DON’T CRY

3.“Don’t Cry
Bukan……., bukan hanya Ratih saja dalam beberapa hari, beberapa minggu dam hampir sampai satu bulan ini yang super galau. Kegalauan itu juga akhir – akhir ini dimiliki oleh Danang dan Aris.
Entah mengapa Aris cowok gagah yang super tenang itu bisa menjadi gelisah, Aris merasa tidak nyaman dengan perubahan yang dilihatnya dalam diri Ratih. Ibu guru TK yang hampir enam bulan ini sudah mampu mencuri hati dan rasanya. Tiba – tiba saja seperti yang menjaga jarak , walau masih tetap ramah dan Aris bukan ABG yang masih banyak perlu belajar tentang sikap atau body language seseorang. Aris dua tahun lagi hampir kepala tiga usianya, jadi perubahan sekecil apapun yang ditampilkan Ratih, dapat dirasakan Aris dengan sempurna.
Yah tepatnya setelah pulang dari workshop di sidoarjo kalau Aris boleh jujur perubahan itu terjadi. Ratih yang hangat tiba – tiba jadi pendiam, Ratih yang mempunyai gaya tertawa renyah menjadi agak tertahan .Aris masih mencari penyebabnya, apakah karena Aris tidak bisa menjemput Ratih , atau mungkin Ratih masih capek, tapi kalau capek sampai satu bulan, benar -benar gak masuk akal. Pikirnya tak mengerti.
Begitupun dengan Ratih bukan dia tidak tahu kalau Aris kelihatan bingung dengan perubahan sikapnya, tetapi ratih sendiri tidak tahu kenapa dia merasa berdosa apabila terlalu memberi harapan pada Aris, karena yang Ratih tahu Aris begitu mencintainya. Tetapi sejak pertemuannya dengan Danang beberpa waktu yang lalu, memang Ratih mulai dilanda kebimbangan,
Ratih merasa sayang apabila harus mengabaikan perasaam cinta yang menderanya pada Danang. Ratih begitu menikmati debar – debar perasaan hatinya bila mendengar suara Danang, walau hanya lewat telepon. Ratih merasa badannya panas dingin bila malam minggu datang, karena sudah tiga minggu ini Danang dengan rutin hadir dirumahnya, bahkan pernah datangnya barengan dengan Aris. Untung mereka orang – orang dewasa yang sudah mampu memanage hati dan perasaan, kalau tidak wah…..bisa – bisa…………perang nih.
Kepada Aris sendiri Ratih sebenarnya pernah merasa suka, sebatas suka sih levelnya, sebelum kedatangan Danang, yang ternyata lebih mampu mengobrak abrik persaannya. Ratih begitu kagum dengan performance Aris yang dewasa, dia juga kagum dengan perasaan cinta Aris yang santun, lembut, begitu menghargai , tidak menggebu – gebu namun terasa hangat. Ini yang membuat Ratih begitu bingung untuk menentukan sikap, sedangkan ibunya, ayah dan saudara – saudaranya bisa ditebak kearah mana berpihaknya, pasti dan tidak diragukan lagi 100 persen dengan serempak seperti suara koor “ Aris……………………s!’, begitu bunyinya. Nah loh.
Lain lagi dengan Danang , pemuda jangkung yang pernah dekat dengan Ratih ketika sama – sama kuliah di UPI Bandung itu bahkan lebih galau dari Ratih dan Aris.
Danang kenyataannya sudah menjalin cinta dengan Ety bahkan hampir bertunangan. Sebelum ketemu dengan pujaan hatinya kemabali, dengan kepasrahan tingkat tinggi dia menerima kehadiran Etty, anak tunggal pengusaha ayam potong dari jogja.
Diujung ketidak pastian akan kehadiran Ratih, tiba – tiba Ety datang. Masih segar diingatan Danang Saat itu tahun ajaran baru tiba – tiba ada pindahan guru baru dari ngayogjokarto. Seorang gadis manis Ety namanya, gadis yang sama sekali tidak mencerminkan gadis jogja yang kalem, malu – malu dan keibuhan. Ety justru sebaliknya dia gadis yang agresif, agak egois dan manja. Mungkin itu dikarenakan dia anak tunggal sehingga tidak pernah belajar berbagi. Atau sekedar menghargai dirinya sendiri sebagai gadis yang berprofesi sebagai guru.
Danang ingat betul bagaimana Ety ketika pertama gabung di sekolahnya. Dia dengan berani langsung minta nomer telepon Danang, terus minta antar pulang ya bilangnya sih “nunut” karena kebetulan gak bawa motor. Besoknya dia bawa makanan untuk teman satu sekolah, besoknya dia traktir teman satu sekolah, besoknya lagi dia sudah berani datang kerumah Danang dengan alasan kebetulan lewat lalu mampir.
Dan entah mengapa setelah berjalan hampir satu tahun sejak kepindahan Ety, Danang gak bisa menolak ketika Ety mengatakan suka padanya. Gila kan, ini anak cewek ngayogjokarto lo yang nermbak duluan. Benar – benar cewek nekat, begitu komentar teman – teman Danang waktu itu. Dan hubungan yang tidak begitu harmonis itupun berjalan begitu saja.
Sebetulnya Ety jauh dari kriteria Danang yang notabene semua ada pada diri Ratih. Smart, tanggung jawab, dapat menjaga harga diri maksud Danang gak murahan, tapi bisa menempatkan diri. Keibuhan dan satu yang gak bias ditawar penyayang dan pemaaf.
