KREATIVITAS TIDAK SAMA DENGAN GILA

KREATIVITAS TIDAK SAMA DENGAN GILA

Siang Itu Aku kebetulan ada waktu kosong , Sehingga Aku dapat mengunjungi TK “favorit” , salah satu TK swasta yang mempunyai fasilitas cukup lengkap untuk ukuran daerah setingkat kabupaten. Dengan diantar kepala TK aku mencoba untuk masuk kelompok B yang kebetulan kelasnya begitu hening, ini jelas menggelitik keinginan tahuku, heran…… karena dunia anak TK adalah dunia suara, mereka tidak bisa diam, selalu ada yang menjadi bahan celotehan mereka. Didorong rasa penasaran yang besar kudekati mereka, sedang belajar apa mereka? Deg…………., hampir copot jantungku ketika melihat peri peri kecil (anak anak TK ) sedang berusaha menyelesaikan tugas perkalian, seperti layaknya siswa SD mereka tampak berfikir keras, dengan kening mengernyit, menandakan mereka sedang serius memikirkan jawaban soal sampai -sampai mereka tidak berani mengeluarkan suara. Tiba tiba hatiku merasa pilu, seperti teriris.., sedih….., prihatin , ada butiran kecil yang membasahi pipiku, ada kekhawatiran yang tak bertepi dalam sudut hatiku. Why ? Kenapa mereka harus begitu terbebani ? Kenapa keceriaan harus sirna dari wajah polos mereka ? Kenapa wajah berseri dan polos itu harus berganti dengan keseriusan yang terpaksa,? kenapa…………?,aku menghela nafas panjang……., belum usai rasa sedihku, tiba tiba aku harus dikejuttkan lagi dengan suara bu guru yang masih memberi PR (pekerjaan rumah ). O o…, aku bingung , sungguh bingung sampai tak bisa berkata – kata untuk dapat menterjemahkan perasaanku yang campur aduk tak karuan. Sebagai seorang guru TK yang sangat mencintai anak –anak kecil sungguh aku tak rela dengan apa yang kulihat pagi ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya sebelum aku pulang . Kucoba memberanikan diri bertanya kepada Kepala TK “favorit” tersebut , jawabnya untuk kemajuan TK. Aku tersenyum sedih., sehingga dalam perjalanan pulang aku masih terbelengu oleh pengalamanku siang ini, dan tiba-tiba aku merasa sesak napas. Oh……..teman –teman guru TK…, tolonglah berilah ruang gerak pada anak –anak kita untuk dapat menikmati dunianya. Jangan pasung kreativitas mereka, hanya karena kita ingin mendapat predikat “sekolah unggulan”, bagiku ini bukan kemajuan yang ditawarkan tetapi pembunuhan karakter anak, kalau ini tetap berlangsung , aduh kasihan sekali mereka untuk 3 – 4 tahun kedepan,atau periode-periode berikutnya , kalau sudah begitu apa kita masih bisa puas atau merasa bangga , kalau yang terjadi anak- anak yang harusnya dapat kita banggakan sampai mendapat “masalah” dalam perjalanan menyelesaikan pendidikannya, dan disitu jelas anda berperan dan ikut ambi l bagian dalam pembentukan pribadi yang rapuh, dan… entahlah. (aku bingung ).

Pagi itu …., dengan wajah berseri aku masuk kelasku (kelompok B) peri –peri kecilku lari menyambutku. Dengan senyum tulus dan ceria semua mengucapkan salam “ selamat pagi bu guru…,. Kujawab dengan gembira dan senyum manis “ pagi “, .
Sambil mengumpulkan daun-daun mangga, yang pagi itu rencanaya akan kujadikan sebagai materi bidang pengembangan seni (indicator 22) membuat berbagai bentuk dari kertas, daun-daunan. Yah! Pagi itu. anak-anak akan kuajak membuat mahkota raja dari daun mangga.. Ini bukan bentuk penghematan atau mau mudahnya saja , tapi sebagai seorang guru TK kan dituntut untuk pandai memanfaatkan lingkungan dan secara kebetulan di TK kami banyak ditumbuhi pohon mangga, jadi klop kan.

