Ketika Cinta Harus Menunggu Episode 2

2 Slowly ….I Will Forget you
Delapan bulan sudah Ratih meninggalkan kota Bandung. Meninggalkan orang – orang terdekatnya, orang – orang yang menyayanginya, dan satu makhluk Tuhan yang paling sexy yang telah mengubah Ratih menjadi pribadi yang kokoh dan mandiri yaitu Danang.

Selamat tinggal kota Bandung, selamat tinggal Anton, Wita, Ido.. dan mas Danang sayang…………….., biarlah kenangan bersama kalian kan kujadikan lukisan hati yang tiada tergantikan.

Lembaran baru telah dibuka Ratih. Dia mulai menjalani profesi barunya sebagai guru taman kanak – kanak. Profesi yang sangat menyenangkan, karena setiap hari bertemu dengan peri – peri kecil yang lucu – lucu .

Profesi yang sangat dinikmati oleh Ratih, amat sangat bahkan, sampai – sampai dia selalu ingin memberikan kejutan kejutan baru untuk murid – muridnya, dan tak ayal Ratih seakan jadi idola baru bagi mereka, peri –peri kecil yang senantiasa menyukai gaya mengajarnya maupun kepekaanya terhadap anak – anak mungil itu. Sehingga tidak hanya anak – anak yang menyayangi Ratih bahkan orang tua wali muridpun begitu mengidolakan Ratih.

Pagi itu Ratih berangkat ke sekolah dan seperti biasanya dia harus naik angkot jurusan darmo permai. Entah kenapa pagi itu angkutan kota seakan tak bersahabat ,selalu penuh, Ratih mulai kwatir ketika melihat jam dipergelangan tangan kanannya sudah menunjukan angka 07.00, biasanya dia sudah sampai sekolah dan sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah untuk menyambut murid – muridnya yang datang. Tapi….., Hu…Ratih mengeluh sedih dan khawatir, akhirnya dia memutuskan untuk naik taksi saja, tapi belum sempat tangannya melambai memanggil taksi, tiba – tiba ada mobil xenia hitam yang sudah berhenti di depannya. Kaca mobil terbuka dan kepala mungil Raditya muncul sambil berteriak girang.

“Morning bu gulu bareng adit yah “, ajaknya gembira.

“Loh mas Adit diantar siapa ?”, jawab bu guru Ratih

“diantal om bu, kata om bu gulu boleh ikut”. Jawab Adit gembira dengan suara cadelnya, terdengar lucu

Ratih sedikit bingung, ketika akhirnya seorang pemuda berperawakan tegap dengan sopan mempersilahkan masuk .

“silahkan bu, nanti terlambat loh”.

Untuk sesaat Ratih bimbang, sampai tangan mungil terjulur mengajaknya masuk.

Ratih terpaku diam, kikuk di dalam mobil.
“ Bu gulu…, rumahnya mana ? tanya Adit kembali, memecah keheningan didalam mobil

“ Pakis, mas Adit pernah ke pakis ?, Ratih sudah mulai bisa menguasai situasi

Raditya menggelengkan kepalanya yang mungil. Pemuda tegap disebelah Adit yang namanya Om Aris, tersenyum, membelai kepala mungil Adit.

“Mau main ke rumah bu guru yah, ntar om antar deh:.

“ mau..mau.., boleh kan bu ?”.
Ratih mengangguk tak pasti, dia hanya mampu tersenyum kecut. Basa basinya ternyata malah senjata makan tuan. Hu…..

15 menit terasa sangat lama bagi Ratih, akhirnya sampai juga di sekolah. Ratih dengan gesit segera beringsut untuk turun. Lalu dibukanya pintu depan mengajak Raditya turun.

“ Terima kasih mas Aris “.

“ Sama – sama , kapan – kapan boleh yah ngantar Adit main ke rumah ?, tanya Aris sopan.
Ratih tak menjawab hanya tersenyum sambil berlalu dengan menggandeng tangan mungil Adit.

Beberapa pasang mata guru TK temannya melihat Ratih dengan beribu pertanyaan yang menuntut jawaban. Ratih pura – pura gak peduli.
Dengan langkah super dipercepat dia langsung masuk kelas, menyimpan handbagnya, dan terus keluar berbaur menemani murid nya bermain di halaman sekolah. Yah TK tempat bu guru Ratih mengajar memang masuknya jam 7.30.

Siang itu terasa terik, panasnya sangat menusuk kulit, sampai – sampai Ratih harus mengenakan jaket dan payung ketika berjalan menyusuri gang kecil menuju rumahnya.

Bukan sok cantik, tapi memang Ratih ingin menjaga kesehatannya dengan tidak membiarkan matahari membakar kulitnya.
Sampai rumah, seperti biasa sepi. Ayahnya masih kerja pulangnya bisa dipastikan sore hari sekitar pukul 15.00. Begitupula dengan kakaknya , nanti sore baru pulang dari kerja. Sedangkan ibunya kelihatan sedang mandi, memang sudah menjadi kebiasaan bagi ibu kalau mau sholat selalu mandi dulu, supaya tenang dalam menjalankan ibadah sholat, itu alasannya.