Memang Danang selama bersama Ratih paling tidak bisa memancing emosi Ratih, gadis ayu ini paling bisa memanage emosi sehingga apabila marah tidak pernah meledak – ledak seperti bom molotov, dia selalu dapat menyelesaikan masalah dengan tenang, hebat kan.
Sedangkan Ety kalau marah bisa dipastikan setiap barang yang ada didekatnya pasti akan jadi korban, DIBANTING. Nah kebayang gak kalau nanti jadi istri, bisa – bisa barang satu rumah habis dibanting. Apalagi ditambah lagi sifat pencemburunya, waduh……bisa – bisa gak panjang umur nanti aku. Pikir Danang membandingkan pribadi Ety dan Ratih.
Dan sejak pertemuannya dengan Ratih yang tidak disengaja di Sun Hotel Sidoarjo dalam rangka ikut sosialisai BOP, Danang mulai merasa engap dengan Ety yang begitu posesif padanya, dan Danang benar – benar merasa seperti dipenjara, tidak bisa berkutik, benar – benar dalam pengawasan ketat Ety, dan entah darimana asalnya keberanian itu, tiba – tiba Danang punya keberanian untuk melakukan pemberontakan pada sikap posesif Ety, bahkan dengan terang – terangan pernah Danang telepon Ratih pujaan hatinya dengan suara merdu merayu yang lembut didepan Ety, dan hasilnya sengguh luar biasa, Ety meradang , dirampasnya hp Danang dengan paksa, untung Danang lebih sigap sehingga nasib hp dapat diselamatkan, tidak dibanting Ety.
Tetapi Danang juga tidak bisa bersikap frontal dengan memutuskan Ety begitu saja, karena banyak orang – orang dekat Danang yang sudah terlibat dalam hubungan yang rumit itu. Ada Orang tuanya dan saudara – saudaranya , ada orang tua Ety, ada teman – teman guru juga. Wow…….pokoknya komplit seperti jamu pegel linu. Tapi bukan itu yang dibutuhkan Danang, dia lebih butuh jamu pegel ati, supaya hatinya bisa sedikit rileks.
Siang itu Ratih dijemput Aris pulang sekolah, karena Ratih janjian dengan Aris akan langsung ke rumah sakit Darmo untuk menengok Raditya yang sudah empat hari dirawat inap karena kena demam berdarah.
Dalam perjalanan dua sejoli itu banyak diam, entah mengapa Ratih tiba- tiba merasa trenyuh dengan Aris. Dia begitu baik, sabar, dan penyayang , lalu kurang apa dari Aris sampai Ratih harus mengabaikannya. Dengan perasaan serbah salah, Ratih membuka keheningan yang menggelisahkan perasaan mereka berdua.
“mas……….keadaan Adit sudah mendingan kan?.
“Alhamdulillah,berkat doa orang – orang yang menyayanginya. tapi…… sebelumnya aku minta maaf yah, soalnya kemarin adit nanyain bu gurunya terus. jadi deh dengan sedikit memaksa ini aku ngajak kamu”.
“gak apa – apa , aku memang pengin nengok kok mas, selain memang tugasku sebagai guru, juga karena aku sudah kenal baik dengan mama papa adit”, jawab Ratih segera untuk meyakinkan Aris. Dan percakapan kecil itupun sanggup mencairkan suasana yang tadi begitu kaku.
“Jadi hanya karena mama papa Adit nih, kok aku gak ikut andil yah”, goda Aris.
Dengan spontan tangan mungil Ratih memukul lengan Aris yang sedang memegang stir.
Sambil tersenyum Ratih menjawab” Ea deh juga karena Omnya Adit”.
Aris tersenyum bahagia, apalagi melihat Ratih yang sudah seperti dulu. Semoga tidak berubah yah Tuhan. Doa pendek Aris dalam hati.
Disepanjang jalan ciliiwung menuju ke rumah sakit Darmo, didalam mobil xenia hitam itu terasa sejuk, sejuk sekali , karena penumpangnya sedang berbahagia. , sampai rumah sakit mereka beriringan masuk, tak lupa tangan kekar Aris menggandeng tangan mungil Ratih.
Sambil saling melempar senyum ,mereka masuk kamar inap Adit. Didalam kamar lengkap pengunjungnya , ada mama papa Adit, yang notabene kakak Aris, ada juga Alfin kakaknya Aditya. Siang itu mereka bahagia sekali, apalagi Aris , super ……bahagia. sakit yang membawa berkah, guman Aris.
Hari – hari serlanjutnya hubungan Aris dan Ratih berjalan harmonis. Apalagi Danang sudah tidak mengganggu Ratih dengan sms atau telepon. Sebetulnya Ratih cukup gelisah juga, kenapa tiba – tiba Danang tidak telepon, ada apa, atau apa yang terjadi dengan Danang. Tetapi kesabaran Aris sanggup mengalihkan perhatian Ratih untuk tidak terlalu memikirkan Danang.
Pagi itu pas hari minggu, Ratih akan dijemput Aris mau dikenalkan dengan keluarga besarnya, sekalian syukuran atas kesembuhan Aditya. Yah kebetulan orang tua Aris sengaja datang dari Blitar selain untuk menengok cucunya yang baru sembuh dari sakit juga karena ingin mengenal lebih dekat Ratih atas permintaan Aris. Memang untuk hubungan Ratih dan Aris , walaupun Ratih belum mengiyahkan 100 persen, tetapi dengan bekal restu dari ayah dan ibu Ratih cukuplah bagi Aris untuk mempromosikan Ratih pada mama papanya.
