawaban hati Ratih.
Tiba- tiba tangan Ratih sudah mulai mengetik sederetan huruf : Mas bisa kita keluar sebentar. Singkat pesan itu., dan tanpa menunggu jawaban Danang, Ratih sudah beranjak keluar.
Ratih duduk di teras agak menjorok kedalam, sambil menyeka air matanya Ratih berusaha menata hatinya. Danang tepat dibelakangnya, diam mematung, tanpa ada yang bersuara untuk beberapa saat.
“Apa kabar mas, agak kurusan, kurang tidur yah “, Tanya Ratih membuka pembicaraan.
Danang tak menjawab, hatinya bergejolak, sungguh dia tak ingin perhatian manis ini, dia ingin Ratih benci, marah atau apalah, agar dia punya alasan untuk segera menghapus bayangan Ratih dari benaknya. Tapi Ratih tetap Ratih, seorang gadis manis yang santun, penyayang dan baik hati. Hu………………..danang mengeluh lirih.
“Mas……….maaf yah kalau aku mengganggumu, ng…………..lebih baik aku pergi saja, mungkin mas Danang akan lebih tenang “, lanjut Ratih berusaha untuk berdiri.
Tiba- tiba dengan sigap tangan kekar Danang telah menggenggam tangan Ratih yang mungil.
“Please…, aku mohon tetaplah disini dik”. Akhirnya Danang bersuara juga
Mas………….”, tangan Ratih menggenggam tangan Danang, “Ada yang bisa saya bantu?’, lanjutnya perlahan.
“Dik……maafkan aku, kalau emang aku salah, tapi jangan kamu pergi dariku, jangan kamu abaikan aku, paling enggak anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak mungkin”. Jawab Danang lirih bahkan saking lirihnya Ratih sampai hampir tidak mendengar.
“Mas…….., percayalah aku juga sama denganmu, aku sayang mas Danang, tapi aku juga gak mau mengacaukan mas Danang, lebih baik kita menata hati masing – masing, siapa tahu ntar ada jawaban untuk kita “.
Danang tak menjawab, hanya tangannya yang lebih erat menggenggam tangan mungil Ratih, dia tak ingin melepasnya.
Mereka berdua tanpa bicara hanya menghabiskan waktu dengan saling menatap dan berpegangan tangan, saling diam dan saling mengurai kata dalam hati sampai acara selesai, dan malam itu Danang sedikit gembira karena dapat mengantar Ratih pulang ke tempat kosnya. Sedang Anton hanya bisa menatap dari jauh dengan perasaan yang campur aduk .
Bulan April , bulan yang sangat membahagiakan dalam hidupnya, dengan penuh perjuangan akhirnya selesai juga kuliahnya, dan Ratih akan mengikuti wisuda dengan presatasi yang sangat memuaskan. Yang akan mendampingi wisudanya nanti Ayah, Ibu, mas Gatot kakak laki-laki satu-satunya. Tidak ada teman spesial, tidak Danang ,tidak Anton , tidak pula Mas Totok, walau semalam mas Totok masih ikut jemput keluarganya di stasiun namun untuk acara bersejarah ini, Ratih gak ingin sembarang orang jadi .pendampingnya.
Usai wisuda Ratih masih membantu dosennya pak Heri untuk jadi asistennya, Ratih masih memberi les privat,, ratih masih setia mengunjungi perpustakaan, ratih masih aktif dalam perkumpulan di POKJA, tetapi Ratih tidak lagi bisa duduk bersama Danang dan Anton sebagai mahasiswa. Sedangkan Ido selesai wisuda langsung pulang kampung ke Nganjuk. Ido tidak mau berlama – lama di Bandung, dia ingin segera mencari pekerjaan.
Akhirnya enam bulan berikutnya Ratihpun memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Dia tinggalkan kota Bandung dengan seribu kenangan didalamnya. Ratih tidak mengadakan pesta perpisahan dengan teman – temannya, Dia hanya mengirim sms pada Anton dan Danang, bahwa dia mau liburan ke Surabaya untuk sementara waktu.
Sedangkan Danang dan Anton mulai bangkit semangat belajarnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Mereka seakan berlomba untuk segera selesaikan skripsinya. Ingin cepat menyandang gelar sarjana , ingin cepat pulang ke jawa timur , menyusul sahabatnya Ido .

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

3 tanggapan untuk “Ketika Cinta Harus Menunggu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s