Ratih langsung masuk kamar, mencoba untuk rebahan sebentar. Udara panas di jalan ternyata mampu membuat kepala Ratih sedikit pusing. Biasanya kalau sudah diistirahatkan sebentar, pasti pusingnya akan hilang.
Pukul 16.15 menit Ratih terbangun dari tidurnya, itu juga karena ibu terus mengetuk – ngetuk pintu kamarnya. Rasa pening dikepala sudah agak redah, Ratih menggeliat sebentar untuk mengendorkan syaraf – syaraf yang kaku. Dilihatnya jam dinding. O…o sudah setengah lima, bergegas Ratih meraih handuk dan menuju kamar mandi .

Ratih sedang asyik membaca tabloid wanita yang telah memuat hasil tulisannya , sebuah cerita pendek, ketika ada salam dari luar
“ Asalamu alaikum……”.

“Wa alaikum salam,”, jawab Ratih sambil menyeret sandalnya menuju ke pintu.

Ketika pintu dibuka, deg……………….jantung Ratih seakan mau copot, begitu tahu siapa tamunya petang itu. Dengan perasaan tak percaya, Ratih diam mematung,

“Selamat malam ……..gak boleh masuk nih “, kata tamunnya

“ Malam….., silahkan masuk “, Ratih mempersilahkan tamunya masuk dengan perasaan masih tidak percaya.

Tamu yang ternyata Aris , yaitu omnya Raditya muridnya, yang tadi pagi ngantar sekolah, kenapa malam ini bisa sampai disini yah.
Setelah speechless agak lama, akhirnya cair juga suasana malam itu, ternyata om Aris orangnya enak diajak bicara, pengetahuannya luas, sehingga pembicaraan malam itu terasa menyenangkan.

Tidak tahu dimulai darimana, kebiasaan om Aris, selalu setiap akhir pekan bertandang ke rumah bu guru Ratih sekarang, dan anehnya Ratih juga tak mampu menolak kehadiran pemuda tegap itu, bahkan kadang Ratih suka berharap lebih, seandainya diajak keluar , pasti akan lebih menyenangkan. “Ih…apaan tuh “, Ratih geli sendiri dengan pikiran nakalnya.

Seperti malam minggu kesembilan dibulan Februari ini, berarti sudah dua bulan lebih satu minggu Om Aris disiplin menemani malam minggu Ratih.
Hemz… Malam itu baru pukul 19.00 ketika Aris datang ke rumahnya,

Ratih sudah kelihatan rapi, seakan dia tahu kalau Aris mau datang. (GR). He……………………Ratih malu sendiri. Ketika tahu ada mobil parkir di halaman rumah, bener kan.

Ratih pura – pura baca majalah wanita yang tadi dia pinjam dari bu Tutik, teman guru satu sekolah. Ada ketukan pelan ..dan suara salam dari luar. Ratih bergegas menuju handle pintu, dibukanya pelan sambil membalas salam
“waalaikum salam.., eh mas Aris, silahkan masuk “, ratih sedikit berbasa basi.

“ Mengganggu tidak…?”, tanya Aris , seakan mau mempermainkan perasaan Ratih.

Ratih hanya menggeleng pelan, sambil menggeser tubuhnya agar Aris bisa masuk kedalam rumah.

“ Oh nak Aris……”, tiba- tiba ibu keluar dari kamar tengah
“ Selamat malam bu “, jawab Aris sopan sambil mengulurkan tangan, bersalaman.
‘ Silahkan ngobrol yah, ibu mau ke rumah bawah, adik ibu sakit “, pamit Ibu ramah
“monggo….”, Aris memang pemuda yang santun, dan itu salah satu yang membuat Ratih dan keluarga besarnya sangat menyukai, selain masa depannya yang sudah jelas, sebagai perwira polisi menengah , juga budi bahasanya .
“ Siapa yang sakit dik..”, tanya Aris
“ Om Bari adik ibu yang bungsu, rumahnya di pakis bawah”. Ratih menjelaskan
“ Kamu gak mau nengok ?”, Aris bertanya lagi
Ratih belum sempat menjawab, Aris sudah menyambung lagi
“ daripada bengong di rumah , kita susul ibu yoh, nengok keluarga yang sakit kan kewajiban “.
Ratih mengangguk pelan. Dia berdiri masuk kedalam , mencari kakaknya, berpamitan mau keluar bersama Aris.

Di rumah Om Bari ternyata ramai`sekali, banyak saudara yang berkumpul. Aris tidak canggung sama sekali, dia dengan santainya bisa berbaur dengan apik, tidak berlebihan.