Sedangkan mama papa Aris sendiri orang yang demokratis, jadi tidaklah terlalu sulit bagi Aris untuk mohon restu, pastilah asal Aris suka dan calonnya dari keluarga baik – baik dapat dipastikan , mereka pasti langsung mengangguk, apalagi ditambah bumbu penyedap dari kakaknya: mas Agung, papa Adit, klop sudah .
Ratih yang memang santun dan ayu itu langsung dapat nilai plus dari orang tua Aris, apalagi papa Aris begitu senangnya pada Ratih sampai – sampai Ratih diajak cerita terus, yang lain tidak dapat bagian, maklum dikeluarga Aris tidak ada yang perempuan, semua laki – laki, yang sulung mas Agung yang nomer dua Aris dan yang bungsu jadi polisi juga Andri sekarang sedang dinas di Bali. Siang itu di rumah mas Agung suasananya begitu gembira tak henti – henti suara tawa meledak terdengar apabila ada yang lucu, dan itu sangat membuat Ratih merasa nyaman.
Dan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami Danang di Malang. Danang sedang menghadap kedua orang tuanya, umtuk minta pendapat atas rencananya yang ingin pisah dengan Ety.
Danang sedang memperjuangkan nasib cintanya pada kedua orang tuanya. Dengan hati – hati dia mendekati ibunya yang sedang menemani ayahnya di teras depan.
Dengan perlahan dia duduk dekat ibunya sambil tak lupa tangannya memijat pundak ibunya, kebiasaan Danang sejak kecil, kalau menginginkan sesuatu pasti dia akan memijat ibunya, kalau ibunya bertanya baru dia akan merengek minta dipenuhi permintaannya.
“Ada angin apa kok tiba – tiba mijat ibu to ..le (panggilan kesayangan ibu pada Danang)”.
“Ehm………., Buk…dulu waktu masih muda , pacaran atau dijodohkanyah kok bisa menikah sama bapak”.
Ibu kaget dengan pertanyaan tiba – tiba dari Danang, pertanyaan yang tidak biasa. Bapaknya sendiri sempat mengalihkan pandangannya dari deretan kalimat di Koran yang dibacanya, untuk meyakinkan pendengarannya atas pertanyaan Danang yang dirasakan sedikit aneh.
‘yah….pacaran, ibu yo gak mau dijodohkan, lagian mbah kan bukan orang yang mau maksa anak – anaknya, yah paling – paling cuma bilang, sing nyonggo awakmu dewe”.
“terus……kalau ibu sama bapak, kira – kira sama gak dengan mbah yah, bijaksana gitu maksudnya”. Sela Aris setengah menyindir
Bapak yang dari tadi Cuma jadi pendengar , tiba – tiba melihat heran Danang. “ngapain kamu kok tanya – tanya itu, memang bapak dan ibu sudah jodoin kamu:, sergapnya
“Bukan begitu pak…., ini aku mau pendapat bapak dan ibu lo , sepertinya hubunganku dengan Ety gak bisa diteruskan deh. ya aku merasa gak cocok saja”.
Bapak dan ibu danang diam mematung, mendengar penjelasan anaknya.
“eh le… opo kamu lagi mumet to, ngomong sama orang tua kok seperti sama teman saja, dolanan yo sing jelas ngono loh”. Suara Bapak keras.
“aku serius ngomong sebenarnya .gak dolanan”.
“Danang….., kamu itu guru loh, jangan bermain – main dengan perasaan, apalagi yang menyangkut perasaan orang banyak, kamu dituntut untuk dapat berfikir dewasa, ojo saenak e dewe, isuk dele sore tempe, plin plan. Itu namanya ”. Suara bapak menahan marah. Danang diam saja, dia masih memijat ibunya. Ibu diam menepuk – nepuk kaki Danang dengan sayang.
“masalahnya apa to le…, kamu bertengkar dengan Ety, bertengkar itu hal yang biasa, sebentar lagi juga baikan, Ety kan jauh dari orang tuanya, yah kamu yang sabar sedikit menghadapi dia”. Suara ibu lembut menenangkan.
“Bukan bu…., aku sebenarnya enggak cinta sama dia, aku punya calon sendiri, dia dulu adik kelasku waktu di UPI, yang dulu pernah kuceritakan itu loh. Ibu masih ingat kan ”.
“yang pergi begitu saja….., yang membuat kamu seperti orang bodoh, menunggu tanpa kepastian, itu yang kamu maksud”. Suara bapak masih keras.
“tapi kan bukan salah Ratih,yah,,,,,, ,memang saat itu kondisinya kami belum pacaran, waktu itu situasinya masih rumit, tapi memang dia yang selama ini aku cari, tolong mengerti aku bu..pak……”. Danang merengek, persis anak TK yang pengin dibelikan mainan.
“ Orang tua disuruh mengerti kamu terus . lalu kapan kamu akan mulai mengerti ayah ibumu, kapan !”. makin keras suara bapak.
“tapi….pak aku tidak mencintai Ety, apalagi sikap Ety yang gak jelas, selalu ngatur, selalu minta diperhatiin, sedikit – sedikit cemburu marah, uring –uringan suka banting –banting barang, apa itu yang bapak ingin jadikan menantu”. Danang mulai terpancing .
Ibu dan bapak diam , memang benar sifat Ety sungguh mereka tidak suka. Kadang – kadang mereka juga kasihan pada Danang, yang harus selalu mengalah untuk menghadapi sifat ety yang sama sekali tidak mencerminkan sosok wanita yang baik. Tetapi apa kata orang tua Ety kalau sampai Danang dan Ety putus, padahal seminggu lagi akan digelar acara tunangan mereka, ini juga atas permintaan Ety, biarpun waktu itu Danang belum mengiyahkan, tetapi karena Danang diam saja itu yang membuat orang tua Ety dan Danang merasa yakin dan akhirnya membuat kesimpulan yang sama SETUJU.