Dengan asyik dan kegembiraan yang terpancar dari peri-peri kecilku , terlihat mereka sangat antusias dalam merangkai daun –daun mangga menjad i satu lingkaran yang pas dengan lingkar kepala mereka. . Dan lucunya ketika ada salah satu temannya sudah selesai dan mencoba untuk memakainya , teman –teman yang melihatnya langsung tertawa cekikikan dan tertawa lepas . “Bu….Andi jadi raja “, teriak salah seorang anak di sudut kelas. Aku tersenyum mengangguk “yah ..semua akan jadi raja kalau mahkotanya sudah selesai “, . Merekapun menjawab “ya..bu”. Segera mereka melanjutkan pekerjaannya , berlomba untuk dapat menyelesaikan dengan cepat sambil mulutnya tak henti bercerita

Pagi itu aku puas, aku gembira karena sudah membuat peri-peri kecilku berkarya dan yang penting mereka dapat menghargai hasil karyanya. Esok hari …., aku sudah merencanakan akan mengajak anak –anak mengenal bagian- bagian tanaman. Anak- anak akan kuajak ke kebun . Semua peralatan sudah kusiapkan, ketika tiba-tiba ada suara menangis pelan tertahan seperi tangis terluka. Aku terkesiap kaget , kucari asal suara tangis …”hey… selamat pagi Evita, kog menangis ada apa sayang ?,tanyaku. Evita tidak menjawab, termenung sejenak, lalu “ bu…., aku gak boleh pakai mahkota raja kemarin, , kata mamaku seperti orang gila, aku akan dibelikan mahkota yang bagus , tapi Vita kan suka mahkota yang bikin sendiri “, . Aku kaget sekaget-kagetnya , dengan spontan kupeluk erat tubuh mungil Evita, untuk sesaat aku bingung apa yang akan aku jelaskan untuk anak sekecil Evita. Setelah agak tenang kukatakan dengan pasti “ sayang…….Evita tidak seperti orang gila, tapi Evita anak yang kreatif. Ingat sayang kreativ itu bukan gila”. Jawabku yakin. Evita mengangguk senang lalu berlari keluar bermain dengan temannya kembali. Aku masih tercenung…, sedih dan tidak mengerti . tiba- tiba teringat peristiwa kemarin , ketika melihat seorang guru TK telah membebani siswanya dengan tugas yang melebihi kemampuan anak (yang dengan rasa jengkel telah kuvonis seepagai guru pembunuh karakter anak ), tapi sekarang yang kutemui lain lagi…, seorang ibu dengan tanpa perasaan telah memberi cap “orang gila” hanya karena anak memamerkan hasil karyanya berupa mahkota raja dari daun mangga. Yang notabene hasil karya tersebut diperoleh dari gurunya, yaitu aku…(penulis ) berarti penulis artikel ini juga “gila”. Ah, entalah kuserahkan penilaiannya pada semua pembaca budiman. Tapi penulis punya keyakinan bahwa kreativitas itu tidak sama denga|n gila dan kemajuan sekolah juga tidak sama dengan pembunuhan karakter anak. . Dan sudah sewajarnyalah kalau kita para guru dan orang tua hendaknya mulai mengingat kembali dan selanjutnya mempunyai sikap seperti motto bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantoro dalam memfungsikan jabatan dan kedudukan , yaitu “ Ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani “ ,(keteladanan, pemberdayaan dan motivasi) yang ketiga motto tersebut jelas tidak dapat dipisahkan secara tegas dan praktis karena saling terkait. Akhirnya BRAVO untuk pendidikan Taman Kanak Kanak Indonesia.

DRA. SURATININGSIH
Tk Negeri Pembina Kawedanan Magetan

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Satu tanggapan untuk “KREATIVITAS TIDAK SAMA DENGAN GILA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s