Diam – diam Ratih merasa bangga bisa mengenal Aris. Sekedar bangga.
“ Mas Aris pacar mbak Ratih yah “ tiba – tiba Hengky sepupu Ratih, anak om Bari, yang masih sekolah di SMA kelas dua bertanya dengan lancangnya. Dan serentak saudara – saudara Ratih semua menoleh menatap Aris, menunggu jawaban, Aris menatap Ratih lembut, Ratih membuang muka, pura – pura sibuk mengganti chanel TV.
Tiba – tiba Aris mengangguk pelan, sambil menepuk bahu Hengky yang duduk disebelahnya
“Do’ain yah”. Jawab Aris menegaskan
Semua yang hadir di ruangan tengah itu lalu serta merta menjerit kegirangan ‘ Asyik…….”,
sompret runtuk Ratih dalam hati dengan menahan malu, walaupun sebetrulnya hatinya juga kegirangan , paling enggak jawaban Aris tadi sudah membuat semua keluarga legah, untuk kelanjutannya lihat saja nanti,.
Sejak kejadian malam itu, entah kenapa hubungan Ratih dan Aris semakin dekat.

Tanpa pernah ada prosesi pernyatan cinta dari Aris, dan Ratih sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.Hubungan mereka mengalir begitu saja, tidak dibuat – buat dan tidak direkayasa.

Aris sangat bersyukur bisa dekat dengan Ratih, begitu pula dengan Ratih. Keduanya begitu saling membutuhkan, saling mendukung dan saling menyayangi.

Hingga pada suatu hari, Ratih mendapat tugas dari Dinas pendidikan kota untuk mengikuti workshop tentang pendidikan karakter anak usia dini di Sun hotel di dalam komplek Sun City Sidoarjo.

Ratih tidak naik travel seperti biasanya apabila harus mengikuti workshop ke luar kota, kali ini Aris ingin mengantar sendiri, yah kota sidoarjo kan dekat dengan Surabaya.

Sampai Sun hotel masih pukul 10..00, padahal peserta chekin baru nanti pukul 12.00, masih ada waktu dua jam untuk istirahat, tetapi Aris gak bisa menemani karena ada tugas di POLDA.

Ratih memahami kesibukan Aris. Sambil menunggu peserta lainnya datang , Ratih menunggu di lobby untuk sekedar melepas kepenatan, diambilnya majalah diatas meja, dibukanya satu persatu halaman, mencari artikel yang bagus.
Belum selesai membuka halaman , tiba – tiba ada seseorang yang menjejeri duduknya.
“permisi yah mbak “, dia berbasa basi minta ijin, sebtulnya gak perlu juga sih, ini kan fasilitas umum, tapi untuk sopam santun sebagai orang timur, bolehlah.
“ ea..silahkan”, jawab Ratih sambil mengangkat mukanya beralih ke orang sebelahnya.

Secara refleks tanpa dikomando otak, kerja jantung Ratih lebih cepat detaknya, setelah tahu siapa orang yang barusan duduk disampingnya, tak kalah kaget dengan Ratih, orang yang tadi dengan tiba – tiba mendaratkan pantatnya disamping Ratih itu lebih kaget lagi.

Ekspresi yang ditampilkan sungguh luar biasa, melotot bahkan hampir copot bola mata itu dari tempatnya dan melongoh.
Belum sempat Ratih menata hatinya, orang tersebut sudah meraih tangannya dengan percaya diri yang kuat

’ Dik…Ratih kan ? alumni UPI dari surabaya ?”, tanyanya beruntun.
Ratih mengangguk pasti, karena dengan sesungguhnya diapun tak kalah percaya dirinya dengan orang tersebut, karena orang inilah yang dulu pernah menghiasi mimpi – mimpi indahnya, orang inilah yang dulu sering menari – nari dalam otaknya, yah dia adalah DANANG.

Danang menggenggam erat tangan Ratih, sampai Ratih merasa kesakitan. Dengan meringis menahan sakit ditariknya tangan mungilnya dari genggaman Danang.
“ mas saki…it”,
“ Oh maaf dik, gak bermaksud, tapi sungguh ini luar biasa, aku seneng bisa ketemu kamu lagi, apa kabar ?, tambah cantik, tambah anggun, aku kangen dik “, Danang nyerocos tanpa punya rasa malu dan sungkan sama sekali.
Ratih dibuat jengah dengan ulah Danang,
“baik mas kabarku, gimana kabar mas Danang sendiri, kelihatannya tambah makmur yah”, tanya ratih balik.

Danang tidak menjawab, dengan kesal dibanting badannya kesandaran sofa.
“ gara – gara kamu aku jadi begini”, Danang menjawab kekanak – kanakan. Asbun kata Ratih.
“ masih ada waktu 1 jam, kita keluar yok, ke KFC depan, lebih bebas kita cerita.. sambung Danang

Tanpa menunggu persetujuan Ratih, Danang segera menghampiri reseptionis dan entah apa yang dibicarakan Danang .
Dan dengan tangannya yang kekar, ditariknya Ratih . Dengan masih kebingungan Ratih terpaksa mengikuti langkah panjang Danang.