Danang tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan orang tuanya. Dia pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang diam terpaku. Danang langsung masuk kamar, dikuncinya dan langsung merebahkan diri, menerawang menatap plafon kamarnya, seakan mempunyai kesaktian yang tinggi dia bisa menembus atap kamarnya, menerawang jauh ke memori indahnya.
Pagi itu Danang mau mandi, ada kuliah pagi. Sebelum masuk kamar mandi yang letaknya memang berseberangan dengan dapur, dia melihat Ratih yang sedang masak. Dia mendekati pelan pelan….., dekat sekali, sampai – sampai bau harum rambut Ratih yang baru keramas tercium olehnya. Dengan mengatur posisi yang tepat, dia memanggil Ratih pelan. “dik….masak apa ni ?,
Dengan spontan Ratih menoleh kebelakang, dan pas …………sangat pas sekali pipinya nempel di hidung Danang. Ratih menjerit tertahan, dia jengkel dengan keusilan Danang. Dengan spontan tangan Ratih serta merta memukuli Danang. dan Danang kesenangan luar biasa.
“mas Danang jahat……”. kata Ratih gak terima
“sorry………, maaf.. yah.enggak sengaja kok, suer wer……wer”. Kata Danang sambil menangkap tangan mungil Ratih.
Ratih diam saja. Diusap – usapnya pipinya, seakan ingin menghapus jejak hidung Danang. Sang pemilik hidung hanya tersenyum nakal. Ah kenangan itu begitu manis, ingin selalu Danang mengulang memori itu. Walau hanya sekedar gurauan tetapi memori itu sangat manis, sangat sayang kalau dilupakan.
Tiba – tiba Danang meraih hpnya, dicarinya nama sweety, nama samaran untuk nama Ratih
Ratih sedang melipat mukenah, ketika hpnya berbunyi
“asalamualaikum………”. Suara Ratih dari seberang, merdu terdengarnya ditelinga Danang
“waalaikum salam dik………………., sedang apa nih”. Suara Danang sedikit bergetar, menahan rindu dan entah mengapa dia sangat sedih sekali mendengar suara itu, ada yang mengiris direlung hatinya, pilu……………………
Ratih yang mendengar suara Danang, dengan tiba – tiba hatinya dag dig dug der, dia bingung, dia senang tapi juga marah, kenapa sepuluh hari tidak meneleponnya.
“dik………………masih bernafas kan”, suara Danang menggoda.
“apa kabar mas…………..kok tiba – tiba telepon, ada yang bisa dibantu”, suara Ratih merajuk, dan Danang tahu betul itu,
“Ada…………bisa bantu obati kangenku gak, aku lagi sakit rindu nih, sungguh gak enak banget, kemarin ke rumah sakit. dokternya angkat tangan loh, katanya sih gak ada obatnya di rumah sakit bahkan diapotik sekalipun”. suara Danang menghibur pujaan hatinya dengan sedikit rayuan. Ratih hanya mampu tersenyum sendirian di kamar.
“ada apa mas………………..”, suara Ratih pelan.
“Besok aku mau ke rumahmu, aku harap kamu gak ada acara yah, penting sekali”. Suara Danang penuh harap.
“wah gak bisa mas ,lagipula ini kan hari senin, hari efektif memang mas Danang libur?’.
“Enggak juga, tapi ini lebih penting dari apapun, please, ntar tak jemput ke schoolmu yah”. Danang setengah memaksa.
“jangan mas, aku ada acara, aku gak bisa, lain waktu aja yah.”. Ratih menolak halus, karena memang besok sore dia ada acara menemani Aris datang ke acara pernikahan teman satu kantornya. Dan dia gak bisa dengan begitu saja lari dan membatalkan.
“Tapi dik.ini penting, kamu gak kasihan sama aku, aku bisa mati lo , kalo kamu sudah gak peduli lagi sama aku, please tolong aku dik”. Suara Danang memohon dengan setengah memaksa. Ratih bingung, tapi dia harus memberi keputusan.
“Begini saja mas, semua masalah kan bisa diselesaikan, dan tidak juga harus besok. Ok hari selasa aja kamu kutunggu, gak usah ke school, langsung ke rumah saja yah”.
“tapi aku ingin cuma kita berdua, kita selesaikan masalah kita berdua saja”.
“Masalah kita, maksudnya ?”.
“Yah sudahlah gak usah dibahas disini, besok selasa kamu kujemput di school yah. Miss you. Mua…h”. segera Danang menutup pembicaraannya. Ratih termangu, tak paham
Hari selasa saat Aris mengantarnya, Ratih dengan hati – hati mengatakan gak usah dijemput karena ada acara mendadak dengan teman – temannya.
“Mas nanti aku gak usah dijemput yah”. Aris menoleh menatap Ratih lekat – lekat seakan ingin menanyakan alasannya
“Aku nanti pulang agak siang, ada acara dengan teman –teman, gak enak kan kalau gak ikut nimbrung, kali ini aja , boleh kan”. Ratih merengek manja.
Aris tersenyum, ingin dia membelai tangan Ratih yang duduk disampingnya, tapi dibelakang ada cowok kecil yang sedang mengawasi, Raditya ponakannya yang juga murid Ratih.
Siang itu Ratih sengaja menukar baju seragam sekolah dengan baju bebas, semua temannya menggoda nakal.
“He…..mau kemana non, kok pakai ganti baju segala, mau ikut pertemuan Bhayangkari yah, waduh yang calon bu polisi, sui.i sui.t”. goda bu Puji temannya yang ngajar di klas B.
“Bu Ratih……………jangan lupa bilang pak POL yah, sekali – kali bawa oleh oleh to buat kita – kita “, suara bu Nanik menimpali dari dalam ruang guru.
Ratih hanya mampu tersenyum kecil. Setelah berpamitan dengan kepala TK nya, Ratih langsung berlari keluar ketika melihat motor Ninja Danang.
“ pulang dulu yah friend, asalamualaikum…………..”, pamit Ratih sambil berlari kecil. Diterimanya helm dari tangan Danang lalu melesatlah motor ninja Danang dengan kecepatan sedamg. Setelah membelah kota surabaya sampailah mereka di taman ria kenjeran.
Danang memarkir motornya, lalu dengan beriringan mereka menuju tempat duduk yang agak teduh, agak menjorok, tapi bersih. Siang itu kenjerena sepi, maklum hari efektif kerja dan sekolah, hanya terlihat beberapa gerombol muda mudi yang asyik cerita. Gak jelas.
“Dik………..kamu sayang gak sama aku”, Danang membuka pembicaraan. Dan itu membuat Ratih geli. Sungguh gaya Danang seperti abg, merayu gak bermutu.
“kamu itu ngomong apa to mas, gak jelas tahu .buat aku bingung aja”.
“Sungguh ni, aku tanya perasaanmu padaku, aku anggap ini penting karena jawabanmu akan menentukan sikap dan keputusan yang akan kuambil nantinya’.
“aku sayang kamu mas, karena kamu sahabatku”.
“bukan jawaban itu yang kumau, tapi perasaanmu yang sesungguhnya dik, karena terus terang seperti yang kukatakan 5 tahun yang lalu, 2 bulan yang lalu, dan hari inipun, perasaanku masih sama, aku sangat sayang sama kamu. Teramat sangat bahkan.”.
Ratih diam sejenak, dalam hatinya berkecamuk tidak karuan. Inginnya dia menjerit keras – keras bahwa sebenarnya dia sangat sayang pada Danang, bahkan sampai sekarangpun belum tergantikan. Ratih sangat ingin berteriak keras – keras kata – kata I LOVE YOU FULL, tapi dia tidak mampu.
Danang memegang jemari Ratih yang sedikit basah karena berkeringat. Dengan penuh kasih sayang dilapnya tangan Ratih. Danang tahu betul bagaimana perasaan Ratih. yang tentunya sama dengan dirinya, tapi Danang butuh pengakuan langsung dari bibir mungil itu. Ratih yang tak kuat menahan gejolak hatinya hanya mampu menunduk, tak tahu harus berbuat apa.
“Dik tolong jawab pertanyaanku, kamu cinta gak sama aku”. Tanya Danang sambil tangannya tetap membelai tangan Ratih.
Ratih mengangguk pelan, sangat pelan sampai – sampai tidak kelihatan anggukan Ratih, tapi Danang dapat melihat itu. Dengan gesit dan kegirangan diraihnya pundak Ratih , dirangkulnya Ratih kuat – kuat seakan dian gak rela untuk melepaskan. Akhirnya setelah sekian tahun dia menunggu kesempatan ini, kesampaian juga, pengakuan perasaan cinta dari mulut Ratih.yah Tuhan terimakasih “, doa Danang lirih.
Ratih melepaskan pelukan Danang. Dia merasa risih, takut kalau ada yang melihat, memang profesi Ratih sebagai seorang guru dituntut untuk bersikap santun dalam situasi apapun.
“Dik maukah kamu menikah dengan aku, aku secepatnya akan mengajak orang tuaku ke rumahmu, aku ingin kita berdua selalu bersama “. Begitu antusias Danang menyikapi keputusan Ratih yang mau menerima cintanya.
“Gak bisa seperti itu mas, aku memang mencintai kamu, tapi aku tidak bisa kalau harus menerimamu sebagai pendampingku”.
Danang terbelalak, sama sekali tidak percaya dengan apa yang disampaikan Ratih barusan. Tiba – tiba seperti ada batu besar yang membebani hatinya.
“Kenapa dik ?, kamu jangan guyon, kita bicara serius, tentang masa depan kita”.
Ratih diam, terbayang wajah Aris yang penuh wibawa, wajah mama papa Aris, wajah mas Agung, wajah bapak dan ibuknya, wajah saudara – saudaranya , wajah semua orang yang mendukung hubungannya dengan Aris. Ratih mengeluh sedih.
“Jawab dik, kamu jangan diam saja, ingat ini masa depan kita loh”.
“Maaf mas, maaaaf sekali, kamu terlambat mas”.
“Memangnya kamu sudah tunangan atau menikah kok bilang terlambat”.
“belum tunangan dan belum menikah, tapi orang tua ku dan orang tua mas Aris sudah saling mengunjungi, bahkan bulan juni nanti sudah diputuskan , insya allah kami akan menikah”.
Ratih berkata lirih, tertahan bahkan saking lirihnya hampir tak kedengaran. Danang mendengar kabar itu, bagaikan dilempar keawang – awang lalu jatuh di batu cadas yang menyakitkan.
Danang meringis kesakitan, bukan sakit badan, tapi lebih parah dari itu sakit hati. benar – benar sakit hati. Dengan tangan mengepal ditinjunya tempat duduk yang kosong disebelahnya. Ratih kaget, cepat diraihnya tangan Danang yang lebam itu. Ditiupnya dan dielus – elusnya, Ratih ingin menenangkan Danang yang diliputi emosi.
“sabar…………….mas, sabar yah”.