Di KFC mereka duduk berhadapan, sambil menikmati makanan, Ratih dengan berani menatap lurus muka Danang, Hemz………….agak kurus tapi masih ganteng, sedikit rapi, yah maklum kan sudah jadi pak guru sekarang dan raut wajahnya sedikit muram .
Beda dengan Danang, ketika dia menilai Ratih,

“gadis mungil ini masih ayu, kelihatan makin smart dengan rambut sebahunya, dan dengan polesan make up tipisnya kelihatan lebih anggun ditambah kacamata’.

Danang senyum sendiri ketika dia ingat kenangan waktu di Bandung, waktu itu Danang yang nasrani mengantar Ratih untuk sholat terawih di masjid Alfurqon, masjid kampus, dengan keusilannya dia sembunyikan sandal Ratih, Ratih kebingungan mencari sandalnya, satu persatu teman Ratih sudah pulang tinggal Anton yang setia menunggu dan membantu cari sandalnya, hasilnya nihil. Sampai akhirnya muncul si handsome Danang, pura – pura ikut membantu dan dia pula yang pertama menemukan sandal Ratih.

Anton yang tahu kelakuan Danang jadi marah, Danang tak peduli, Ratih saking gemesnya terus memukul badan Danang, dan Danangpun senang. Diakhir rasa gondoknya dia biarkan tangan Danang menggandengnya sampai tempat kost.

“ Kenapa mas kok senyum sendiri, aneh ?”, gerutu Ratih
“Ingat waktu kamu masih kecil dulu, pasti ingusnya kemana – mana ?,
“ Eh…sok tahu, aku kan cantik dari kecil”.
“Apa iya……, perasaan kok aku pernah lihat ada anak kecil gak pakai rok , manjat pohon, item dan ingusan”, Danang meledek

Ratih gak tahan digoda seperti itu, dengan serta merta dicubitnya tangan Danang, dan kesempatan itu tidak disia – siakan Danang, ditangkapnya tangan mungil Ratih.

Dan untuk beberapa saat mereka saling bergenggaman tangan, dan mereka membiarkan rasa mereka mengalir begitu saja tanpa batas, memerintah otak untuk kemudian memompa jantung untuk berdenyut lebih cepat. Ada rasa ngilu dan senang pada perasaan mereka masing – masing. Tapi Ratih cepat sadar, bahwa itu tidak boleh dilakukan, dengan lembut ditariknya tangan mungilnya dari genggaman tangan kekar Danang.

“ dik……aku sayang sama kamu, terus tanpa batas waktu, tapi kenapa kamu lari dari aku “.
Ratih tidak menjawab hanya memandang sayu Danang.
“kamu sudah menikah? Atau tunangan mungkin ?’,
Ratih menggeleng pelan,
” belum mas, aku masih senang sendiri, aku sebetulnya menunggu keajaiban ini, apa kamu gak ngerti isi hatiku, aku terlalu sayang sama kamu “ Jerit Ratih dalam hati.
“Mas Danang mungkin yang sudah menikah atau tunangan yah “, balik Ratih bertanya.
Danang diam tak menjawab, dia lihat pergelangan tangannya sudah pukul 11.58. Tiba – tiba dia berdiri ke kasir, dan menarik tangan Ratih untuk pergi.
“Ayo kembali sudah hampir jam dua belas nih”.

Setelah kejadian siang itu Ratih belum bertemu lagi dengan Danang, maklum beda tujuan. Ratih mengikuti workshop pendidikan karakter untuk anak TK, kalau Danang ada sosialisasi BOP untuk pendidikan khusus.

Danang hanya mengirim pesan singkat lewat HP, dan Ratih belum sempat membalas karena gak ada waktu, habis materinya padat banget,
Sampai esok harinya, ketika Ratih mau makan pagi dan rencananya habis makan pagi mau langsung masuk ruang kelas , daripada bolak – balik ke kamar, makan waktu.

Lift terbuka …setelah dipencet., Ratih masuk, rupanya sudah ada orang didalam………dan deg. Jantung Ratih rasa mau berhenti ketika tahu yang ada didalam adalah Danang.

Dengan gesit tangan Danang menarik Ratih untuk segera masuk. Untuk sesaat mereka diam, akhirnya Danang yang membuka pembicaraan dulu
“ Dik sms ku kok gak dibalas, sibuk banget yah “.
“Enggak juga mas, rencana mau dibalas ej sudah ketemu”, jawab Ratih enteng sambil tersenyum manis, menggoda, membuat Danang jadi gemes.
“ Sarapan di resto yah “, ajak Danang
“Loh .” belum selesai Ratih menjawab, kebiasaan danang menggeret tangan Ratih sudah kambuh lagi
“ Ayo..gak apa, yang penting jam 7.30 sudah siap ditempat kan, masih ada waktu 1 jam, lumayan kan “.