“tegah kamu dik, setelah sekian tahun aku menunggumu, hanya kepahitan yang kamu berikan padaku, padahal kamu tahu , aku sangat sayang kamu, kamu juga sayang aku kan dik”.
“Yah mas…aku sayang kamu, tapi jalannya sudah seperti ini, dan kita harus menerima dengan ikhlas, siapa tahu dikehidupan cinta kita yang lain,bisa kita temukan kebahagiaan”.
“kebahagiaanku adalah kamu dik, bukan yang lain”.
Ratih terdiam. Dia memberi kesempatan pada Danang untuk bisa mengendalikan emosinya, untuk menata hatinya, untuk menenangkan jiwanya. Mereka terdiam untuk beberapa lama, sambil saling menggenggam, saling menguatkan, saling mendukung.
“Sudah sore mas, kita pulang dulu yah, nanti kamu kemalaman loh sampai Malang”.
Danang tidak menjawab, dia dengan perlahan berdiri ..berjalan menuju tempat parkir, Ratih menjejeri dengan agak tergesa. Mereka berboncengan tanpa bersuara.
.Sepi masing – masing asyik dengan pikirannya sendiri. Pukul lima sore mereka sampai rumah Ratih. Danang tidak mampir langsung pulang menuju malang. Ratih belum sampai memegang handle pintu kamar dari samping terdengar suara bapaknya menegur.
“darimana..ndok, sore begini kok baru datang”.
“pergi sama teman pak”. Jawab Ratih singkat. Lalu masuk kamar, dan tidak keluar lagi. Direbahkannya badannya di kasur, ditatapnya langit – langit kamarnya, ada yang sakit di sudut hatinya, tanpa terasa air mata yang sedari tadi dapat ditahannya sekarang perlahan menetes membasahi pipinya.
Ratih terisak lirih, hatinya sakit, rasanya sakit sekali dan dia tak kuasa lagi untuk tidak menagis. Oh Tuhan kenapa kau pertemukan lagi aku dengan mas Danang kalau akhirnya harus seperti ini. Kenapa ………………………???
Terlalu sakit, terlalu perih. Kasihan mas Danang. Tiba – tiba ada perasaan kuatir yang luar biasa menyergap hatinya, dia kuatir mas Danangnya akan lupa diri ,akan mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi dengan suasana hati yang putus asa dan tersiksa.
Segera dia berdiri, disekanya airmatanya, dia keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Ratih sholat dan berdoa untuk keselamatan Danang. Sungguh Ratih tak ingin terjadi apa – apa pada Danang. Cukup sudah perasaan sakit yang dialami mereka berdua, dan Ratih percaya, bagaimana sedih dan terpukulnya Danang.
Dan diperjalanan pulang itu, dengan diderah perasaan marah , kecewa, sakit hati dan merasa terhempas, Danang benar –benar merasa tak berarti lagi, dengan kecerpatan tinggi dia memacu motornya membelah jalan raya, tak peduli berapa kali dia mendapat umpatan yang tidak sopan dari sesama pengguna jalan raya. Seakan dia ingin melampiaskan amarahnya pada perjalanan pulangnya.
Sampai rumah tanpa mengucap salam, dia langsung masuk kamar. Menutup pintu dengan suara keras JEDOR, dikunci dan dia menangis sendirian di kamar. Orang rumah tidak ada yang berani mendekat apalagi mencoba mengetuk pintu kamar Danang. Dengan bijak bapak Danang yang terknal keras itu memberi isyarat pada adik Danang untuk menjauh.
Sedangkan Danang di kamar menangis. nelangsa, sungguh dia selama ini belum pernah merasakan terpuruk seperti ini. Ditolak gadis pujaan hati, oo…………ini benar – benar sakit, sakit sekali. Diantara keletihan hatinya akhirnya Danang tertidur pulas, walau ditengah – tengah kepulasan tidurnya, Danang beberapa kali mengigau, memanggil – manggil nama Ratih.
Pagi hari dengan perasaan yang masih sedih, Danang terbangun mendengar lengkingan suara Ety yang membangunkan tidurnya, dengan sekali – kali mengetuk pintu kamarnya.
“Danang………..bangun,,,,,,sudah siang”.
Entah mengapa walau terasa sakit. Danang masih bisa membandingkan perilaku dan sikap Ratih dan Ety. Ratih …bagaimanapun situasinya, mau marah, senang atau sekedar merajuk tidak pernah hanya memanggil namanya DANANG, selalu ada penghormatan dinamanya mas Danang. Hm…….tiba – tiba ada perasaan rindu yang tak tertahankan dalam diri Danang. Dan disaat bersamaan , suara hpnya memanggil untuk minta diangkat. Terbaca dimonitor Sweety memanggil , dengan sigap dipijatnya tombol hijau JAWAB
“Asalamualaikum mas…..”. suara halus Ratih dari seberang
“Waalaikun salam, bagaimana kabarmu dik pagi ini”.
“Alhamdulillah baik, semoga mas Danang juga yah, tau gak mas, semalam aku gak bias tidur, aku kuatir sama kamu, aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut kamu ngebut”.
“Apa kamu juga takut aku mati dik”. Suara Danang getas.
“Hush…kamu bilang apa mas, aku sungguhan, kamu memang gak pernah menghargai perasaanku mas “.
“Aku selalu menghargai kamu dik, bahkan aku sangat takut bila aku menyakitimu, aku selalu bersaha menjaga perasaan kamu, tapi……………..”.suara Danang terputus, ada yang tercekat ditenggorokannya. Ratih paham betul bahwa Danang super sedih.