Karena Ratih tak ingin ribut akhirnya ia mau saja seperti kerbau dicocok hidungnya. Tapi yang sebenar – benarnya , mungkin ini juga yang dimau Ratih.
Ratih dan Danang lebih banyak cerita , daripada menikmati santapan paginya. Danang seperti orang yang kesurupan, dia rasanya sayang kalau harus melewatkan pandangannya walau hanya 1 detik, dan ini membuat Ratih salah tingkah.
“ Mas….terus yah, kalau kamu terusan ngliatin , aku pergi loh”, ancam Ratih . Merajuk
“ Yah………enggak, enggak, jangan gitu toh, aku hanya nggak nyangka bisa ketemu pujaan hatiku 5 tahun yang lalu, itu saja “.
“ wis mas………ngomong lainnya, gimana skarang statusnya?”. Serang Ratih
Danang gak langsung jawab. Dia agak termenung , bingung dan kacau.
“Mas…….., kalau keberatan gak usah dijawab yah “, pelan suara Ratih menenangkan Danang.

Dan justru sikap Ratih yang selalu peduli inilah yang membuat Danang tak bisa melepaskan bayangan Ratih walau 5 tahun sudah lewat.
Sungguh sangat berbeda dengan Ety pacarnya yang satu profesi dan satu sekolah dengannya, anaknya keras, cemburuan, dan yang paling membuat Danang menderita adalah sifat posesif Ety, pernah 5 bulan yang lalu, Danang memutuskan hubungan mereka, tetapi Ety mengancam akan bunuh diri, dan itu membuat Danang harus berpikir ulang untuk memutuskan cewek kekanak – kanakan yang mau menang sendiri itu.
Dan ini tentu sangat beda dengan Ratih pujaan hatinya, anaknya dewasa, lemah lembut, perhatian dan smart, walau kadang sedikit manja. Rasa nyaman kalo sudah dekat dengannya, tanpa harus melakukan apa – apa.

“Mas….., ngelamun atau mikir nih “, Ratih membuyarkan lamunan Danang.
Danang tersenyum malu, lalu menggoda Ratih
. “ bodohnya aku, orangnya ada didepan mata kok, knapa mesti tak lamunkan, oh ini gara – gara perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan, jadi gak bunyi deh “.
Ratih jengkel dengan jawaban Danang, dicubitnya pinggang Danang dengan manja. Dan Danang kegirangan gak ketulungan.
Sungguh tingkah dua sejoli itu jadi benar – benar mirip ABG kasmaran.
“ Aku sayang kamu dik, terus…………..tanpa batas waktu, Ingat itu yah “, suara Danang pelan namun meyakinkan.

Ratih tak menggubris, dia lirik jam tangannya jarum menunjuk angka 7.10, Danang langsung berdiri menuju ke kasir. Mereka berjalan beriringan, sampai lobby hotel mereka berpisah .

Siang hari , waktu break Danang minta ketemuan, tapi Ratih gak bisa, ada tugas dari pemateri untuk membuat RKH (rencana kegiatan harian) yang bermuatan karakter. Yang jelas hari kedua benar – benar padat, sehingga membuat Ratih benar – benar lelah.
Malam hari ketika ada panggilan masuk dari hpnya, benar – benar gak terdengar. Ratih tertidur pulas. Danang jadi gondok, merasa diabaikan.
SMS gak dibalas, telepon gak dijawab. Dan sikap Ratih ini sungguh membuat Danang super penasaran.