“Mas maafkan aku ya, yang jelas dan penting untuk kamu ketahui, sungguh aku sangat sayang kamu, kamu tau kan. Aku teramat sayang mas, tapi aku juga gak boleh egois, aku punya keluarga yang harus kujaga perasaannya. Biarlah mas semua berjalan seperti semula, aku dengan mas Aris dan kamu dengan Ety, “.
“Tapi dik..aku gak bisa”.
“Kamu pasti bisa mas. Sudahlah kita tutup saja cerita kita. Dan mungkin ini telepon yang terakhir dariku, Semoga kamu bahagia mas. Aku sayang kamu”. Dengan cepat Ratih menutup teleponnya, dan ada perasaan lega luar biasa, ketika dia tahu tidak terjadi apa – apa pada Danang. Dengan bergegas dia merapikan diri, siap –siap untuk berangkat.
Danang duduk termangu, masih dibiarkan suara pintu kamarnya diketuk –ketuk dari luar. Tak berapa lama terdengar suara ibunya menenangkan ETY. Suara ketukan pintupun redah. Danang hari ini tidak masuk kerja, Kepalanya terasa pening, perutnya mual, tanda – tanda masuk angin, karena kemarin seharian dia memang belum makan.
Dibiarkannya kondisi tubuhnya yang terasa sakit. Dia merebahkan badannya lagi, mencoba untuk tidur, dipejamkan matanya dengan harapan dia bisa mengusir semua bayangan kejadian kemrin. Tetapi tiba – tiba kelebat memori indah bersama Ratih terpampang lagi dimatanya.
Saat itu pulang kuliah Ratih dan Danang berjalan beriringan, dari tadi Danang menggoda Ratih yang memakai baju hem kuning dipadu dengan rok warna orange bunga flamboyan, sangat kontras, tapi tidak norak, bahkan Ratih terlihat makin ayu, kulitnya yang bersih makin bersinar.
“Dik …..aku mo minta tolong, mau kan “.
“apaan……?”.
“Nih ada teman KKN dari fakultas Bahasa yang pengin dekatin aku”.
“Trus kenapa ?”.
“Ea aku gak mau aja, nah kita kan lewat nih, kebiasaan dia kan makan di kantin , mumpung lewat, kita pura – pura yo “.
“Pura – pura apa mas ?”.
“pura – pura pacaran, jadi ceritanya aku nolak dia secara halus gitu”.
“Teru…………….s, aku harus bantu apa ?’. Ratih menahan rasa gemesnya.
“yah ku mau gandeng tanganmu, bolehkan, janji ntar kalo da lewati FPBS aku lepas deh gandengannya, suer “. Danang memohon sambil mengacungkan dua jarinya bikin janji.
Ratih diam saja, dan dibiarkannya Danang menggandeng tangannya. Sambil senyum – senyum Danang sekali – kali melirik kearah Ratih, Kesenangan seperti anak kecil yang baru dapat permen. Sedang asyiknya berjalan , tiba – tiba dari belakang seseorang menerobos , pegangan tangan Danang terlepas. Rupanya Anton yang sudah mengganggunya.
Ratih kaget dengan spontan dia menjerit kesakitan. “Anton………”.
“ea….. kenapa? Kamu gak suka, tahu gak Ratihku sayang kamu itu dikerjain Danang, itu akal –akalan Danang saja”.
Ratih mendelik dan kelihatan lucu. Dengan perasaan mangkel dikejarnya Danang yang sudah berlari duluan. Dipukulnya pinggang Danang berulang – ulang. Ratih sendiri sempat heran dengan dirinya, kenapa selalu berulang dapat dikerjain cowok ganteng satu ini. Dan entah mengapa Ratih tidak pernah marah atas keisengan Danang. Akhirnya mereka bertigapun berjalan bersama menyususri jalan menuju tempat kost bersama : PANORAMA.
Ah………Danang melenguh sendiri, sepertinya memang dia harus mengubur semua memori manisnya bersama Ratih. Indah tetapi bila dihadapkan dengan kenyataan sangat pahit. Sangat sakit , luar biasa sakitnya .
Ingin dia mengubur dalam – dalam memori itu, ingin dia lari dari kenangan itu, ingin dia lepas dari bayangan Ratih, ingin dia memulai lembaran baru dengan kenangan baru tentunya, bersama Ety mungkin atau gadis – gadis cantik lainnya yang ada disekitarnya, tetapi sungguh Danang tak mampu. Danang tak bisa. Danang merasa sayang untuk mengubur kenangan – kenangan itu, karena kenangan itu sumber energi bagi Danang.
Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Danang belum masuk kerja. Danang sakit, demam tinggi,dan Ety ingin menunjukkan betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki, dengan setia sebelum dan sepulang dari sekolah, dia selalu dampingi Danang, dia merawat Danang dengan sepenuh hati.,dengan harapan Danang mengerti dan memahami keseriusannya.
Sedangkan Danang masih berusaha menghubungi Ratih, dia ingin memberi kabar bahwa sekarang sedang sakit dengan harapan Ratih akan menjenguknya, atau paling tidak mengkhawatirkannya .tetapi nomernya Ratih apabila dihubungi selalu dijawab operator dengan kalimat yang sama “Telepon yang anda tuju sedang diluar jangkauan”..
Ratih memang sudah ganti nomer, Ratih benar – benar ingin menghapus jejak Danang. Ratih bertekad untuk membuka lembaran baru. Dia ingin memulai langkah baru bersama Aris, walau Aris mungkin tidak seganteng Danang tapi cukup simpatik, cool, dan baik. Keluarganyapun sudah mendukung seratus persen.