Pagi hari , baru selesai Ratih sholat subuh, suara hpnya sudah menjerit – jerit minta diangkat. Dilihatnya di layar monitor Aris calling
“Ass mas…….”.
“Sudah sholat belum ?”
“Baru selesai, nih baru mau mandi, udahan dulu yah, ntar disambung lagi”.
“OK…eh bentar, kangen aku gak ?”,
Ratih tertawa geli, ni mas Aris kesurupan apa, kok jadi kekanak – kanakan sih, gak biasanya.
“ sudah yah mas.., tak tutp loh “, dan langsung Ratih menutup tanpa menunggu jawaban dari Aris.
Belum sempat Ratih menaruh hp. Tiba – tiba sudah berbunyi lagi. Ratih mengira Aris kembali menelepon, karena komplain sudah diputus tanpa persetujuan.
“Ada apa mas Aris…………….., mau mandi nih”.
Danang yang menelepon dan dipanggil dengan nama Aris, sedikit tersentak kaget.
ARIS, siapa dia ? pacar Ratih atau mungkin tunangan Ratih. Tiba – tiba ada yang berdesir dihati Danang, cemburu dan kecewa.
“Mas…………………”, Ratih memanggil
“Aku bukan Aris dik, Aku telepon cuma mau bilang selamat pagi “, jawab Danang dengan suara parau.tertahan di tenggorokan.
Ratih kaget. Begitu cerobohnya aku. Sesal Ratih dalam hati.
“ Oh maaf mas Danang, sudah bangun toh”, jawab Ratih asal – asalan
“Selesai sholat subuh, iseng mo bangunin dik Ratih eh malah……………”, jawab Danang menggantung, tanpa berniat menyelesaikan kalimatnya.
“Sholat subuh …?”, tanya Ratih terkejut. Bukankah mas Danang katolik , pikir Ratih tak habis pikir.
“Sudahlah….gak usah dipikirkan, aku tahu, pasti kamu mau tanya apa, yang jelas aku sudah jadi mualaf sejak 2 tahun yang lalu, gak usah tanya kenapa?,.
Ratih bersyukur bahkan hampir saja bersorak – sorak gembira, he………….
“ Selamat yah mas, Oh yah aku mau mandi nih, ntar disambung lagi yah”.
“Sebentar dik, aku Cuma mau bilang ini kan hari terakhir aku ikut sosialisasi BOP, ntar jam 11.00 penutupan dan langsung chekout, terus terang aku pengin ngomong penting nih, jadi makan paginya barengan yah, ditempat biasa “. Pinta Danang
“Waduh mas…, maaf sekali, kalau pagi ini sungguh gak bisa, coz kelompokku yang maju untuk presentasi, dan rencananya usai makan pagi kita kumpul dulu. Sory yah”.
“Kalo gitu selesai penutupan, aku tunggu di lobby, jam makan siang kita keluar yah, itu kalau kamu masih kasihan sama aku dik”, suara Danang terdengar lirih
Dan Ratih paling gak bisa membayangkan raut wajah orang tersayangnya ini sedih.
“OK mas, sampai jam 12 saat break makan siang, udah dulu yah”. Ratih menutup pembicaraan.

Ada rasa tak rela ketika tahu Danang akan selesai hari ini, sedangkan dia masih 1 hari lagi. Tetapi ada perasaan gembira ketika tahu Danang sudah jadi mualaf, dan sedikit rasa penasaran dengan apa yang disampaikan Danang tadi, bahwa ada pembicaraan penting yang harus disampaikan saat ini juga. Kira – kira pembicaraan apa yah.

Sedangkan Danang dikamarnya sedang resah gak karuan, banyak pertanyaan tentang nama Aris yang disebut Ratih tadi, siapakah Aris, bagaimana sosok Aris, Mengapa harus Aris, dan masih banyak lagi. Hemz………..pagi yang menegangkan.

Pagi itu bagi Danang dan Ratih adalah pagi yang sangat panjang, rasanya jarum jam sulit diajak kompromi untuk segera menunjuk ke angka 12. Mengikuti acata penutupan Danang tidak semangat, sekali – kali dia ikut tepuk tangan untuk sambutan dari kepala Dinas Pendidikan Propinsi, sebagai partisipasi saja, lebihnya , Danang banyak melamun.

Begitupun Ratih, bolak balik lihat jam tangannya, setelah debat sana sini, akhirnya yang ditunggu – tunggu datang juga, waktunya ISHOMA.

Ratih bergegas keluar, dia menolak ajakan temanya Ida dari Jombang untuk makan siang yang sudah disiapkan panitia. Dengan langkah bergegas dia menuju lobby, terlihat jelas pemuda jangkung yang memakai T shirt warna putih sedang asyik membolak balik koran. Ratih langsung menghampiri.
Ratih benar – benar tertegun, hmz mas Danang benar – benar ganteng, masih seperti yang dulu.
“Mas….”, panggil Ratih.
Danang tersenyum “ Sudah selesai?’, tanya Danang sambil berdiri.
Ratih mengangguk .
Mereka berjalan beriringan keluar menuju KFC , pesanan mereka masih sama seperti kemarin, bahkan tempat duduknya juga masih sama.
“Mau ngomong apa sih mas, kok sepertinya penting banget”. Ratih sudah gak sabar
“maaf sebelumnya kalau aku lancang, tapi aku percaya kamu pasti masih mempunyai perasaan yang sama dengan aku, walau sudah 5 tahun lewat , aku percaya kamu pasti masih memelihara rasa cinta itu. Begitupun dengan aku, bedanya kalau aku berani mengutarakan bahkan sejak 5 tahun yang lalu, kalau kamu lebih banyak menyimpan sendiri, terlalu banyak yang kamu pikirkan, apa gak sakit dik ?’,
Danang mulai berbicara tanpa ada titik koma, terus melajau seperti kereta .

“ Aku sudah berusaha meyakinkan, kamu selalu mengelak, bahkan setelah kamu lulus dari UPI, aku coba terus menghubungi kamu lewat udara tapi gak berhasil ,gak tahu nomermu ganti atau kamu sengaja menghindar, sampai aku datang ke surabaya, jawaban yang kuterima kamu nyusul kakakmu ke Irian, itu membuat aku terpukul, aku down”, suara Danang semakin lirih.

Ratih tak bisa menjawab, dia bingung mulai darimana untuk mengklarifikasi semua pernyataan Danang.
“Ok aku mau bicara sejujur – jujurnya , karena bagiku untuk memulai suatu hubungan apapun itu, kita harus jujur”.
Ratih tidak menjawab, dia hanya mampu menatap wajah sendu pemuda didepannya, menunggu kelanjutan ceritanya.

“ Sejak 1 tahun yang lalu, aku sudah menjalin hubungan dengan anak jogja, anak tunggal pengusaha ayam potong, dia teman mengajar , kami satu sekolah, aku tidak tahu kenapa aku bisa menjalin hubungan dengannya, yang aku tahu, aku sudah putus asa dengan nyanyian hatiku padamu yang tak kunjung bersambut, nama gadis itu Ety, sebetulnya kami sangat – sangat tidak cocok, disini aku yang banyak mengalah, karena aku toh sudah gak punya harapan apa- apa. Tetapi Tuhan masih sayang sama aku, sampai aku dipertemukan kamu lagi, apa ini jawaban dari doa – doaku, bahwa aku inginkan yang terbaik untuk hidupku “.

“Mas……, aku sungguh gak tahu masalahnya, tapi aku berusaha untuk mengerti kamu. Betapa sakitnya melalui hari – hari dengan orang yang tidak kamu sayang, tapi itu sudah terjadi, dan kamu tidak bisa hanya karena pertemuan kita lalu akan membuat suatu keputusan yang tidak fair. Anggap saja pertemuan kita ini obat dari kerinduan kita masing – masing, Semoga dengan obat ini bisa memotivasi kita untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik, bagi siapapun yang ada disekitar kita’, Ratih berusaha menenangkan Danang
.
“Apa kamu sudah punya tunangan dik, jawab dengan jujur ?,
“belum mas, aku masih sendiri “.Jawab Ratih pasti.
Ratih berani menjawab dengan pasti karena memang dia belum terikat pertunangan dengan siapapun, sedangkan Aris hanya teman biasa yang mungkin frekuensi pertemuan dan kedekatannya luar biasa.
“Lalu siapa Aris yang kamu sebut tadi pagi?”, kejar Danang, ada perasaan lega disitu.
“Dia temanku, Oom dari muridku, yang kebetulan sering main ke rumah, sehingga hubungan kami cukup dekat”. Ratih menjelaskan.
“Lalu bagaimana persaanmu terhadap Aris ?’, danang masih mengejar, penasaran.
“Biasa lah, seperti dengan teman – teman yang lain “.
Tiba – tiba Danang dengan suka citanya langsung menggenggam tangan Ratih.
“Alhamdulillah, kamu tahu betapa leganya hatiku mendengar ini semua, percayaaalah dik aku akan selesaikan masalahku secepatnya, tunggu aku. Dan tolong jagalah cinta kita, aku percaya kamu bisa, aku sayang kamu, terlalu sayang bahkan, please, kamu mau janji kan “.

Ratih menarik tangannya pelan. Sebagai seorang guru, dia harus bisa menjaga sikap, dia bukan ABG yang bisa pegangan tangan disembarang tempat.

“Mas, tolong ……beri kesempatan padaku untuk memutuskan. Kalau perasaanku kamu sudah tahu jawabannya, tetapi disini kita tidak bicara hanya perasaan kita, tetapi ada orang lain yang juga berharap pada kita, pikirkan itu mas. Kita gak boleh egois dan kekanak –kanakan, kita harus fair terhadap semua perasaan yang terlibat disini, jadi janganlah membuat keputusan yang gegabah”.

Danang………benar – benar kagum dengan wawasan ratih, benar – benar dewasa dan matang.
Danang tersenyum sendiri…., memang dari dulu selalu satu langkah lebih kalah dengan Ratih dalam mengambil keputusan. Danang yang grusa grusu selalu bisa dinetraalisir oleh Ratih yang tenang.

Tiba – tiba Danang teringat kenangan ketika masih sama – sama menempuh kuliah di UPI dulu. Waktu itu Danang mendapat nilai E untuk mata kuliah SBM (Strategi Belajar Mengajar) dikarenakan dia tidak mengumpulkan tugas, karena harus pulang ke Malang .

Danang ditelepon Ratih untuk segera menyelasiakan tugasnya untuk perbaikan nilai, Danang tidak mau karena buku sumbernya terlalu sulit untuk dicari sehingga dia memutuskan untuk kontrak mata kuliah SBM semester depan, padahal semester depan itu semua mata kuliah sudah selesai tinggal skripsi, kalau harus mengulang SBM lalu kapan skripsinya, emang mau jadi mahasiswa abadi. Gerutu Ratih mangkel.

Dan tanpa sepengetahuan Danang, Ratih mengorbankan liburan semesternya untuk pulang ke surabaya, dia membantu Danang membuat tugas SBM untuk perbaikan nilai, lagipula Ratih yang sudah jadi asisten dosen itu juga harus membantu Pak Hery mengisi materi untuk mahasiswa PGSMP di Cibiru, jadi kalau memang gak pulang ke surabaya bukan karena berkorban untuk Danang semata melainkan juga karena ada pekerjaan tambahan.