Dengan mengucap Bismillah , Ratih ingin memulai semuanya dari nol, dia menganggap semua kenangan manis bersama Danang adalah kenangan masa remaja, semua orang pernah mengalaminya, sekarang saat usianya sudah menunjuk keangka dua puluh lima tahun, adalah angka yang harus sudah memikirkan masa depan, dan masa depan itu namanya ARIS.
Pertunangan Danang dan Ety diundur dengan waktu yang belum dapat dipastikan kapan akan diumumkan, dan itu semua dikarenakan kondisi Danang yang masih sakit.
Danang memang sakit, tidak dibuat , atau pura – pura, hanya saja penyebabnya itu yang sulit diketahui, karena dari hasil laboratorium semua negatif, tidak ada masalah. Tetapi badan Danang demam tinggi, lemas tak berdaya.
Kondisi ini membuat orang tua Danang dan teman – teman guru cukup prihatin. Mungkin sebagaian orang yang ada disekeliling Danang ada yang tahu, yah ibunya tahu betul bahwa anaknya sakit bukan karena virus atau bakteri ataupun epidemic penyakit tertentu melainkan karena hatinya yang sakit,
Danang seakan ingin menghukum dirinya sendiri, kemauan untuk bangkit dari keterpurukan sama sekali tidak punya.
Sedangkan Ratih bersama Aris semakin berani memantapkan diri untuk menuju ke pelaminan. Kebersamaan mereka seakan sudah bisa jadi jawaban akan keseriusannya membina hubungan yang berkomitmen.
Pekerjaan Aris sekarang tambah lagi selain sebagai perwira polisi juga jadi sopir pribadi , dengan rutin antar jemput Ratih, bahkan Gatot kakak Ratih sering meledek Aris sebagai sopir bonafide. Tapi itulah yang membuat mereka semakin dekat dan Aris merasa benar – benar bersyukur karena gadis ayu yang dicintainya itu ternyata benar – benar bisa mendampinginya.
Yang kemarin perasaan Aris sempat kebat – kebit melihat kedekatan Ratih dan Danang ternyata berkat kegigihannya Ratih bisa ditaklukan hatinya.
Sekarang Ratih dan Aris mulai sibuk menghitung hari, dan persiapan – persiapan kecilpun mulai dilakukan, walau Ratih sudah berpesan untuk tidak dirayakan secara meriah, tetapi tetap namanya hajatan , apalagi hajatan pengantin yah ada saja yang dipersiapkan. Mulai dari baju, pengantin, foto prewedding, cetak undangan, sebar undangan.
Sedangkan Orang tua Ratih sendiri juga cukup sibuk, karena hajatan nanti dilaksanakan di rumah, maka Bapaknya Ratih sudah mulai panggil tukang untuk mengecat ulang dinding rumah, pagar rumah, memotong dan merapikan tanaman, lain lagi dengan ibunya, selain belanja juga sudah mendatangi tetangganya mbok Supi tukang adang dikampungnya (Tukang memasak nasi), , dan beberapa anak muda yang nantinya jadi pager ayu dan ibu – ibu muda dan bapak – bapak muda untuk menjadi penerima tamu. Hemz….kesibukan itu benat – benar sudah terlihat.
Senja itu Ratih sedang termenung di kamarnya, dia memandang keluar entah pikirannya seakan jauh masuk menembus awan tebal yang menyelimuti langit. .entah mengapa tiba – tiba dia teringat mas Danangnya. Sedang apakah dia ? tapi sebelum pikirannya mengembara tak karuan dia segera menepis bayangan Danang
. Hemz………………sepertinya akan turun hujan, guman Ratih. Sejenak dia terpaku saat mau menutup jendela, tanpa diduga dia melihat kelip bintang yang menyembul diantara awan gelap , dia termenung……………tak habis pikir, kenapa ada bintang disaat akan turun hujan.
Bintang, awan tebal, dan hujan sepertinya kok menggambarkan keadaan dirinya saat ini, Danang..Aris dan ..Aku. pikir Ratih. Danang sang Bintang itu yang tak kuasa menyinari hati Ratih karena terhalang Aris siawan tebal, dan Ratih hanya mampu meneteskan airmatanya… tak bisa berbuat apa – apa..
Hu……………………Ratih menarik nafas panjang seakan ingin melepaskan beban berat yang menindihnya, ditutupnya jendelanya bersamaan dengan suara ibunya yang memanggil namanya.
“Ratih…………….ada tamu :, suara ibu sambil mengetuk pintu kamarnya pelan
“ya bu……sebentar”. Ratih menjawab sambil menyeret langkahnya menuju pintu kamar
Tamunya ternyata perias pengantin yang ingin share tentang baju yang akan dipakai pada saat ijab kabul nanti. Ratih sempat ragu – ragu untuk melangkahkan kepastian pernikahannya dengan Aris, bayangan Danang masih setia menggelayut di relung hatinya, tak bisa diusir walau Ratih sudah berusaha dengan sekuat tenaga.
Memang harus diakui perasaan cintanya pada Danang sangat kuat, bahkan sudah mengakar sehingga hampir seluruh jaringan tubuh Ratih sudah dipenuhi dengan segala macam yang berhubungan dengan DANANG. Tapi Ratih harus tetap melangkah……..dia harus bisa menentukan sikap. Yah Aris adalah masa depannya. Dia tidak boleh lemah, harus kuat, harus dapat memegang janji ,janji untuk jadi pendamping Aris.

Diterbitkan oleh

leoniya (nining)

guru TK yang selalu ingin berbagi tentang pendidikan anak usia dini, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s