Dan betapa kagetnya Danang ketika pulang dari malang , nilai SBM nya sudah berubah jadi C, berarti semester depan dia bisa benar – benar menyelesaikan skripsi. Dan dia tahu siapa yang telah membantunya, gadis ayu yang selama ini dia cintai diam –diam.

“Mas sudah jam 1 nih, aku balik yah, aku belum sholat juga, makasih atas petemuan ini dan selamat jalan, hati – hati “. Suara ratih membuyarkan lamuanan Danang.
“tapi dik, tunggu aku yah…, sungguh jaga perasaan kita, aku akan pulang, tapi aku akan datang lagi untuk kamu, jangan lupa aku sayang kamu tanpa batas waktu”.
Ratih dan Danang beriringan kembali masuk hotel, tanpa ada yang berbicara. Danang mengambil koper yang dititipkan ke Receptionis, bersalaman dengan Ratih dan pergi untuk pulang, kembali ke Malang.

Sedangkan Ratih dengan perasaan berat kembali ke kamar untuk sholat dhuhur.
Sepulang dari workshop di SUN Hotel Sidoarjo, sikap Ratih agak berubah, itu yang dirasakan Aris.

Ratih tidak sesemangat dulu ketika dia berkunjung ke rumah. Bahkan kalau boleh dibilang Aris merasa Ratih seakan menjaga jarak, ini membuat Aris Sedikit bingung. Sebetulnya Aris ingin bertanya tapi takut kalau menyinggung perasaan bu guru satu ini.

Entah mengapa Aris yang mulai merasa sayang pada gadis ini, rasanya ingin selalu melihatnya gembira, sehingga kadang Aris terlalu hati – hati untuk bersikap dan berucap.

Sungguh dia tidak mau kalau Ratih jadi tersinggung atau bahkan tidak menyukainya ketika dia salah sikap atau salah ucap. Aris sangat menjaga persaan Ratih.

Sedangkan Ratih semakin kebingungan menentukan sikap apalagi dengan SMS dari Danang yang setiap 1 jam menyapanya, belum lagi kalau Danag calling .Selalu walau hanya suara danang saja yang hadir tapi entah kenapa sanggup membuat jantung Ratih berdebar – debar, atau membuat panas dingin gak karuan.

Dilain pihak dia juga tidak mau menyakiti hati Aris . Baginya Aris terlalu baik untuk disakiti, walaupun berhubungan dengan Aris tidak menghadirkan debar – debar asmara, tapi dekat dengan Aris cukup membuatnya nyaman.
Lain lagi dengan Danang, semakin hari semakin giat bekerja, seakan dia hanya ingin mengisi hari – harinya dengan bekerja dan menelepon Ratih, sampai dia tak sadar kalau sikapnya itu membuat Ety marah, karena merasa diabaikan.

Danang seakan masa bodoh dengan sikap uring – uringan Ety, dan Danang tidak berusaha untuk menghiburnya apalagi memberi pengertian.
Danang benar – benar telah kembali menemukan dirinya, dia merasa lima tahun lebih muda dari usianya, dia seakan kembali seperti masih kuliah dulu. Ceria, penuh humor dan agak usil.

Gambaran danang yang pendiam dan muram sirna sudah. teman – teman Danang senang melihat Danang kembali jadi periang dan tidak tertekan.
Semangat Danang sudah kembali, dia lewati hari – hari dengan gembira, dan setiap hari selalu rajin menghafal hari, persis seperti anak TK yang lagi latihan menyanyi lagu nama – nama hari : senin selasa, rabu kamis, jumat sabtu minggu itu nama – nama hari.

Beda sekali dengan lagu Danang, walau judulnya sama – sama nama hari : senin selasa, rabu kamis, jumat sabtu minggu, itu hari yang kutunggu. Ha……ha…..Danang memang paling bisa.

Yah sejak pertemuan Danang dengan ratih di Sun Hotel sidoarjo kemarin, agenda baru Danang adalah sabtu malam minggu dapat dipastikan meluncur ke Surabaya..
Ratih sendiri diusianya yang hampir menyentuh angka dua puluh lima merasakan semangat ABG, tiba – tiba dia merasakan rindu yang luar biasa pada Danang.

Dia menunggu dengan harap – harap cemas telepon dari danang. Terkadang bahkan pikiran nakalnya muncul, dia membayangkan genggaman hangat tangan danang, membayangkan senyuman maut danang, membayangkan tatapan mesra danang, ah………………..jatuh cinta memang bisa mengubah semuanya jadi luar biasa.
Hati yang sendu jadi gembira
Warna biru jadi merah
Langit mendung jadi cerah
Bunga yang layu merekah indah
o…………………………cinta

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s